Robertus Robet

Kandidat Doktor Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Struktur kekuasaan Indonesia kontemporer didominasi oleh persilangan dua logika dasar: pertama, ekonomi kapitalis yang makin telanjang di satu sisi, dan kedua, gaya hidup beragama yang makin marak di sisi yang lain. Hasil dari persilangan ini adalah suatu bangunan imperatif yang akan berbunyi: “Nikmati kapitalisme sepuas-puasnya, tapi beragamalah sedalam-dalamnya. ”
Secara behavioralis, kombinasi ini ditunjukkan dalam postur pemerintahan sekarang, yang didominasi para saudagar, ekonom anjuran IMF di satu sisi berdampingan dengan para politisi dari partai agama dengan ide anti-Barat yang relatif kencang di sisi yang lain. Di wilayah lain, secara kultural, kenyataan ini dikonfirmasikan melalui pujian Presiden terhadap film Ayat-ayat Cinta yang laris itu. Film yang menggambarkan secara persis kombinasi logika kapitalisme (nikmati dunia/cinta romantik sebesar-besarnya) di satu sisi dan gaya beragama di sisi lain. Bagaimana perselingkuhan logika kapitalisme dan agama ini dijelaskan?
Perselingkuhan kapitalisme dan agama sudah berlangsung sejak lama dan menjadi perhatian dari berbagai pemikir. Menurut Weber, Protestanisme mengajarkan “Bekerjalah sekuat tenaga, tapi nikmati hasilnya sesedikit mungkin.” Summum Bonum dari etika ini dijabarkan Weber dengan “the earning of more and more money, combined with the strict avoidance of all spontaneous enjoyment of life” (Weber, 1968 dalam Lemert, hlm. 100). Ini yang disebutnya dengan Asketisisme Protestan yang merupakan inti logika kapitalisme. Di sini kerja, penikmatan dunia, dan agama berkorelasi. Walau demikian, di dalam Weber, korelasi itu berjalan secara terbalik: maksimalitas kapitalisme hanya mungkin direguk apabila diikuti dengan represi atas penikmatannya. Di sini represi atas kenikmatan bukan hanya memberikan efek akumulasi bagi kapital, tapi sekaligus juga memberikan aura transendental terhadap kapitalisme.
Sebelumnya, di dalam Marx, kombinasi kerja dan kenikmatan ini dipisahkan dalam jurang antagonisme kelas. Kerja identik dengan kelas buruh yang terdegradasi hidupnya, sementara kenikmatan (yang merupakan implikasi dari kerja buruh) direguk sebagai pampasan dan dinikmati secara monopolistik oleh kelas kapitalis. Akibatnya, logika yang berlaku di sini adalah “buruh bekerja sekuat-kuatnya, pemilik modal menikmati sepuas-puasnya” . Sebagai kompensasi dari proses perampasan ini sekaligus sebagai jembatan dari jurang antagonisme itu diproduksi ideologi entah dalam bentuk agama-agama, atau bisa juga dalam bentuk seni-budaya. Dengan demikian, apabila di dalam Weber agama didefinisikan dalam hubungan yang transendental terhadap kapitalisme, di dalam Marx agama didefinisikan bersifat instrumental terhadap kapitalisme.
Walaupun demikian, meski berbeda dalam hal sudut pandang, di sini penalaran Weber dan Marx secara menarik bisa bertemu dalam suatu hubungan pendek: keduanya sama-sama melihat bahwa agama memiliki hubungan fungsional terhadap kerja kapitalisme. Bedanya, pada Weber hubungan itu didefinisikan dan dirayakan secara positif, sementara pada Marx dikritik dan didefinisikan sebagai negatif.
Lepas dari daya tarik dan akurasi analisis dari kedua pemikir di atas, logika ideologi kapitalisme kontemporer beroperasi secara sangat berbeda dan lebih kompleks jika dibandingkan dengan kapitalisme industri awal. Apabila pada Weber, kerja atau penderitaan didahulukan sebagai prasyarat bagi kenikmatan, maka kapitalisme sekarang justru bekerja dengan terlebih dulu menganjurkan kenikmatan, baru kemudian menandaskan kewajiban kerja. Ini yang di dalam filosofi Lacanian diringkas dalam satu kata: ENJOY! yang kebetulan merupakan petikan dari salah satu ujung tombak simbol komoditas global kapitalis paling dahsyat zaman kita, Coca-Cola. Nikmati, tapi nikmati dalam perintah.
