1. persoalan istilah “Islam liberal”, yang oleh uni dinilai eksklusif dan
mengarah ke arah pengkotak-kotakan, sebenarnya kembali mengingatkan kita
pada refleksi harian tokoh Islam liberal kita, Ahmad wahib. ya, karena
selama ini kita hanya tahu islam menurut Abduh, Islam menurut Cak nur, Islam
menurut bla..bla..bla. Tapi, ketika wahib ingin tahu Islam menurut
pemahamannya sendiri, ia pun akhirnya berkata: “itu kan juga Islam menurut
saya (wahib)”. Dalam konteks inilah kita meletakkan pemikiran liberal dalam
Islam, yang oleh Kurzman disebut “liberal islam”. hanya saja,

2. Islam Liberal hanya liberal dalam pembacaannya terhadap teks dan wacana.
Tapi, maaf, tidak liberatif terhadap yang tertindas. malah sebaliknya,
cenderung menindas yang tertindas, dengan tawaran wacanaa yang sama sekali
disconnect dengan wacana rakyat tertindas. Gus Dur itu, dalam kategori Greg
Barton adalah tokoh kelas wahid Islam Liberal. tapi, dalam gerakan
politiknya, cenderung otoriter dan sama sekali tidak demokratis (ingat!
cita-cita Gus Dur ingin jadi tentara). Pendekatannya demokratis liberal,
tapi aktualisasi gerakan politiknya cenderung tidak demokratis. Jadi, maaf,
omong kosong belaka Islam Liberal.

3. saya justru ingin meletakan Islam Liberal, dalam konteks usaha liberatif
Dr. Farid Esack menentang rezim penindas apartheid di Afrika Selatan dengan
merekontruksi teologi-teologi pluralis dalam al-Qur’an untuk menggalang
“inter-faith solidarity” menentang rezim penindas. Nah, bagaimana kita
meletakkan wacana Islam Liberal di Indonesia, untuk menggalang solidaritas
antar iman dalam rangka melawan rezim penindas dari tokoh Islam Liberal itu
sendiri.