*Fatwa ttg Kesesatan Hizbut Tahrir (I)*
Penulis: Syaikh Al Albani
Firqoh-Firqoh, 01 Juli 2003, 04:11:53
Pada suatu kesempatan ada dua pertanyaan yang keduanya bertemu pada satu
titik berkenaan dengan Hizbut Tahrir (selanjutnya disingkat HT).

Pertanyaan Yang Pertama :

Saya banyak membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya kagum terhadap banyak
pemikiran-pemikiran mereka, saya ingin Anda menjelaskan atau memberikan
faedah pada kami dengan penjelasan yang ringkas tentang Hizbut Tahrir ini.

Pertanyaan Yang Kedua :

Sehubungan dengan permasalahan- permasalahan tadi akan tetapi si penanya
menghendaki dariku penjelasan yang sangat luas tentang Hizbut Tahrir,
sasaran, atau tujuan-tujuannya, serta pemikiran-pemikiran nya, dan apakah
semua sisi negatifnya merembet ke dalam permasalahan akidah?

Saya (Syaikh Al Albani) menjawab atas dua pertanyaan tadi :

Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari
perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah
(Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta di
atas manhaj (jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada
dalam kesesatan yang nyata! Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb)
apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur’an, Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka
akan berakibat atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu
(dalam dakwahnya) ikhlas.

Pembahasan saya kali ini tentang golongan-golongan Islamiyah yang mereka
semua harus ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menginginkan nasehat
kebaikan bagi umat sebagaimana dalam hadits yang shahih :

“Agama itu adalah nasehat”, kami (para shahabat) berkata : “Bagi siapa ya
Rasulullah?” (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) bersabda : “Bagi
Allah dan bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi Imam-Imam kaum Muslimin, dan
mereka (kaum Muslimin) pada umumnya.” (Imam Muslim menyendiri dalam lafadz
hadits hadits ini dari hadits Tamim Ad Dari)

Karena Allah telah berfirman dalam Al Qur’an tentang permasalahan ini :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut : 69)

Maka barangsiapa yang jihadnya karena Allah ‘Azza wa Jalla dan berdasarkan
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta di atas
manhaj Salafus Shalih merekalah orang-orang yang dimaksud dalam ayat :

“Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu.” (QS.
Muhammad : 7)

Manhaj Salafus Shalih ini adalah dasar yang agung maka dakwah setiap
golongan kaum Muslimin harus berada di atasnya. Berdasarkan pengetahuan
saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya
berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang
ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh.

Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada
manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.

Dan saya (Al Albani) tidak menyebut satu jamaah tadi sebuah hizb (sekte)
karena mereka tidak berkelompok dan tidak berpecah belah serta tidak fanatik
kecuali kepada Kitabullah, Sunnah Rasul, dan manhaj Salafus Shalih, dan
sungguh saya tahu persis tentang hal ini. Dan akan lebih jelas bagi kita
semua betapa pentingnya dasar yang ketiga ini dalam kaitannya dengan nash
syar’i yang dinukil dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam baik yang
berhubungan dengan Al Qur’an maupun As Sunnah.

Pada kenyataannya, jamaah-jamaah Islamiyah sekarang ini, demikian pula
kelompok-kelompok Islamiyah sejak awal munculnya penyimpangan terus
merajalela serta menampakkan taringnya di antara jamaah-jamaah Islamiyah
yang pertama (yaitu mulai timbulnya Khawarij) pada masa Amirul Mukminin Ali
bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, kemudian sejak mulainya Jaad bin Dirham
mendakwahkan (pemikiran) Mu’tazilah dan sejak munculnya firqah-firqah yang
dikenal nama-namanya di zaman dulu serta berhubungan dengan wajah-wajah baru
di zaman sekarang dengan nama-nama yang baru pula. Mereka itu baik yang dulu
maupun yang sekarang tidak terdapat padanya perbedaan, tak satupun di antara
mereka yang menyatakan dan mengumandangkan bahwasanya mereka di atas manhaj
Salafus Shalih.

