Ass. Wr. Wb.

problem kita belakangan
ini adalah pengkotak-kotakan. Dan, paling nggak enak
kalau pengkotak-kotakan itu, “hanya” disebabkan
istilah. Karena itu, kenapa kita tidak menggunakan
nama “Islam” saja? Liberal, fundamentalis, demokrat
atau apapun watak yang mau kita pilih dari “Islam” itu
kan penafsiran masing-masing orang, masing-masing
kelompok, masing-masing mazhab. Pada intinya, Islam
itu watak dasarnya adalah sosialis (ini kata Cak Nur,
lho..kalau saya nggak salah ingat. Dan rasanya kalau
mempelajari ajarannya sih, iya). Liberal, itu kan
terkandung maksud/keinginan/pilihan komunitas
ini…didasari perasaan miris melihat politisasi agama
dan mengentalnya sikap sebagian orang Islam yang
mengusung bendera agama, sehingga menyebut dirinya,
atau dapat sebutan: Islam militan atau Islam
fundamentalis.

Membuat dikotomi Islam Liberal dengan Islam
Fundamentalis, juga akan menguntungkan pihak-pihak
yang menganggap hanya kepada dirinyalah bangsa kita
menggantungkan diri untuk kehidupan berbangsa yang
plural. Padahal, saya yakin bahwa mayoritas bangsa
ini cinta kemajemukan dan tidak ingin siapapun, orang
Islam maupun non-Islam, mengetengahkan kehidupan yang
dogmatis, apalagi menjadikannya policy publik.

Kalau kita menggunakan istilah Islam saja, saya
berharap milis ini menghasilkan secara evolusi,
pemahaman Islam yang sebenar-benarnya. Meluruskan yang
selama ini bengkok-bengkok. Bukan yang dibauri oleh
nilai budaya, Arab, misalnya. Ada banyak contoh,
misalnya, di mana hukum Islam mengatur sangat baik
hal-hal yang sulit diatur dalam hukum pidana sipil,
pula perdata.

Tapi, ini kan pendapat saya pribadi.
Ha..ha..ha. saya tak tahan untuk tidak berkomentar.
Karena pada dasarnya saya ini gampang terusik..dan
penasaran. Habis ini saya bisa punya hobi baru,
membongkar-bongkar buku tentang Islam dan
sejarahnya…

Wassalam,