Kawan-kawan yang budiman,

Ceramah mutakhir Prof. emeritus Bernard Lewis (Princeton University), mungkin bermanfaat bagi yang tertarik isu-isu Orientalisme dan “Middle Eastern and Islamic Studies”.

http://www.asmeasch olars.org/ ASMEAConferenceH ighlights/ tabid/820/ Default.aspx

Beberapa komentar singkat dari ceramah singkatnya itu,

1). Orang Arab/Islam/Turki tidak tertarik dengan peradaban lain, berbeda dengan para Orientalist Eropa. Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab (Turki termasuk) tidak melakukan kajian-kajian luar Peradaban (kecuali penerjamahan filsafat Greek yang kemudian sangat membantu transmisi), dan juga tidak tertarik belajar tentang bahasa dan peradaban yang mereka kuasai (Afrika, Eropa, Asia).

2). Bahasa Arab berkembang semata-mata sebagai bahasa klasikal dan skriptural, seperti halnya Hebrew dan Aramaic, bukan sebagai ‘bahasa modern”, sehingga perkembangannya terbatas, tidak melampaui sebagai bahasa klasik dan skriptural, dan tidak mempengaruhi ilmu pengetahuan modern.

3). Menurut Lewis, ada beberapa hambatan terhadap perkembangan Studi Timur Tengah antara lain: a. postmodernism b. political correctness dan imposed orthodoxies, sehingga kajian Islam yang obyektif tidak berkembang c. multiculturalism

4). Lewis kembali melakukan kritik balik terhadap “Orientalism” ala Edward Said sebagai semata-mata bermotifkan imperialist. Menurut Lewis,Orientalism justru berperan dalam preservasi pengetahuan bangsa lain, penerjemahan, editing, publishing, dan sebagainya. Ada macam-macam Orientalism: philological, theological (classical Orientalism: ada manfaat dan keterbatasan) , polemical (mempertahankan Kristen atas ancaman Islam), indisciplinary approaches (historican, political scientist, etc).

5) Lewis melihat adanya kecenderungan clash of disciplines (historical, political science, theology, etc), padahal mestinya menurut dia harus ada mutual recognition atau (menurut saya “rich fertilization” ).

6). Namun demikian, saya kira, Lewis masih melihat dikotomi Arab/Islam/Turki Usmani dan Erope/Barat sebagai berbeda secara diametral. Sejarah menunjukan kondisi diametral itu. Ada “karakter” historis bangsa Arab yang menyebabkan perkembangan kajian di dunia Arab tidak maju, berbeda dengan bangsa Eropa dan sekarang AS.

7). Lewis kurang/tidak mengakui kompleksitas dunia Islam di masa modern, dan masih melihatnya sebagai identik dengan the Arab world; Lewis tidak menyentuh perkembangan di luar the Middle East, seperti Asia (termasuk Asia Tenggara). Banyak pengkaji dari Asia Tenggara mulai memberikan perhatian terhadap Middle East, Eropa, dan Amerika, sehingga interaksi peradaban makin berkembang, dan dikotomi Timur-Barat mengalami pengaburan yang cukup berarti dalam tradisi ilmiyah.

8). Pendapat Lewis ini “melengkapi” pendapat postmodernist seperti Edward Said, seperti kita tahu. Ada semacam self-reflection dalam ceramah Lewis mengenai Orientalism dan kritik terhadap pembacaan post-modernist seperti Said yang melihat Orientalism semata-mata berkonotasi dominasi. Namun, tesis inti Lewis masih tetap: antagonisme bangsa dan perabadan Arab (yang identik dengan Islam) dan bangsa/peradaban Eropa (identik dengan Judeo-Christianity)

Selamat mencermati dan berpikir,

Salam,