From: “Rezha” <rezha.rochadi@gmail.com>

Salaam,

Melihat jamaah Ahmadiyah yg terus menerus ‘diobok2’ secara tidak adil, saya pribadi merasa miris dan sedih. Untuk alasan itulah, saya mau berbagi pandangan saya ttg beberapa masalah pokok aqidah Ahmadiyah ini. Mungkin bisa membantu untuk mengoreksi beberapa kesalahpahaman yg beredar di masyarakat soal beberapa isu aqidah Ahmadiyah yg hendak saya jelaskan ini.

Tulisan saya ini hanya mewakili sosok MGA saja, bisa jadi berbeda dengan apa yg dipahami pihak Ahmadiyah Qadian maupun Ahmadiyah Lahore. Saya pribadi pun bukan pengikut Ahmadiyah, baik itu mahzab Lahore maupun Qadian. Tapi saya tetap mencintai mereka layaknya saya mencintai kaum muslim lain pada umumnya. Berikut sebagian rujukan yg sudah saya klarifikasi, silahkan dicek lg rujukan2 yg kupakai:

1) Permasalahan Kenabian.

Nabi secara bahasa artinya adalah ‘pembawa berita’. ‘Berita’ yg dimaksud disini adalah An-Naba’ (Berita-berita Besar). Jadi Nabi adalah istilah teknis yg khas sebagai lokus turunya An-Naba’, yaitu khazanah2 Ilmu-Ilmu Allah yang khusus.

Dan seperti yang kita tahu, berita besar itu Allah turunkan secara bertahap. Ada berita tentang pertaubatan (Nabi Adam as), berita tentang jihad (Nabi Daud as), berita tentang As-Sa’ah (Nabi Isa as), dan puncaknya adalah berita tentang kehidupan akhirat (Nabi Muhammad saw). karena ujung dr penciptaan itu akhirat, maka logis kalau Rasulullah saw adalah pembawa berita terakhir (khataman nabiyyin ).

Urusan kenabian sudah berakhir dengan turunnya Rasulullah Muhammad saw, dalilnya QS 33:40: “…tapi dia (Muhammad saw) adalah Rasul Allah, dan Khataman Nabiyyin”. Kenabian sudah berakhir karena “berita besar” (an-Naba’) yang harus dibawa nya sudah paripurna. Yaitu berita tentang akhirat (Fyi, satu2nya Nabi yang dengan detil memberitakan kehidupan alam akhirat adalah Nabi Muhammad saw) setelah itu tersampaikan berita apa lagi yg tersisa. karena itu urusan kenabian sudah berakhir.

MGA pun mengakui bahwa HANYA dan HANYA Muhammad saw lah Khatmn Nabiyyin itu, dan MGA menolak klw dirinya disebut sebagai Nabi sebagaimana yg sering dituduhkan:

“Agar menjadi jelas bagi mereka bahwa saya mengutuk orang yang mengaku sebagai nabi. Saya yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya, dan saya percaya (pada) berakhirnya kenabian pada Nabi Suci. Jadi, dari pihak saya tidak ada pengakuan sebagai nabi, hanya sebagai Wali dan Mujadid…” (Majmu’a Ishtiharat, edisi lama, jilid iii, hlm. 224. edisi 1986, jilid 2, hlm. 297-298).

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW), adalah orang yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)

“Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Khatamul Anbiya dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni seperseratus ribu dari yang itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam Khatamun Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Khatamul Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata air ini juga.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman 342)

2) Pewaris An-Naba’ melalui Ulama Pewaris Nabi atau Cerminannya Nabi (Buruzi Nabiyyin) atau Bayang-bayangnya Nabi (Zilalun Nabiyyin)

Khazanah2 An-Naba’ memang sudah selesai semua diturunkan dan ditutup oleh Muhammad saw. Tp walau sudah sekedar ‘turun’, jg belum ‘terbuka’ semua khazanahnya, ‘terbuka’ dalam arti bener2 bertajalli secara nyata. Makanya itu dibutuhkan pewaris yang mengestafetkan khazanah-khazanah An-Naba’, yaitu para Wali2 Allah..yg ‘membuka’ khzanah yg sudah trun scara lengkap itu..krn hanya ‘membuka’ dr khazanah yg sudah turun..istilah yg dipake ada ‘pewaris’ seperti dalam hadist “ulama adalah pewaris para Nabi”. Krn yg namanya ‘mewarisi’ tidak ada hal yg baru atas apa yg sudah diwariskan, hanya mengestafetkan saja, tp bukan sekedar estafet, tp mentajallikan jg scara konkret dr khazanah yg sebelumnya masih tersembunyi (walau sudah ‘turun’). Tentu pewaris khazanah (Ana-Naba’) para Nabi bukanlah Nabi itu sendiri.

Untuk menjadi pewaris dari khazanah An-Naba’ dari Nabi-Nabi tertentu itu, sang pewaris harus menjadi cermin/pantulan (buruzi) atau bayangan (zili) dari Nabi tertentu, sehingga disebutnya ‘Cerminannya Nabi’ (Buruzi Nabiyyin) atau ‘Bayang-bayangnya Nabi’ (Zilalun Nabiyyin), yang BERBEDA secara hakiki dengan Nabi itu sendiri –khazanah ini dalam tradisi Islam sudah lama dikaji, pertama kali dikaji keilmuannya secara komprehensif oleh ulama perawi hadist masyhur yg jg terkenal sebagai Ulama sufi, Imam Hakim Tirmidzi dalam kitabnya ‘Khatmn Awliya’.

Istilah buruzi dan zili Nabiyyin ini juga yang dipakai oleh MGA:

“Kenabian saya adalah zili (bayangan/pantulan) dari Nabi Suci Muhammad, bukan kenabian asli (yang nyata atau sebenarnya)” (Haqiqat-ul-Wahy hlm.150, catatan kaki; RK, jilid 22, hlm. 154)

“Nabi adalah barang nyata (asli), dan wali adalah zili” (Karamat-us-Sadiqeen, hlm. 85, RK, jilid 7, hlm. 127).

“Seluruh Umat setuju bahwa seorang non-nabi (ghair nabi) dapat menjadi (menempati maqom) seorang nabi secara buruz (bayangan/cermin). Ini adalah arti hadis: `Ulama dari Umatku seperti para nabi bangsa (bani) Israel’. Lihatlah, Nabi Suci telah menyatakan bahwa ulama seperti para nabi. Satu hadis mengatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Hadis lain mengatakan: Di antara para pengikutku, selalu akan ada
empat puluh orang yang menyerupai hati Ibrahim. Dalam hadis ini, Nabi Suci telah menyatakan mereka menyerupai/seperti Ibrahim” (Ayyam as-Sulh, hlm. 163; RK, jilid 14, hlm. 411).