Semua kelompok-kelompok ini dengan perselisihan yang ada pada mereka, baik
dalam masalah akidah, dasar-dasar atau permasalahan- permasalahan hukum dan
furu’ (cabang-cabang) , semuanya menyatakan berada di atas Kitab dan Sunnah,
akan tetapi mereka berbeda dengan kita, karena mereka tidak mengatakan apa
yang kita katakan, yang perkataan itu merupakan kesempurnaan dakwah kita.
Yakni (perkataan) berada di atas manhaj Salafus Shalih.

Maka atas dasar ini, siapa yang menghukumi golongan-golongan ini, yang
mereka semua ber-intima’ (menisbatkan diri) walaupun minimal secara
perkataan bahwa dakwahnya di atas Kitab dan Sunnah, dan bagaimana hukum yang
pasti (tentang mereka), karena mereka semua mengatakan dengan perkataan yang
sama?

Jawabannya, tidak ada jalan untuk menghukumi golongan-golongan di antara
mereka bahwa mereka di atas yang haq (benar), kecuali apabila dibangun di
atas manhaj Salafus Shalih. Sekarang pada diri kita timbul satu pertanyaan :
“Dari mana (atas dasar apa, pent.) kita mendatangkan manhaj Salafus Shalih?”

Jawabannya, sesungguhnya kita mendatangkan dasar yang ketiga ini dari
Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan
sebagaimana yang telah ditempuh oleh Imam-Imam Salaf dari kalangan shahabat
dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah
seperti halnya yang mereka katakan saat ini. Dalil yang pertama adalah
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan selain jalannya orang-orang Mukmin, Kami palingkan dia
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang Mukmin”)) dihubungkan dengan firman Allah ((“Dan barangsiapa
menentang Rasul”)). Maka seandainya ayat ini berbunyi ((“Dan barangsiapa
yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami palingkan dia
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali”)) yakni tanpa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”)) niscaya ayat
ini menunjukkan kebenaran dakwah golongan-golongan dari kelompok-kelompok
tadi baik yang di zaman dahulu maupun yang sekarang ini, karena mereka
mengatakan kami di atas Kitab dan Sunnah. Mereka tidak mengembalikan
permasalahan- permasalahan yang mereka perselisihkan kepada Kitab dan Sunnah,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

” … kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa : 59)

Apabila Anda mengajak (berdakwah) kepada salah satu dari jumhur ulama mereka
dan salah satu dari da’i mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka mereka akan berkata, “Saya mengikuti
madzhabku”, yang lain menyatakan, “madzhabku adalah Hanafi”, yang lain
menyatakan, “madzhabku adalah Syafi’i”, dan seterusnya.

Mereka taqlid kepada Imam-Imam mereka sebagaimana mereka mengikuti
Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka apakah benar
mereka mengamalkan ayat ini? Tidak sama sekali dan sekali-kali tidak. Oleh
sebab itu apa faedahnya pengakuan mereka bahwasanya mereka di atas Kitab dan
Sunnah selama mereka tidak mengamalkan keduanya.

Dari contoh ini, tidaklah saya menghendaki untuk orang-orang yang taqlid
(awam, pent.) dari mereka, akan tetapi yang aku kehendaki dengannya adalah
para da’i Islam yang seharusnya tidak menjadi orang yang taqlid belaka, yang
mengutamakan pendapat para Imam yang tidak ma’shum keadaannya.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menyebutkan kalimat di pertengahan
ayat tadi secara sia-sia, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan
dengannya menanamkan satu pokok yang sangat penting, suatu patokan yang
sangat kokoh yaitu tidak boleh kita semata-mata bersandar pada akal dalam
memahami Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam.

Kaum Muslimin hanyalah dikatakan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah baik
secara pokok-pokoknya dan patokan-patokannya, apabila di samping berpegang
pada Al Qur’an dan Sunnah, mereka juga berpegang dengan apa yang ditempuh
oleh Salafus Shalih. Karena ayat di atas mengandung nash yang jelas tentang
dilarangnya kita menyelisihi jalannya para shahabat.

Artinya wajib bagi kita mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
dan tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita
untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya. Dari
sini kita menyatakan bahwa wajib atas tiap golongan/kelompok/ jamaah
Islamiyah untuk memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar
kepada Al Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih.

Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang
ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.
Sedangkan kelompok-kelompok yang mengumandangkan perang dengan Islam seperti
partai Baats dan partai komunis, maka mereka tidak (masuk) dalam pembicaraan
kita sekarang ini.

