From: “Rezha” <rezha.rochadi@gmail.com>

Salaam,

Melihat jamaah Ahmadiyah yg terus menerus ‘diobok2’ secara tidak adil, saya pribadi merasa miris dan sedih. Untuk alasan itulah, saya mau berbagi pandangan saya ttg beberapa masalah pokok aqidah Ahmadiyah ini. Mungkin bisa membantu untuk mengoreksi beberapa kesalahpahaman yg beredar di masyarakat soal beberapa isu aqidah Ahmadiyah yg hendak saya jelaskan ini.

Tulisan saya ini hanya mewakili sosok MGA saja, bisa jadi berbeda dengan apa yg dipahami pihak Ahmadiyah Qadian maupun Ahmadiyah Lahore. Saya pribadi pun bukan pengikut Ahmadiyah, baik itu mahzab Lahore maupun Qadian. Tapi saya tetap mencintai mereka layaknya saya mencintai kaum muslim lain pada umumnya. Berikut sebagian rujukan yg sudah saya klarifikasi, silahkan dicek lg rujukan2 yg kupakai:

1) Permasalahan Kenabian.

Nabi secara bahasa artinya adalah ‘pembawa berita’. ‘Berita’ yg dimaksud disini adalah An-Naba’ (Berita-berita Besar). Jadi Nabi adalah istilah teknis yg khas sebagai lokus turunya An-Naba’, yaitu khazanah2 Ilmu-Ilmu Allah yang khusus.

Dan seperti yang kita tahu, berita besar itu Allah turunkan secara bertahap. Ada berita tentang pertaubatan (Nabi Adam as), berita tentang jihad (Nabi Daud as), berita tentang As-Sa’ah (Nabi Isa as), dan puncaknya adalah berita tentang kehidupan akhirat (Nabi Muhammad saw). karena ujung dr penciptaan itu akhirat, maka logis kalau Rasulullah saw adalah pembawa berita terakhir (khataman nabiyyin ).

Urusan kenabian sudah berakhir dengan turunnya Rasulullah Muhammad saw, dalilnya QS 33:40: “…tapi dia (Muhammad saw) adalah Rasul Allah, dan Khataman Nabiyyin”. Kenabian sudah berakhir karena “berita besar” (an-Naba’) yang harus dibawa nya sudah paripurna. Yaitu berita tentang akhirat (Fyi, satu2nya Nabi yang dengan detil memberitakan kehidupan alam akhirat adalah Nabi Muhammad saw) setelah itu tersampaikan berita apa lagi yg tersisa. karena itu urusan kenabian sudah berakhir.

MGA pun mengakui bahwa HANYA dan HANYA Muhammad saw lah Khatmn Nabiyyin itu, dan MGA menolak klw dirinya disebut sebagai Nabi sebagaimana yg sering dituduhkan:

“Agar menjadi jelas bagi mereka bahwa saya mengutuk orang yang mengaku sebagai nabi. Saya yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya, dan saya percaya (pada) berakhirnya kenabian pada Nabi Suci. Jadi, dari pihak saya tidak ada pengakuan sebagai nabi, hanya sebagai Wali dan Mujadid…” (Majmu’a Ishtiharat, edisi lama, jilid iii, hlm. 224. edisi 1986, jilid 2, hlm. 297-298).

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW), adalah orang yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)

“Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Khatamul Anbiya dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni seperseratus ribu dari yang itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam Khatamun Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Khatamul Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata air ini juga.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman 342)

2) Pewaris An-Naba’ melalui Ulama Pewaris Nabi atau Cerminannya Nabi (Buruzi Nabiyyin) atau Bayang-bayangnya Nabi (Zilalun Nabiyyin)

Khazanah2 An-Naba’ memang sudah selesai semua diturunkan dan ditutup oleh Muhammad saw. Tp walau sudah sekedar ‘turun’, jg belum ‘terbuka’ semua khazanahnya, ‘terbuka’ dalam arti bener2 bertajalli secara nyata. Makanya itu dibutuhkan pewaris yang mengestafetkan khazanah-khazanah An-Naba’, yaitu para Wali2 Allah..yg ‘membuka’ khzanah yg sudah trun scara lengkap itu..krn hanya ‘membuka’ dr khazanah yg sudah turun..istilah yg dipake ada ‘pewaris’ seperti dalam hadist “ulama adalah pewaris para Nabi”. Krn yg namanya ‘mewarisi’ tidak ada hal yg baru atas apa yg sudah diwariskan, hanya mengestafetkan saja, tp bukan sekedar estafet, tp mentajallikan jg scara konkret dr khazanah yg sebelumnya masih tersembunyi (walau sudah ‘turun’). Tentu pewaris khazanah (Ana-Naba’) para Nabi bukanlah Nabi itu sendiri.