Jadi, menurut Mirza Ghulam Ahmad, buruz (bayangan/cerminan) Nabi Suci Muhammad adalah seorang NON-NABI (GHAIR NABI).

Sebagai komparasi, saya kutipkan juga pernyataan yang identik dari Wali Quthb di kalangan Sunni yg sudah sangat masyhur diakui kewalian dan keilmuannya,

Syaikh Abdul Qadir Jailani juga mengatakan: “Seseorang naik sampai ia datang pada posisi tempat ia menjadi pewaris dari setiap rasul, nabi, dan siddiq” (Futuhul Ghaib, Maqalah 4, hlm. 23)

3) Al-Masih

Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, setiap Wali pewaris Nabi harus mewarisi An-Naba tertentu — yang sebelumnya dimiliki khazanahnya pada seorang Nabi. Misal Syaikh Abdul Qadir Jailani terkenal memiliki banyak sekali karomah, karena mewarisi khazanah Nabi Musa as yg memiliki banyak Mukjizat,

Untuk kasus MGA, karena beliau digelari al-Masih, maka khazanah Kenabian yg diwarisinya adalah Isawiyyah, dari Nabi Isa as. Dengan kata lain, MGA adalah cerminan (buruzi) atau bayangan (zili) dari khazanah Nabi Isa as, tapi tetap harus bersyariat penuh pada syariat yg dibawa Rasulullah saw sebagai konsekuensinya sebagai bagian dari umat Rasulullah saw.

4) Muhaddats, kaum bukan Nabi yg dimampukan berdialog langsung dengan Allah.

Rasulullah saw ber sabda, “Di antara bani Israel sebelum kalian, dulu pernah muncul orang-orang yang Tuhan berbicara kepada mereka, meskipun mereka bukan para nabi, dan bila ada seorang di antara pengikutku, ia adalah Umar”.(HR Bukhari, Bab Keutamaan Umar).

Di dalam literatur tasawuf Islam, terdapat banyak sekali catatan-catatan dialog seorang Wali Allah –yang bukan Nabi– dengan Rabbnya, tak terkecuali disini adalah catatan2 dialog MGA dengan Allah yg bisa banyak ditemukan dalam kitab-kitabnya, seperti Tadzkirah misalnya.

5) Kalau soal “al-mahdi”, menurut pendapat saya (subjektif), sih, enggak satu tetapi banyak. Istilah “al-mahdi” itu secara bahasa “yg sudah ‘ala hudan” (tetap dalam petunjuk, pen), jadi bisa siapa saja yang ‘sudah tetap diatas petunjuk’ (lihat QS [2]:5). Kalau istilah “al-mahdi al-muntadzar” atau al-mahdi yang ditunggu-tunggu (Imam Mahdi), itu baru cuman satu. Tetapi, ya, tokohnya nanti datang belakangan di akhir zaman. Saya pribadi belum menemukan pernyataan MGA langsung bahwa MDA mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi Al-Muntadzar yg akhir zaman itu, yg ada hanyalah tafsiran2 orang2 Ahmadiyahnya saja –sebagaimana yg bisa dilihat dalam situs2 mereka.

Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishowwab.

Wassalam

Rezha

Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas
Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam
(FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah.
Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita
yang mulai cenderung salah arah tersebut.
Penyerangan, Bukan Bentrok
Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara
massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu
mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian
massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan
dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang
lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI
mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan
kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin
dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu
meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu
kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan
pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah
serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab
kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka
kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan.
Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang
melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB
bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan,
puluhan orang menderita luka.
Tidak Ada Provokasi
Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan
provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang
itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya,
acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada
peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu
Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar
dilakukan oleh AKKBB.
Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada
saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI:
“Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.”
Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab
bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan
terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian,
hari minggu siang kita perang.”  Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan
bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai
1000 kosong.
Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari
itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan
datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad.
Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan. Munarman juga menyampaikan:
“Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan
konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan
di HI dan di depan RRI.”
Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat bahwa FPI memang melakukan
serangan secara terencana dan bukan insidental.
Senjata Api
Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini,
oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan
kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila
dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua.” Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi
damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka
kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi
peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah
ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format
damai.
Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita
merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi
hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di
lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya
dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat
umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet.
Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB
sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan
atribut serupa.
Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: “Kami tidak bisa
dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah mereka….”
(Sabili No. 25 Th. XV). 
Keluar Rute
Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena
tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju
Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke
pelataran Monas.
Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang
dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui
adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang
melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni
belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan
Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada
satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu
memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa
AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu
kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang
tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam
perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.
Menipu Peserta
Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan
ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi
peserta aksi. Ini juga adalah dusta.
Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang
dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di
pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu
ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai
cara.
Pengalihan Isu BBM
Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut
sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang
sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB
yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa
bukti disebut untuk mengalihkan isu.
Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya
yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang.
Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan
serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan.
Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.
Saidiman
http://www.saidiman.wordpress.com

A CONTROVERSY broke out recently in Indonesia over a minority sect that
originates in India, Ahmadiyah. It claims that its founder, Mirza
Ghulam Ahmad, is a prophet. As the majority of Muslim believe in the
finality of Muhammad’s prophethood, this claim came as a big shock to
them. It amount to dismantling the very foundation of Islam.

Members of the above mentioned sect still believe in Muhammad as the
last prophet tasked by God to convey the last divine message to the
humankind. However, in addition to this, they believe that the founder
of the sect came as a “messiah”, in addition to being a prophet, whose
task is to strengthen the prophecy of Muhammad and spread his message.
He didn’t claim to bring new “covenant” or message from God.

They are also of the opinion that what ends with the death of Muhammad
is not prophecy in general. Muhammad sealed off what they called “the
prophecy that conveys a divine law”, nubuwwat al-tashri’.
Mirza Ghulam Ahmad, the founder of the sect, is not a prophet in that
sense; he is a prophet in the sense of rejuvenating the divine law
propagated by Muhammad before. In other words, he is prophet/renewer, mujaddid.

The difference between orthodox Islam and Ahmadiyah on this particular
issue is very thin. It is merely a matter of interpretation.

As a matter of fact, Ahmadiyah members adhere to the same doctrines and
embrace the same rituals as other Muslim do. They pray five times a day
facing to Ka’aba exactly in the same way as other Muslim do. They visit
Mecca to fulfill the fifth pillar of Islam, hajj or pilgrimage. They fast in
Ramadan as others do. They pay religious alms, zakat, in the same manner as
other Muslim do.

They believe in Quran as their Holy Scripture. It’s a sheer lie to say
that they have in their possession a Scripture other than Quran, as
their opponents repeatedly allege.