Di dalam Lacan, mekanisme ini dijelaskan melalui konsep jouissance. Jouissance sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai enjoyment, akibatnya sering kali salah dimengerti karena diartikan semata-mata sebagai kenikmatan. Padahal, menurut Lacan, jouissance pertama-tama harus dilihat sebagai ekses dan kehilangan akibat tercerainya persatuan ibu-anak setelah anak mulai membentuk atau menemukan egonya. Jouissance adalah kenikmatan yang dicari sekaligus digerakkan sebagai kompensasi dari kehilangan permanen kenikmatan asali anak dalam kandungan ibu. Dengan demikian, jouissance adalah kenikmatan, tapi kenikmatan akibat kehilangan. Karenanya, di dalamnya sekaligus ada rasa sakit.
Dengan demikian, di sini kenikmatan itu dicari, ditemukan, tapi dengan segera hilang. Manusia hidup, tumbuh, dan dewasa dalam siklus hasrat-kehilangan ini. Kenyataan ini menghasilkan suatu kesimpulan yang fundamental, yakni bahwa dengan itu manusia tidak lebih adalah sebuah bidang kosong. Ia mencari, menemukan, sejenak merasa puas untuk kemudian kecewa lalu mencari-cari lagi. Persis ketika orang minum Coca-Cola, diminum, segar sejenak, untuk kemudian semakin merasa haus menjadi-jadi.
Logika jouissance ini secara tepat menjelaskan korelasi atau hubungan pendek antara logika kapital dan logika cara beragama kontemporer. Sementara pada kapitalisme yang bekerja adalah logika “semakin untung digandakan, bukan semakin cukup si kapitalis, justru semakin kurang dan semakin serakah mereka”. Logika yang sama terjadi di dalam cara beragama modern: “semakin perintah dan larangan dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin membuncah gelisah dalam rasa dosa dan bersalah”. Di sini baik kapitalisme maupun agama sama-sama bekerja dengan ambisi memimpin dan mengisi ruang kosong permanen subyek itu.
Akibatnya, pergeseran dalam sistem komando mental (super ego) menjadi tidak terhindarkan: yang semula ditafsirkan dan bersifat menjaga dan menghalangi hasrat berubah justru menjadi pendorong hasrat. Pada mulanya ia memerintah dengan “melarang”, berubah menjadi memerintah dengan membujuk, menganjurkan dan merayu. Contoh yang paling unik dan halus dari mekanisme ini bisa ditemukan dalam beragam komoditas baru yang menawarkan kenikmatan sekaligus pengamannya: Coca-Cola tanpa coke, kopi tanpa kafein, bir tanpa alkohol, perang tanpa perang, poligami tanpa poligami. Semuanya searah dengan mekanisme politik kepura-puraan baru seperti perang tanpa perang, neoliberalisme berbarengan dengan paket kesalehan. Di titik ini, hasil akhirnya adalah surplus modal berubah menjadi surplus kenikmatan. Reproduksi surplus ini yang terus dipertahankan, karena dari sinilah kekosongan baru ditangguk supaya bujukan komoditifikasi bisa terus disuguhkan.
Persilangan mental semacam inilah yang kiranya menjadi modus operandi perilaku politik dan sosial. Ini bisa dilihat secara makin jelas dalam berbagai fenomena kepolitikan belakangan ini, seperti berkolaborasinya politik agama dengan unsur infotainment dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah, bahkan pada propaganda politik di tingkat nasional. Ini pula yang kiranya dibaca dan dijadikan rujukan bagi orang-orang di seputar kepemimpinan politik imagologis Yudhoyono yang mendorongnya untuk setelah menonton film Ayat-ayat Cinta merasa perlu menonton lagi film Kun Fayakuun. Di sini bioskop yang sebelumnya bagi kalangan tertentu sering kali diharamkan– karena identik dengan tempat hiburan–justru jadi tempat “pensucian” yang diharapkan dapat mendatangkan simpati politik dan dukungan.

Koran Tempo