Untuk menjadi pewaris dari khazanah An-Naba’ dari Nabi-Nabi tertentu itu, sang pewaris harus menjadi cermin/pantulan (buruzi) atau bayangan (zili) dari Nabi tertentu, sehingga disebutnya ‘Cerminannya Nabi’ (Buruzi Nabiyyin) atau ‘Bayang-bayangnya Nabi’ (Zilalun Nabiyyin), yang BERBEDA secara hakiki dengan Nabi itu sendiri –khazanah ini dalam tradisi Islam sudah lama dikaji, pertama kali dikaji keilmuannya secara komprehensif oleh ulama perawi hadist masyhur yg jg terkenal sebagai Ulama sufi, Imam Hakim Tirmidzi dalam kitabnya ‘Khatmn Awliya’.

Istilah buruzi dan zili Nabiyyin ini juga yang dipakai oleh MGA:

“Kenabian saya adalah zili (bayangan/pantulan) dari Nabi Suci Muhammad, bukan kenabian asli (yang nyata atau sebenarnya)” (Haqiqat-ul-Wahy hlm.150, catatan kaki; RK, jilid 22, hlm. 154)

“Nabi adalah barang nyata (asli), dan wali adalah zili” (Karamat-us-Sadiqeen, hlm. 85, RK, jilid 7, hlm. 127).

“Seluruh Umat setuju bahwa seorang non-nabi (ghair nabi) dapat menjadi (menempati maqom) seorang nabi secara buruz (bayangan/cermin). Ini adalah arti hadis: `Ulama dari Umatku seperti para nabi bangsa (bani) Israel’. Lihatlah, Nabi Suci telah menyatakan bahwa ulama seperti para nabi. Satu hadis mengatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Hadis lain mengatakan: Di antara para pengikutku, selalu akan ada
empat puluh orang yang menyerupai hati Ibrahim. Dalam hadis ini, Nabi Suci telah menyatakan mereka menyerupai/seperti Ibrahim” (Ayyam as-Sulh, hlm. 163; RK, jilid 14, hlm. 411).

Jadi, menurut Mirza Ghulam Ahmad, buruz (bayangan/cerminan) Nabi Suci Muhammad adalah seorang NON-NABI (GHAIR NABI).

Sebagai komparasi, saya kutipkan juga pernyataan yang identik dari Wali Quthb di kalangan Sunni yg sudah sangat masyhur diakui kewalian dan keilmuannya,

Syaikh Abdul Qadir Jailani juga mengatakan: “Seseorang naik sampai ia datang pada posisi tempat ia menjadi pewaris dari setiap rasul, nabi, dan siddiq” (Futuhul Ghaib, Maqalah 4, hlm. 23)

3) Al-Masih

Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, setiap Wali pewaris Nabi harus mewarisi An-Naba tertentu — yang sebelumnya dimiliki khazanahnya pada seorang Nabi. Misal Syaikh Abdul Qadir Jailani terkenal memiliki banyak sekali karomah, karena mewarisi khazanah Nabi Musa as yg memiliki banyak Mukjizat,

Untuk kasus MGA, karena beliau digelari al-Masih, maka khazanah Kenabian yg diwarisinya adalah Isawiyyah, dari Nabi Isa as. Dengan kata lain, MGA adalah cerminan (buruzi) atau bayangan (zili) dari khazanah Nabi Isa as, tapi tetap harus bersyariat penuh pada syariat yg dibawa Rasulullah saw sebagai konsekuensinya sebagai bagian dari umat Rasulullah saw.

4) Muhaddats, kaum bukan Nabi yg dimampukan berdialog langsung dengan Allah.

Rasulullah saw ber sabda, “Di antara bani Israel sebelum kalian, dulu pernah muncul orang-orang yang Tuhan berbicara kepada mereka, meskipun mereka bukan para nabi, dan bila ada seorang di antara pengikutku, ia adalah Umar”.(HR Bukhari, Bab Keutamaan Umar).

Di dalam literatur tasawuf Islam, terdapat banyak sekali catatan-catatan dialog seorang Wali Allah –yang bukan Nabi– dengan Rabbnya, tak terkecuali disini adalah catatan2 dialog MGA dengan Allah yg bisa banyak ditemukan dalam kitab-kitabnya, seperti Tadzkirah misalnya.

5) Kalau soal “al-mahdi”, menurut pendapat saya (subjektif), sih, enggak satu tetapi banyak. Istilah “al-mahdi” itu secara bahasa “yg sudah ‘ala hudan” (tetap dalam petunjuk, pen), jadi bisa siapa saja yang ‘sudah tetap diatas petunjuk’ (lihat QS [2]:5). Kalau istilah “al-mahdi al-muntadzar” atau al-mahdi yang ditunggu-tunggu (Imam Mahdi), itu baru cuman satu. Tetapi, ya, tokohnya nanti datang belakangan di akhir zaman. Saya pribadi belum menemukan pernyataan MGA langsung bahwa MDA mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi Al-Muntadzar yg akhir zaman itu, yg ada hanyalah tafsiran2 orang2 Ahmadiyahnya saja –sebagaimana yg bisa dilihat dalam situs2 mereka.

Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishowwab.

Wassalam

Rezha