The sole difference resides in the way they interpret the concept of
prophecy. Different interpretation is not unknown in Islamic tradition.
Yet, the majority of Muslim believe that Ahmadiyah has crossed the
tolerable line of valid interpretation. They believe that Ahmadiyah’s
doctrine of prophecy amounts to deviation from the true “path” of
Islam. Hence their “silly” request that Ahmadiyah’s members declare
themselves as non-Muslim and set up a new religion.

Muslim also believe that members of this sect has done a serious
blasphemy to Islam as they deviate from the true doctrine of prophecy.
In June 2005, a fatwa or religious edict has been issued by the Council of
Indonesian Ulama (MUI) deeming this sect as “going astray” (sesat).
Unfortunately, the fatwa has set in motion series of attacks and
persecutions against the sect. Numbers of Ahmadiyah’s mosques have been
demolished. Thousands of its member end up losing houses that shelter
them.

The accusation that Ahmadiyah commits blasphemy against Islam strikes
me as a sheer “non-sense”. To have a different interpretation about
certain doctrines in Islam cannot be seen as blasphemy. The orthodox
mullahs or ulama who see themselves as the guardian of “truth” always
think that their interpretation embodies the truth of Islam itself.
They deliberately efface the line demarcating between “religion” and
“the discourse on religion”, between din and al-khithab al-dini,
as Egpytian thinker Nasr Hamid Abu Zayd once aptly put. To challenge
their interpretation is to be seen as unwarranted “dissent” against the
truth of Islam. That is not enough. They tell people that to challenge
their authority is tantamount to commit a blasphemy against Islam.

It is sad to see that many Muslims buy this kind of thought and
argument. They are enraged to see ulama being challenged. They took to
the street in protest against what they see as a mounting threat to
Islam.

The identification of “Islam” with the existing interpretation that is
predominant among Muslim is dangerous. It obviously results in
silencing different point of views in Islam. It will smooth up ways for
the conservatives to place themselves as the sole voice of Islam. To
me, this is a stealth move to hijack Islam.

Muslim should speak up to challenge such move. To have a different
interpretation is not and cannot be a blasphemy. It is the right of
every Muslim to have their own views on Islam aired and it is also
their right to be treated with great respect to voice a different view
and interpretation.

The mullahs always tell Muslim that by allowing such open leeway to
interpret Islam, Muslim society will end up enmeshed in chaos, fitna.

I say to you, my friends: Muslims are already in chaos now, no matter
whether or not they are aware of this. The chaos comes about not
because of the excess of freedom Muslim enjoy to interpret Islam in
such manner that speaks to the very challenges they face nowadays. The
chaos is a result of the deficit of freedom instead.

Ulil

Belakangan ini, sejumlah pihak/media berusaha membangun/merekonstruksi
gambaran tentang penyerangan FPI atas Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan cara manupulatif. Gambaran yang
dibangun adalah:

1. FPI memang melakukan kekerasan tetapi itu terjadi karena diprovokasi
oleh AKKBB yang secara demonstratif menantang umat Islam.
2. FPI memang melakukan kekerasan fisik tetapi sebenarnya yang selama ini
terjadi adalah kekerasan verbal oleh kalangan AKKBB yang menguasai media.
3. FPI memang melakukan kekerasan tapi ini terjadi karena akar masalahnya
tidak kunjung terselesaikan, yakni soal Ahmadiyah.

Gambaran semacam itu manipulatif dan dapat menyesatkan cara pandang umum
tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa gambaran manipulatif itu
dibangun oleh tokoh dan media yang menyebut dirinya ‘Islam’ menjadi
penting karena terkesan bahwa dengan demikian, dalam Islam berbohong demi
tujuan adalah suatu hal yang dibenarkan.

Penjelasan saya soal manipulasi itu adalah sebagai berikut:

Pertama, apa yang dilakukan AKKBB dengan membuat iklan satu halaman penuh
di berbagai media plus unjuk rasa di Monas memang demonstratif untuk
menandingi apa yang dipercaya sebagai gelombang besar gerakan radikalisme
Islam. Tentu saja pernyataan sikap itu harus dinyatakan secara mencolok
karena yang ditentang adalah kekuatan besar yang melibatkan tak kurang
dari Majelis Ulama Indonesia, FPI, FUI, GUUI, HTI, dan lain-lain. Jangan
lupakan di sejumlah daerah, tindakan anarkis terhadap Ahmadiyah sudah
terjadi. Jangan lupa pula, MUI dan kawan-kawan sedang terus mendesak
pemetintah untuk segera mengeluarkan SKB pembubaran Ahmadiyah yang menurut
sejumlah ahli hukum sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam struktur hukum
ketatanegaaan kita.

Jadi, sikap demonstratif AKKBB adalah sikap yang memang sengaja dilakukan
untuk mencegah penindasan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan –
sesuatu yang memang menjadi alasan pendirian AKKBB. Aliansi ini percaya
bahwa mereka harus bersuara keras karena lawannya memang besar. ernyataan
sikap semacam itu tentu saja tidak bisa dibaca sebagai ‘provokasi’ untuk
mengundang pihak lain melakukan tindakan brutal.

Kedua, penggunaan istilah kekerasan verbal oleh AKKBB tentu saja
manipulatif karena yang selama ini menggunakan kekerasan verbal adalah
justru MUI, FPI dan kawan-kawan. Bukankah selama istilah yang digunakan
untuk merujuk pada mereka yang dianggap berpikiran liberal dan pluralis
adalah: ”SEPILIS”, Jaringan Iblis Laknatullah, Budak Kafir, Antek Yahudi,
Antek Amerika, Sesat dan Menyesatkan, Murtad, Halal Darahnya, dst?
Kekerasan verbal apa lagi yang bisa lebih buruk dari itu? Pernahkah
kawan-kawan AKKBB menggunakan istilah serupa?

Gambaran bahwa AKKB itu menguasai media juga jauh dari kebenaran.
Pengamatan sederhana menunjukan bahwa dalam perdebatan pro dan anti
Ahmadiyah saja sudah terlhat bagaimana media mainstream menghindar dari
pembelaan terhadap Ahmadiyah, karena takut pada FPI dkk atau karena
sejumlah awak redaksi mereka memang percaya bahwa Ahmadiyah itu sesat.
Bahwa dalam kasus penyerangan oleh FPI terhadap AKKB ada kesan bahwa
umumnya media (kecuali Republika tentunya) menempatkan FPI sebagai pihak
yang menyerang, tentu saja karena apa yang terjadi di lapangan memang
begitu (kecuali Anda percaya dengan cerita seorang personil AKKBB yang
memang membawa senjata untuk menembaki FPI?).