Oleh karena itu seyogyanya seorang Muslim dan Muslimah hendaknya mengetahui
bahwa suatu garis kalau sudah bengkok pada awalnya (pangkalnya) maka akan
semakin jauh dari garis yang lurus. Dan setiap ia melangkahkan kakinya akan
semakin bertambahlah penyelewengannya. Maka jelas yang lurus adalah
sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ayat Al
Qur’an :

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am : 153)

Ayat yang mulia ini jelas Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan)
sebagaimana disukai dan biasa diucapkan oleh Hizbut Tahrir dan sekte-sekte
lain dalam dakwahnya, tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya. Dalil yang
Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan) , karena ayat ini menyatakan :
“Sesungguhnya jalan yang bisa menuju pada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
satu, dan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang menjauhkan kaum
Muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menambahkan keterangan dan
penjelasan terhadap ayat ini sebagaimana keberadaan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam itu sendiri (menjelaskan dan menerangkan Al
Qur’an, pent.). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al Qur’anul
Karim kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An Nahl : 44)

Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah penjelas yang sempurna
terhadap Al Qur’an, sedangkan Al Qur’an adalah asal peraturan/undang- undang
dalam Islam. Untuk memperjelas suatu permasalahan pada kita agar lebih mudah
untuk dipahami, saya (Syaikh Al Albani) berkata : “Al Qur’an bila
diibaratkan dengan sistem peraturan buatan manusia adalah seperti
undang-undang dasar dan As Sunnah bila diibaratkan dengan sistem peraturan
buatan manusia adalah seperti penjelasan terhadap undang-undang dasar
tersebut.”

Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang
pasti bahwa tidak mungkin bisa memahami Al Qur’an kecuali dengan penjelasan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan ini adalah perkara yang telah
disepakati.

Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum Muslimin sehingga menimbulkan
berbagai pengaruh setelahnya yaitu bahwa semua firqah sesat dahulu tidak mau
memperhatikan dasar yang ketiga ini yaitu mengikuti Salafus Shalih, maka
mereka menyelisihi ayat yang aku sebutkan berulang-ulang :

” … dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang Mukmin.” (QS. An
Nisa : 115)

Mereka menyelisihi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah satu yaitu sebagaimana yang disebut dalam ayat
terdahulu :

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am : 153)

Saya (Syaikh Al Albani) berpendapat, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam menambahkan penjelasan dan keterangan pada ayat ini dari riwayat
salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang
terkenal faqih (fahamnya terhadap dien) yaitu Abdullah Ibnu Mas’ud
radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengatakan :

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membuat satu garis
untuk kami, sebuah garis lurus dengan tangan beliau di tanah, kemudian
beliau menggaris disekitar garis lurus itu garis-garis pendek. Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan (menunjuk) pada
garis yang lurus dan beliau membaca ayat (yang artinya : “Dan bahwa (yang
Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya”.

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sambil menunjuk jarinya
pada garis lurus, “ini adalah jalan Allah”, kemudian menunjuk pada
garis-garis yang pendek di sekitarnya (kanan-kirinya) dan bersabda, “ini
adalah jalan-jalan dan pada setiap pangkal jalan itu ada syaithan yang
menyeru manusia padanya.”

Hadits ini ditafsirkan dengan hadits lain yang telah diriwayatkan oleh Ahlus
Sunan seperti Abu Dawud, Tirmidzi, dan selain dari keduanya dari Imam-Imam
Ahlul Hadits dengan jalan yang banyak dari kalangan para shahabat seperti
Abu Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik, dan yang selainnya dengan sanad yang
jayyid. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72
golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan,
semuanya ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para shahabat) bertanya :
“Siapa dia ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda
: “Dia adalah apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya.”

Hadits ini menjelaskan kepada kita jalannya kaum Mukminin yang disebut dalam
ayat tadi. Siapakah orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam ayat itu?
Meraka itulah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
pada hadits Al Firaq, ketika beliau ditanya tentang Firqatun Najiah
(golongan yang selamat), manhaj, sifat, dan titik tolaknya. Maka Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “apa yang aku dan para shahabatku
berada di atasnya.”

