Sukabumi, akhir April 2008, serombongan orang menyerang dan merusak masjid
dan komunitas Ahmadiyah. Main hakim sendiri dan anarkhisme di dalam negara
yang memiliki konstitusi jelas, memperlihatkan ketidak mampuan penyelenggara
negara dalam menegakkan konstitusinya sebagai negara sekuler.

Perbedaan dengan sekelompok orang, tidak berarti memberi legitimasi
menghakimi apalagi menghukum dan bertindak anarkhis. Saya khawatir,
anarkhisme menggejala disegala segi kehidupan bangsa ini. Mulai dari hal
kecil, senggolan lalulintas, sampai pilkada atau apapun yang pada dasarnya
bentuk pemaksaan kehendak. Anarkhis yang merasuk ke dalam agama selalu
bermula dari perbedaan pemahaman, yang masih memerlukan argumentasi yang
panjang.

Kenapa jadi anarkhis? Apakah bangsa ini sudah sedemikian kerdilnya, seperti
anak kecil yang marah kalau terusik? Apakah menjadi anarkhis karena tidak
punya nurani? Apakah menjadi anarkhis karena ingin melanggar aturan? Atau
apakah menjadi anarkhis karena tidak menggunakan pikiran? Lebih mendasar dan
yang paling parah adalah bangsa ini sejak kecil tidak dididik untuk
berargumentasi, sehingga setiap masalah diselesaikan dengan otot bukan
dengan otak.

Jangan sampai kita sengaja di “isengi” oleh bangsa lain untuk memancing
kemarahan kita, yang kemudian mereka tertawa dibalik itu. Seperti hal nya
kita diusik masalah Reog Ponorogo yang membangkitkan kemarahan luar biasa
sampai demo ke Kedutaan Malaysia. Alangkah indahnya jika dari kecil
anak-anak mulai dididik untuk berargumentasi, sehingga lebih mendahulukan
otak dan kalau marah pun akan marah secara proposional. Semoga.

Salam