Ketiga, penempatan soal ’Ahmadiyah’ sebagai akar masalah, tentu saja
adalah taktik yang licik untuk membelokkan isu ke arah pembubaran
Ahmadiyah. Isu Ahmadiyah adalah isu perbedaan pendapat antara dua kubu
pemikiran yang lazim terjadi dalam suatu masyarakat demokratis. Perbedaan
pendapat sama sekali tidak boleh menjustifikasi kekerasan. Memang
pemerintah terkesan lamban, tapi selama pemerintah belum menyatakan sikap
baru, sikap lama harus diasumsikan berlaku. Dalam hal ini, sejauh ini,
pemerintah masih percaya bahwa Ahmadiyah adalah sebuah ajaran, keyakinan
dan organisasi yang sah di Indonesia. Pernyataan Bakor Pakem itu baru bisa
dilihat sebagai rekomendasi. Tidak lebih.

Karena itu, istilah ’akar masalah’ itu harus diperinci maknanya. Dalam
cara pandang yang lebih luas, bagi saya, akar persoalan adalah kesediaan
kita untuk hidup dalam sebuah masyarakat demokratis. Kalau setiap kali
kita berbeda pendapat, salah satu pihak merasa dibenarkan untuk melakukan
kekarasan atas pihak lain, kita berada dalam sistem yang setiap saat bisa
runtuh karena perbedaan pendapat. Jadi, akar masalahnya justru masih
adanya budaya kekerasan di kalangan Islam radikal. Karena itu, bagi saya,
akar masalah bukan pada Ahmadiyah – yang sepajang sejarah republik tidak
pernah melakukan kekerasan — melainkan pada (kalau mau tunjuk hidung)
FPI, GUUI, dan FUI. Selama organisasi-organisasi ini masih ada, kekerasan
akan terus berlanjut.

Salam

ade armando
Majalah Madina

Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil.
Manusia dinilai bukan dari putihnya pakaian, lebatnya jenggot, dan klaimnya atas
kebenaran. Tapi dari perbuatannya…..
Ya Allah berikan ketabahan dan kesembuhan pada saudara-saudara kami yang terluka
dan menderita akibat ulah manusia-manusia tuna susila yang bersembunyi di balik
jubah kebesaranMu.
Ya Allah, kami tuna kuasa, Engkaulah Maha Kuasa, jangan Engkau berikan kekuasaan
pada orang-orang yang telah merampas kekuasaanMu.
Ya Allah, kami tak pandai berteriak menyebut asmaMu, kami tak suka menangis di
hadapanMu, tapi kami yakin Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Tahu, maka
dengarkanlah kami, tunjukkanlah kami kebenaran!
Watilkal ayyam, nudawiluha bainannas….
Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil…

Jargon itu makin sering terdengar akhir-akhir ini. Salah satu ketum parpol
menjadikan jargon itu sebagai pesan pokok iklan politiknya (meski tak mau
disebut iklan politik, dan lebih sebagai pesan moral,mungkin sebuah gambaran
ungkapan nasionalisme tulen).
Aristoteles, filsuf Yunani kuno, juga berbicara mengenai perbuatan. Hanya
agak berbeda dengan Mas Tris yang mengaku tak boleh istrinya menjadi capres
ini, bagi Aristoteles perbuatan dibedakan dari tindakan. Perbuatan (poiesis)
adalah sesuatu yang dilakukan demi suatu capaian di luar perbuatan itu
sendiri. Dalam poiesis yang penting adalah hasilnya, bukan pekerjaan atau
proses yang menghasilkan output. Filsuf seperti Marcuse atau Habermas
mungkin menyebutnya hasil dari rasio instrumental.
Sedangkan tindakan (praxis) oleh Aristoteles diibaratkannya dengan orang
main seruling. Ini dilakukan karena senang memainkan seruling, bukan
lantaran mau mencapai sesuatu di luar permainan seruling. Singkatnya praxis
adalah tindakan yang bernilai pada dirinya sendiri.
Aristoteles mengimbuhi, praxis yang terpenting adalah partisipasi dalam
komunitas (politik).
Saya tidak tahu apakah pemikiran Aristoteles ini relevan atau tidak. Hanya
saja, menyimak betapa ngebetnya para calon pemimpin (yang rasanya pada
kelewat pede ini), definisi Aristoteles tetap bermanfaat.
Minimal Mas Tris (senang disebut “mas” karena kini trendnya orang muda yang
pantas memimpin…..) masih cukup waktu mempertimbangkan pikiran
Aristoteles, atau perusahaan iklan yang disewanya (yang setahu saya
pemiliknya sangat canggih dalam ilmu politik) memperhitungkan ini.
Apakah perbuatan yang dimaksud adalah tindakan? bisa jadi ini masalah diksi.
Tapi jika diisengi, bukankah menjadi sangat jamak jika di belakang perbuatan
lebih mudah diimbuhi kata-kata tak senonoh lalu menjadi keranjang sampah?
misalnya perbuatan senonoh, seronok, tak terpuji, dll……
Sedangkan tindakan lebih bermakna aktif, positif, karena ada pengandaian
pemakaian kesadaran, proses berpikir, ada refleksi dan keputusan, bukan
sekedar sesuatu yang spontan seperti perbuatan.
Boleh jadi saya keliru. Tapi memperhatikan tingkah polah politisi kita saat
ini memang asyik. Ketidakpahaman dan kedangkalan dipertontonkan dengan
telanjang dan hanya menjadi cermin wajah Indonesia saat ini, miskin pemikir,
kebanyakan penzikir (baca:orang-orang religius), dan inflasi avonturir.
Selamat merayakan Pancasila sakti, meski yang sakti kini bukan Pancasila,
tapi Mentari.
Pantas saja teman2 AKBB digebuki oleh FPI…….

Ada yang lolos dari proyek kenaikan harga BBM, sebuah exit strategy atau
semacam “janji”. Kita sebatas bicara optimis (bahkan Anies Baswedan
mengulang-ulang kata ini dalam berbagai kesempatan). optimisme berbeda
dengan harapan. Bahkan dalam pesimisme, kita tetap dapat berharap. Harapan
memiliki dimensi metafisis, ada void, kekosongan yang justru di sanalah
kekuatannya. Ia ibarat surga bagi orang beragama, yang perlu ada agar
pengharapan tidak pingsan.

Tak ada mimpi pada pemimpin kita. Agaknya dosa terbesar Orde Baru dan
Suharto pertama-tama bukan KKN dan pelanggaran HAM/Hukum, melainkan
pembunuhan daya imajinasi bangsa Indonesia. Kini kita menuai hasilnya. Daya
kreatif menghilang. Jika pun iklan “Hidup adalah Perbuatan” disebut kreatif,
ia kreatif pada tataran tampilan, kemasan, slogan, tapi sesungguhnya sangat
kosong visi, karena persis di awalnya terjadi cacat teoritik.
Mirip pula slogan baru yang digaungkan sembari menginjak-injak keperawanan
rumput senayan: Indonesia bisa. Bisa apa? tidak tahu ( embuh, kalau menurut
Amien Rais), silahkan diisi sendiri sesuka hati.
ini bukan harapan, tapi kemalasan berpikir.
Kita masih sebatas disuguhi jargon kosong yang miskin substansi.
Sungguh lelah memikirkan karut marut pimpinan negeri ini.

