Jargon itu makin sering terdengar akhir-akhir ini. Salah satu ketum parpol
menjadikan jargon itu sebagai pesan pokok iklan politiknya (meski tak mau
disebut iklan politik, dan lebih sebagai pesan moral,mungkin sebuah gambaran
ungkapan nasionalisme tulen).
Aristoteles, filsuf Yunani kuno, juga berbicara mengenai perbuatan. Hanya
agak berbeda dengan Mas Tris yang mengaku tak boleh istrinya menjadi capres
ini, bagi Aristoteles perbuatan dibedakan dari tindakan. Perbuatan (poiesis)
adalah sesuatu yang dilakukan demi suatu capaian di luar perbuatan itu
sendiri. Dalam poiesis yang penting adalah hasilnya, bukan pekerjaan atau
proses yang menghasilkan output. Filsuf seperti Marcuse atau Habermas
mungkin menyebutnya hasil dari rasio instrumental.
Sedangkan tindakan (praxis) oleh Aristoteles diibaratkannya dengan orang
main seruling. Ini dilakukan karena senang memainkan seruling, bukan
lantaran mau mencapai sesuatu di luar permainan seruling. Singkatnya praxis
adalah tindakan yang bernilai pada dirinya sendiri.
Aristoteles mengimbuhi, praxis yang terpenting adalah partisipasi dalam
komunitas (politik).
Saya tidak tahu apakah pemikiran Aristoteles ini relevan atau tidak. Hanya
saja, menyimak betapa ngebetnya para calon pemimpin (yang rasanya pada
kelewat pede ini), definisi Aristoteles tetap bermanfaat.
Minimal Mas Tris (senang disebut “mas” karena kini trendnya orang muda yang
pantas memimpin…..) masih cukup waktu mempertimbangkan pikiran
Aristoteles, atau perusahaan iklan yang disewanya (yang setahu saya
pemiliknya sangat canggih dalam ilmu politik) memperhitungkan ini.
Apakah perbuatan yang dimaksud adalah tindakan? bisa jadi ini masalah diksi.
Tapi jika diisengi, bukankah menjadi sangat jamak jika di belakang perbuatan
lebih mudah diimbuhi kata-kata tak senonoh lalu menjadi keranjang sampah?
misalnya perbuatan senonoh, seronok, tak terpuji, dll……
Sedangkan tindakan lebih bermakna aktif, positif, karena ada pengandaian
pemakaian kesadaran, proses berpikir, ada refleksi dan keputusan, bukan
sekedar sesuatu yang spontan seperti perbuatan.
Boleh jadi saya keliru. Tapi memperhatikan tingkah polah politisi kita saat
ini memang asyik. Ketidakpahaman dan kedangkalan dipertontonkan dengan
telanjang dan hanya menjadi cermin wajah Indonesia saat ini, miskin pemikir,
kebanyakan penzikir (baca:orang-orang religius), dan inflasi avonturir.
Selamat merayakan Pancasila sakti, meski yang sakti kini bukan Pancasila,
tapi Mentari.
Pantas saja teman2 AKBB digebuki oleh FPI…….

Ada yang lolos dari proyek kenaikan harga BBM, sebuah exit strategy atau
semacam “janji”. Kita sebatas bicara optimis (bahkan Anies Baswedan
mengulang-ulang kata ini dalam berbagai kesempatan). optimisme berbeda
dengan harapan. Bahkan dalam pesimisme, kita tetap dapat berharap. Harapan
memiliki dimensi metafisis, ada void, kekosongan yang justru di sanalah
kekuatannya. Ia ibarat surga bagi orang beragama, yang perlu ada agar
pengharapan tidak pingsan.

Tak ada mimpi pada pemimpin kita. Agaknya dosa terbesar Orde Baru dan
Suharto pertama-tama bukan KKN dan pelanggaran HAM/Hukum, melainkan
pembunuhan daya imajinasi bangsa Indonesia. Kini kita menuai hasilnya. Daya
kreatif menghilang. Jika pun iklan “Hidup adalah Perbuatan” disebut kreatif,
ia kreatif pada tataran tampilan, kemasan, slogan, tapi sesungguhnya sangat
kosong visi, karena persis di awalnya terjadi cacat teoritik.
Mirip pula slogan baru yang digaungkan sembari menginjak-injak keperawanan
rumput senayan: Indonesia bisa. Bisa apa? tidak tahu ( embuh, kalau menurut
Amien Rais), silahkan diisi sendiri sesuka hati.
ini bukan harapan, tapi kemalasan berpikir.
Kita masih sebatas disuguhi jargon kosong yang miskin substansi.
Sungguh lelah memikirkan karut marut pimpinan negeri ini.

Atau lebih baik kita menelaah foto “setengah” asusila dari Max Moein.
Aduh…..
Besok giliran siapa dan mengapa?
Entah. karena kita masih sering menganggap kekuasaan itu “ada di sana”, dan
tak sadar jika kita diam2 disusupi melalui kapiler-kapiler lembut, aneka
seduksi yang menggerus batang kesadaran untuk pada suatu ketika akan
menghegemoni kita untuk mengatakan iya pada kedangkalan dan kerancuan.
Semoga nasionalisme tidak lantas secara latah dimaknai sebagai bentuk
eskapisme dari tantangan berpikir dan merumuskan secara baru proyek
keindonesiaan ini. entah……

salam,

pras