Maka jawaban ini wajib diperhatikan, karena merupakan jawaban dari
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Jika bukan wahyu dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala maka itu adalah tafsir dari Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam terhadap jalannya orang-orang Mukmin yang terdapat pada
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah sesudah jelas kebenaran baginya
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin.”

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan jalannya orang-orang Mukmin. Sementara itu
(dalam hadits, pent.) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan
tanda Firqatun Najiah yang tidak termasuk 72 golongan yang binasa.
Sesungguhnya Firqatun Najiah adalah golongan yang berdiri di atas apa yang
ada pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat.

Maka pada hadits ini kita akan dapati apa yang kita dapati pula dalam ayat.
Sebagaimana ayat tidak membatasi penyebutan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam saja, demikian pula hadits tidak membatasi penyebutan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saja. Di samping itu ayat juga menyebutkan
jalannya orang-orang Mukmin demikian pula dalam hadits terdapat penyebutan
“shahabat Nabi” maka bertemulah hadits dengan Al Qur’an. Oleh sebab itu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat
selama berpegang teguh dengan keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnahku dan
tidaklah terpisah keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah) sampai keduanya datang
kepadaku di Haudl.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatha’-nya, Al Hakim
dalam Mustadrak-nya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’
hadits nomor 2937)

Banyak golongan-golongan terdahulu maupun sekarang yang tidak berdiri di
atas dasar yang ketiga ini sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an
dan Hadits. Pada hadits di atas disebutkan tanda golongan yang selamat yaitu
yang berada di atas apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dan para shahabatnya. Semakna dengan hadits ini adalah hadits Irbadl
ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu yang termasuk salah satu shahabat Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari kalangan Ahlus Shufah, yakni mereka dari
kalangan fuqara’ yang tetap berada di Masjid dan menghadiri halaqah-halaqah
(majelis taklim) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam secara langsung
dan bersih. Berkata Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi nasehat kepada kami yang
membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang (karena terharu).
Kami berkata : “Ya Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka
berilah kami wasiat.” Maka beliau bersabda : “Aku wasiatkan kepada kamu
sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan senantiasa
mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak.
Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan
melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian
berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat
petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham
kalian, dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan
agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah. Dan
setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.” (HR. Abu Dawud,
Tirmidzi. Berkata Tirmidzi, hadits ini hasan) Hadits ini merupakan (penguat)
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak membatasi perintahnya
kepada umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnahnya saja ketika mereka
berselisih akan tetapi beliau menjawab dengan uslub/cara bijaksana, dan
siapa yang lebih bijaksana dari beliau setelah Allah? Oleh sebab itu tatkala
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa di antara kalian yang hidup (berumur panjang) setelahku maka
dia akan melihat perselisihan yang banyak.”

Beliau juga memberikan jawaban dari soal yang mungkin akan muncul
(dipertanyakan) : “Apa yang kita lakukan ketika itu wahai Rasulullah?” Maka
Rasulullah menjawab : “Wajib atas kalian mengikuti sunnahku.” Dan Rasulullah
tidak mencukupkan perintahnya terhadap mereka yang hidup pada waktu terjadi
perselisihan dengan hanya mengikuti sunnah beliau, akan tetapi
menggabungkannya dengan sabda beliau :

” … dan sunnahnya Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.”

Jika demikian halnya, maka seorang Muslim yang menginginkan kebaikan pada
dirinya dalam masalah akidah, dia harus kembali pada jalannya orang-orang
Mukmin (para shahabat) bersama dengan Kitab (Al Qur’an dan As Sunnah) yang
shahih dengan dalil ayat dan hadits Al Firaq (perpecahan) serta hadits dari
Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu.

Inilah kenyataan yang ada dan sangat disesalkan bahwasanya hal ini banyak
dilalaikan oleh semua hizbi-hizbi/ sekte-sekte Islamiyah masa sekarang ini
sebagaimana keberadaan firqah-firqah yang sesat, khususnya kelompok Hizbut
Tahrir yang berbeda dengan sekte-sekte lainnya di mana Hizbut Tahrir dalam
melaksanakan Islam menggunakan akal manusia sebagai tolok ukurnya.
(Bersambung ke vol. II)