Atau lebih baik kita menelaah foto “setengah” asusila dari Max Moein.
Aduh…..
Besok giliran siapa dan mengapa?
Entah. karena kita masih sering menganggap kekuasaan itu “ada di sana”, dan
tak sadar jika kita diam2 disusupi melalui kapiler-kapiler lembut, aneka
seduksi yang menggerus batang kesadaran untuk pada suatu ketika akan
menghegemoni kita untuk mengatakan iya pada kedangkalan dan kerancuan.
Semoga nasionalisme tidak lantas secara latah dimaknai sebagai bentuk
eskapisme dari tantangan berpikir dan merumuskan secara baru proyek
keindonesiaan ini. entah……

salam,

pras

TUHAN

Soe Tjen.
Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan, kata
seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah Ahmadiyah dan
Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya mengamini Bakunin.
Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan
yang lelaki, atau paling tidak yang mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang
membuat mulut bocah saya terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan
“mengapa perempuan tidak bisa menjadi pastor?”

Namun, mengapa manusia mempercayai Tuhan yang seperti ini? Ketercengangan,
kebingungan dan keresahan manusia akan alam terkadang menuntunnya untuk mencari
“Yang Maha Kuasa”. Karena itulah, manusia sempat menyembah gunung, matahari
atau cahaya apa saja dari langit. Karena bagi mereka, Tuhan tidak lain dan
tidak bukan adalah “Yang paling ditakuti”. Kepercayaan pada yang maha kuasa
memang sering didasarkan pada ke-egoisan.

Karena manusia ingin diselamatkan, diberkahi dan diberi rejeki yang melimpah
dari yang disembah, mereka bahkan mencoba menyogok Tuhan dengan sesaji. Tidaklah
heran bagi manusia seperti ini, Tuhan adalah diktator yang selalu menuntut.
Tuhan yang pencemburu, yang begitu murka ketika manusia melupakanNya.
Keberadaan Tuhan seperti ini begitu tergantung pada manusia. Dengan kata lain,
dia serupa dengan manusia yang menyembahNya: sebuah keberadaan yang menuntut dan
tidak mandiri. Yang tak rela diduakan. Yang selalu tergantung pada elu-eluan
penyembahnya. Tuhan dengan krisis identitas.

Dan tidaklah heran, bila Tuhan semacam ini dapat ditemukan dalam sosok
pemerintah otoriter: pada Firaun Mesir yang mengaku sebagai utusan Tuhan, dalam
sosok Kaisar Jepang yang menjadi wakil Yang Maha Tinggi, atau pada pemerintah
Kerajaan Inggris kuno. Bahkan juga dalam pejabat tinggi negara kita yang
memaksa para warganya untuk menulis agama mereka – kepercayaan mereka pada
Tuhan. Dan dalam keroyokan yang mengamuk, merusak dan menyerang insan-insan
yang tak mempercayai Tuhan tertentu.

Tuhan seperti ini menjadi simbol patriarki, yang melahirkan dualisme tajam: Yang
Kuasa dan pengikutNya. Namun, ambisi manusia untuk memuja terkadang sama
besarnya dengan ambisinya untuk dipuja. Karena itulah, Tuhan dan pengikutnya
seringkali menjadi cermin yang memantulkan persona yang sama. Dan karena itu
pula, si pengikut dapat berlaku seperti Tuhan mereka: penghukum yang tak kenal
ampun. Bahkan lebih parah, karena dalam si pengikut, apa yang abstrak dan
menjadi metafor, dapat menjadi nyata dalam tindakan mereka. Apa yang menjadi
kata, tiba-tiba menjadi kekejaman yang mengakibatkan tangis dan membawa mangsa.

Penggambaran Tuhan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Esa, seakan tidak lain
adalah cara manusia untuk menjadi narsis. Karena gambaran seperti inilah yang
memberi kesempatan manusia untuk memahkotai diri mereka sendiri dengan gambaran
yang begitu melambung dan dilambungkan.
Kemarahan para pengeroyok terkadang disebabkan oleh kekecewaan narsis mereka.
Ketika Tuhan mereka digambarkan berbeda, ketika kelompok lain menawarkan
interpretasi yang berlawanan dari ide mereka, ketika manusia layaknya Musdah
Mulia (yang membela LGBT) atau Ahmadiyah yang mempunyai pandangan “baru”
tentang Tuhan, ego pengeroyok inilah yang telah tersakiti. Karena pada saat
itu, para narsis ini tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa harapan mereka tak
akan pernah sampai. Narsis yang tidak siap untuk merombak keyakinan mereka atau
paling tidak mendengar keyakinan yang lain. Namun, narsis yang marah karena
kekecewaan. Karena Tuhan mereka tidaklah selalu benar, besar, dan kekar.

Inilah salah satu alasan yang membuat atheis meninggalkan Tuhan. Bagi banyak
atheis, hanyalah dalam sains-lah kebenaran dapat diungkap. Dengan bukti dan
akal. Namun, sains sendiripun seringkali relatif dan dapat disanggah: Teori
Newton dipatahkan oleh Einstein yang menawarkan teori relativitas. Teori
Einstein ditentang lagi oleh Neils Bohr yang menyatakan bahwa teori Einstein
tidak cukup relative karena Einstein luput mengindahkan karakter kuantum mekanik
yang tak pernah konstan, dan yang selalu terpengaruh oleh subyektifitas sang
peneliti. Neils Bohr-pun disanggah lagi oleh Everett, dan seterusnya dan
seterusnya. Memang, dalam pencariannya akan kebenaran, manusia tak pernah dapat
menemukan jawaban akhir yang pasti.

Dan bukankah pencarian akan Tuhan dapat dibandingkan dengan pencarian dalam
sains? Karena keduanya menyiratkan pertanyaan-pertanyaan akan keberadaan,
kehidupan dan asal galaksi kita, dan asal kita sebagai manusia.

Karena bila kita berani untuk mencari dan mencari lagi akan kebenaran, kita akan
ditarik pada labirin yang berlapis dan tiada habisnya. Dalam pusaran-pusaran
teori, tanya, jawab dan kebimbabangan, yang di dalamnya selalu ada jurang begitu
dalam yang belum pernah kita lihat. Yang tak akan dapat kita kunjungi. Namun,
hal inilah yang terkadang membuat saya terus mencari dan mencari.

Pada suatu renungannya akan Tuhan, Einstein menyatakan bahwa ada suatu
“keindahan yang tiada tara”, yang tak pernah dapat kita mengerti. Sesuatu
yang membuat kita tersentuh dan beriman. Dan karena ketidak-mengertian inilah,
Einstein terus mencari.
Memang, ketidak sabaran akan jawaban yang serba cepat, keinginan untuk mengambil
jalan pintas dan ambisi akan kekuasaanlah yang dapat menuntun manusia untuk
merumuskan Tuhan yang satu, yang kaku. Walaupun di dunia ini, terdapat
bermacam-macam Tuhan. Beberapa teks bahkan sempat menyebut lebih dari 200 tuhan
dalam sejarah dunia.
Dan di dunia yang serba dinamik, yang terus bergerak dan menari dalam segala
getarannya, bagaimana Tuhan dapat menjadi begitu statik: berhenti dan terpaku
dalam suatu zona tempat dan waktu? Dalam sebuah dogma yang membuahkan amarah?
Tuhan yang dilahirkan oleh dogma adalah Tuhan yang mati. Tuhan yang dapat
dibunuh oleh para atheis. Tuhan yang telah saya bunuh.

Karena seharusnya, pencarian akan Tuhan selalu membawa kita pada ketidak-tahuan.
Pada pertanyaan. Dan terkadang, kebingungan. Karena itu, kita harus siap tidak
saja untuk menemukan “keindahan yang tiada tara”, namun juga kekecewaan.
Karena pencarian akan Tuhan adalah tidak lain dan tidak bukan pencarian akan
esensi kita, keberadaan kita. Esensi kita yang tak terlihat namun ada. Esensi
yang begitu dekat, namun tak dapat dimengerti. Karena itulah Chuan Tzu berkata:
“Kita berkata ‘aku, namun tahukah kita siapa dan apa artinya ‘aku’?”
Dan segala kebingungan, segala tanya, di antara yang ada dan tanpa, saya dapat
berkata: Saya tidak percaya akan Tuhan. Namun saya percaya akan tuhan. tuhan
yang tak berkelamin, yang tak semena-mena, yang tak maha tinggi dan yang tak
maha Esa. Dalam tuhan yang seperti ini, saya dapat bertakwa.

(Soe Tjen Marching, penulis buku The Discrepancy between the Public and the
Private Selves of Indonesian Women diterbitkan oleh the Edwin Mellen Press).

Artikulasi Pembaruan Nurcholish Madjid: Kekuatan dan Batas-batasnya

IHSAN ALI-FAUZI

Mei ini Keluarga Besar Yayasan Paramadina memperingati 1.000 hari wafatnya
Nurcholish Madjid (Cak Nur), tokoh pembaruan Islam di Indonesia. Bagaimana
sebaiknya menaksir gagasan dan gerbong pembaruan yang ditariknya? Mengapa pesan
besar yang ia sampaikan kedodoran belakangan ini?

Seraya meminjam dari sosiolog Robert Wuthnow, saya ingin melihat pembaruan
sebagai produk budaya yang ditawarkan di dalam konteks sosial, ekonomi, dan
politik tertentu. Kekuatannya terletak pada kemampuannya menyatroni sekaligus
mengatasi konteks terdekat itu. Daya panggilnya kedodoran belakangan ini, saya
kira, karena konteks yang berubah. Dus mungkin juga dibutuhkan warna panggilan
pembaruan yang lain.

Artikulasi

Wuthnow punya penjelasan menarik mengenai bagaimana produk budaya, termasuk ide
yang ditawarkan sang produsen seperti Cak Nur, membawa perubahan sosial. Dalam
Communities of Discourses (1989), ia menolak determinisme, baik ide/budaya ala
Weber maupun kelas/ekonomi ala Marx. Sebaliknya, katanya, ”Saya lebih menekankan
pada cara di mana ekspansi ekonomi berinteraksi dengan penataan institusi baru,
yang pada gilirannya menstrukturkan konteks di mana para produsen [budaya] dan
audiensnya berjumpa.” Di sini ekonomi penting, tapi secara tak langsung dan tak
niscaya. Juga institusi yang tumbuh bersama ekspansi ekonomi. Yang krusial
adalah bagaimana si produsen budaya mengelola resources yang tersedia akibat
perjumpaan kedua faktor di atas.

Wuthnow juga menyatakan produk budaya yang besar selalu lahir dari pergulatan
dinamis dan kreatif dengan lingkungan terdekatnya. Karya-karya itu tidak hanya
memberi respons terhadap zamannya, tetapi sekaligus melampauinya. Katanya: ”They
draw resources, insights, and inspiration from that environment: they reflect
it, speak to it, and make themselves relevant to it. And yet they also remain
autonomous enough from their social environment to acquire broader, even
universal and timeless appeal.”

Kata Wuthnow, ini ”masalah artikulasi”. Tulisnya, ”Jika produk budaya tidak
cukup menyantuni, tidak cukup nyambung dengan setting sosialnya, ia kemungkinan
besar akan dipandang audiens potensialnya … sebagai tak relevan, tidak
realistik, artifisial, dan amat abstrak, atau—lebih buruk lagi—para produsennya
akan kecil kemungkinan memperoleh dukungan yang diperlukan untuk terus berkarya.
Namun, jika produk budaya melulu ditujukan hanya menyantuni lingkungan sosial
terdekatnya itu, mungkin sekali ia akan dipandang terlalu esoterik, parokial,
terikat waktu, dan gagal menyedot perhatian audiens yang lebih luas dan dalam
rentang waktu lebih panjang.”

Dekat, tapi tak melekat

Kerangka di atas dapat membantu kita menaksir kekuatan dan batas-batas gerbong
pembaruan Cak Nur. Mari melihat teks dan konteksnya.

Teks terbaik adalah pidato Cak Nur yang menghebohkan itu, ”Keharusan
Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” (1970). Inilah teks
paling autentik produk Cak Nur. Yang lainnya, bagi saya, adalah catatan kaki,
eksplorasi lebih jauh, atau kamuflase yang ia pandang penting untuk berdakwah.
Bahwa teks itu menjadi produk publik secara tak disengaja, itu hanya menambah
autentisitasnya.

Dalam teks ”proklamasi” pembaruan itu, Cak Nur mulai dengan menandaskan bahwa
Islam di Indonesia sedang stagnan. Kaum Muslim menghadapi pilihan kritis: jalan
pembaruan, yang meniscayakan peninjauan kembali makna Islam di dunia modern,
dengan ongkos integrasi umat; atau pemeliharaan integrasi itu, dengan
konsekuensi terus jumudnya pemikiran Islam dan hilangnya daya Islam sebagai
moral force. Ia memilih jalur pembaruan, dan di ujung tulisannya ia mengusulkan
proses liberalisasi berdimensi empat: sekularisasi, kebebasan intelektual, the
idea of progress, dan keterbukaan.

Kekuatan gagasan itu adalah karena ia, meminjam Wuthnow, dekat tapi tak melekat
dengan konteks terdekatnya. Pada tahun 1970-an dan sepanjang Orde Baru
gagasan-gagasan itu nyambung dengan lingkungannya. Dalam teks di atas wakil
terbaiknya adalah gagasan ”Islam Yes, Partai Islam No!” Penting diingat: Cak Nur
tidak mengharamkan partai Islam. Yang ia katakan adalah bahwa partai Islam tidak
niscaya merupakan wakil Islam; bagi seorang Muslim, mendukung partai Islam
bukanlah sesuatu yang wajib.

Gagasan itu bergema di hati kelas menengah Muslim santri yang tertarik dengan
panggilan Cak Nur untuk ”berdamai” dengan rezim—sebagian mereka malah berada di
dalam rezim itu sendiri. Mereka ingin luar-dalam mencicipi pertumbuhan ekonomi
yang rata-rata mencapai 6-8 persen per tahun, dengan ogah mengikuti garis Islam
”skripturalis”. Gara-gara gagasan Cak Nur itu, umat Islam tidak lagi merasa,
meminjam Taufik Abdullah, ”Ahl Dzimmah di negeri mayoritas Muslim”. Yang juga
tertarik menjadi audiens dan kemudian pendukung Cak Nur adalah kaum non-Muslim,
juga nonsantri, yang merasa memperoleh semacam perlindungan dari ancaman Islam
”skripturalis”.

Gagasan itu juga sejalan dengan tumbuhnya institusi-institusi baru di dalam
ataupun di luar rezim. Di dalam rezim ada kebijakan penciutan partai politik,
program kerukunan umat beragama, dan lainnya, yang paralel dengan gagasan Cak
Nur. Di luar rezim berlangsung Islamisasi yang secara umum terjadi di kota-kota
besar (masjid atau musala di kantor-kantor, dsb). Generasi Muslim baru tumbuh,
diwakili dengan baik oleh Cak Nur sendiri, yang harus ditampung dan ikut
memainkan peran di dalam panggung yang lebih lebar: ”Indonesia”.
Harus juga disebutkan bahwa gagasan itu kukuh karena figur si pembawa gerbong.
Latar pendidikan dan organisasi Cak Nur turut menopang substansi panggilannya.
Ia dengan baik menguasai khazanah Islam, tetapi juga akrab dengan wacana modern.
Ia kuat dalam lisan dan tulis. Lagi pun kepribadiannya yang santun, sederhana,
dan jauh dari arogan membuatnya sulit diserang lawan-lawannya. Sebagai pembawa
bendera, ia amat kredibel!

Namun, gagasan pembaruan juga timeless enough dan mengatasi kebutuhan jangka
pendek masanya. Dalam teks di atas sisi yang lebih universal dan tahan lama ini
kita temukan dalam panggilannya kepada sekularisasi (belakangan dilunakkan
menjadi desakralisasi) sebagai realisasi tawhid, kebebasan intelektual, the idea
of progress, dan keterbukaan.

Cak Nur menawarkan topangan Islam bagi tumbuhnya Indonesia yang modern dan
partisipasi penuh umat Islam di dalamnya. Alih-alih menjadikan paham-paham di
atas sebagai momok bagi Islam seperti umum dikenal sebelumnya, ia malah
memandangnya sebagai bagian integral dari Islam yang modern dan menjanjikan. Dan
yang lebih penting, bagi kalangan non-Muslim dan nonsantri, sokongan pembaruan
atas paham-paham di atas memberi jaminan keislaman bahwa pluralisme Indonesia
akan terus ditegakkan. Tidak heran jika, seperti sering diceritakan Cak Nur
sendiri, pihak yang paling antusias menyambut proklamasi pembaruan adalah
kalangan sekular Indonesia, seperti diwakili harian Indonesia Raya, Pedoman, dan
Kami.

Pada tingkat praktis, gagasan-gagasan yang timeless di atas menjadikan Cak Nur
tidak enggan berseberangan dengan pemerintah, yang beberapa kebijakannya turut
menguntungkannya. Pada 1971 dan 1977, misalnya, dalam rangka demokratisasi dan
balancing-power politics, ia mendukung PPP. Baginya, ini penting dalam rangka
”memompa ban kempis” untuk menyeimbangi Golkar (pemerintah). Belakangan juga
kita tahu bahwa Cak Nur menjadi salah seorang pionir dalam pengembangan budaya
oposisi dan keterbukaan: ia terlibat dalam pembentukan KIPP, demokratisasi
secara damai, dan seterusnya. Aliansi Cak Nur dengan banyak aktivis LSM berawal
dari sini.

Ringkasnya, memarafrasekan Wuthnow, Cak Nur itu ”memanfaatkan sumber daya,
ilham, inspirasi dari lingkungan terdekatnya: ia merefleksikannya, bicara
kepadanya, menjadikan dirinya relevan dengannya. Namun, ia juga tetap cukup
otonom dari lingkungan sosial terdekatnya itu sehingga ia bisa mewartakan
seruan-seruan yang lebih luas, lebih universal, dan abadi.”

Pembaruan ditentang

Sekarang kita melihat bahwa formalisasi Islam, yang ditentang Cak Nur, menguat.
Ada fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme, misalnya. Juga kini tumbuh
perda-perda syariat yang menggerogoti pesan-pesan universal Cak Nur. Bagaimana
kita memaknai gejala ini?

Meminjam Wuthnow, kita harus menyebut beberapa kemungkinan. Pertama, konteks
sosial, ekonomi, dan politik sekarang sudah berubah. Sekitar sepuluh tahun lalu
(1996) Indonesianis R William Liddle menulis mengenai perseteruan antara kubu
Cak Nur dan lawannya. Katanya, ”Optimisme saya [mengenai kemenangan kaum
substansialis] berkurang karena pengakuan saya akan konteks sosial, ekonomi, dan
terutama politik di mana kreativitas kaum substansialis berlangsung. Sebab …
mereka diuntungkan konteks itu, dan dalam beberapa hal secara sadar telah
memanfaatkannya untuk memperkuat posisi mereka. Juga jelas bahwa wilayah bermain
yang tersedia sudah secara sengaja didesain untuk melemahkan posisi para pemikir
dan aktivis Islam yang lain, khususnya kelompok skripturalis.” Konteks yang
dimaksud Liddle adalah berbagai kebijakan dan langkah pemerintah Orde Baru yang,
seperti saya kemukakan di atas, langsung ataupun tidak langsung menguntungkan
posisi kaum substansialis.

Kini situasinya berubah. Semua orang di atas kertas kini bebas bicara dan
berorganisasi. Dalam situasi seperti ini, demikian Liddle, ada tiga faktor yang
membuat gagasan pembaruan memperoleh tantangan besar: (1) ajaran-ajaran kaum
skripturalis yang lebih mudah diterima sebagian besar kaum Muslim; (2)
kemungkinan aliansi politik kaum skripturalis dengan kelompok-kelompok sosial
lain yang sedang tumbuh; dan (3) nafsu besar para politisi ambisius untuk
membangun basis massa.

Saya kira ketiga faktor di atas cukup menjelaskan mengapa formalisasi Islam
bergaung kencang belakangan ini. Mungkin kita perlu menambahkan beberapa faktor
lain. Yang terpenting adalah ekonomi yang belum juga pulih.

Dalam khazanah ilmu sosial ada banyak penjelasan mengenai bagaimana deprivasi
ekonomi dan alienasi psikologis akibat urbanisasi membuat orang cepat tertarik
kepada ajaran yang serba mudah dan mengklaim serbabisa, seperti diwakili slogan
”Islam is the solution”. Impitan ekonomi, kepenatan pikiran dan jiwa membuat
orang enggan mengunyah tawaran pikiran yang agak canggih Lagi pula, setelah
sepuluh tahun reformasi, kita juga terus menyaksikan sebuah negara yang lembek
sehingga tidak bisa memerintah dengan memadai.
Aliansi faktor-faktor ini memungkinkan kita untuk mengerti mengapa Jemaah
Ahmadiyah di negeri yang katanya menjamin hak-hak asasi ini dikoyok-koyok
seperti orang berpenyakit lepra. Dan di tengah-tengah keruntuhannya, alih-alih
memberi perlindungan kepada mereka, seorang pejabat tinggi malah meminta mereka
untuk tobat. Bukankah ini cermin tindakan politisi ambisius memancing di air
keruh? Seakan mereka tidak mengerti bahwa di belahan dunia lain kaum Muslim
adalah kelompok minoritas yang bisa diperlakukan seperti itu.
Para penerus Cak Nur sendiri perlu introspeksi diri. Gerbong pembaruan mungkin
kurang baik mereka kelola. Mereka kurang berhasil mengeksploitasi resources yang
ada untuk memperkuat gerbong itu dan menariknya lebih kencang. Sementara itu,
sang penarik gerbong sendiri sulit digantikan, sedangkan para penerusnya gagal
melembagakannya.

Peluang baru

Jika faktor-faktor di atas diperhatikan, mestinya tantangan terhadap gagasan
pembaruan Cak Nur belakangan ini sudah bisa diantisipasi. Hal itu harus dihadapi
sebagai akibat sampingan dari proses demokratisasi yang ikut diperjuangkan
almarhum. Hak kaum Muslim ”skripturalis” untuk berbicara, berkelompok, dan
berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik adalah bagian integral dari
kebebasan yang juga diperjuangkan almarhum. Sejauh kekerasan tidak digunakan,
kita bahkan wajib membela hak-hak itu. Jika sebaliknya yang terjadi, kita harus
mendesak pemerintah untuk menjalankan kewajiban pokoknya: ya, memerintah, to
govern! Jika tidak, ini bukanlah sebuah negeri, apalagi negeri yang besar,
melainkan sebuah hutan rimba.
Dalam konteks yang berubah ini, para penerus Cak Nur harus terus mengusahakan
agar gagasan almarhum yang timeless dan universal terus bergema. Bukan karena
kita ingin romantis, setia pada almarhum, tapi karena kita sebagai bangsa
majemuk membutuhkannya. Sulit dibayangkan bahwa Indonesia akan bisa terus
berdiri jika prinsip keterbukaan, kebebasan, dan pluralisme terus digerogoti.
Sikap mundur dari prinsip ini akan merupakan kehilangan besar.

Di sini kaum Muslim ”skripturalis” berguna sebagai sparring partners. Sebisa
mungkin komunikasi dengan mereka harus tetap dibuka. Kita sudah terlalu sering
bicara dengan keluarga besar kita sendiri, preaching the converted! Seraya
mempertajam gagasan-gagasan kita sendiri, kepada para penganjur perda syariat,
misalnya, kita harus terus bertanya: bagaimana perda-perda itu akan dijalankan
di tingkat praktis? Tugas apa lagi yang hendak dibebankan kepada polisi, yang
sekarang saja sudah keteteran menjalankan kerjaannya? Jika seseorang tidak salat
atau pacaran yang ditentang syariat tetapi tidak ketahuan, siapa yang
bertanggung jawab? Bukankah perda-perda syariat dimaksudkan untuk memata-matai
iman seseorang?

Akan halnya dengan gagasan-gagasan Cak Nur yang dimaksudkan untuk menyatroni
konteks terdekatnya, kita mungkin harus memikirkan kembali relevansinya. Kadang
saya merasa bahwa Cak Nur terlalu mekanis mengaitkan naiknya kelas menengah
Muslim dengan bangkitnya etos Islam yang antikorupsi, misalnya. Juga tampak
terlalu mekanis untuk menyatakan bahwa Islamisasi bahasa dalam sebutan Majlis
Permusyawaratan Rakyat (yang semuanya berasal dari kata Arab) sejalan dengan
Islamisasi si penghuni bangunan MPR. Selain itu, menyandarkan demokratisasi pada
kelas menengah yang digaji (salaried middle-class), yang tidak otonom seperti
saudara-saudara mereka di Eropa dua abad lalu, juga terbukti amat riskan.

Agar bisa menyatroni audiensnya sekarang, gagasan dan gerbong pembaruan harus
lebih tanggap terhadap kesulitan ekonomi yang menerpa banyak orang belakangan
ini. Juga terhadap dislokasi psikologis akibat gempuran urbanisasi dan
globalisasi yang kadang dirasakan melawan rasa keadilan umum. Semuanya ini dapat
dan harus dilakukan tanpa kita mengorbankan pesan-pesan abadi pembaruan.

Tanpa itu, gagasan pembaruan akan dianggap oleh para audiens terdekatnya sebagai
tidak relevan, mengawang-awang. Gerbongnya hanya akan diisi oleh audiens-audiens
yang tua, menjadikan gerbong itu hanya berjalan lambat dan tertatih-tatih.
Peluit keretanya tidak akan disongsong para penumpang baru yang energik, pemilik
sesungguhnya masa depan.

Ihsan Ali-Fauzi Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina

Ulil Abshar-Abdalla
Salam,
Melihat perkembangan di Indonesia saat ini, ada perasaan frustasi
yang menyayat-nyayat dalam diri saya. Apakah Indonesia masih bisa
ditolong?

Berita yang selalu menyayat saya adalah perkembangan kebebasan agama
di tanah air yang sedang memasuki situasi “kalabendu” atau kegelapan.
Demi menjaga kesucian akidah (=Islam), nyawa ribuan anggota jamaah
Ahmadiyah berada dalam ancaman.

Bahwa pemerintah saat ini tidak berani mengambil sikap tegas untuk
menolak desakan pembubaran Ahmadiyah, buat saya, adalah memalukan.
Saya ingin mengatakan: SHAME ON YOU, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO!

Hari ini, saya membaca berita, pemerintah menunda penerbitan SKB yang
direkomendasikan oleh Bakor Pakem untuk membubarkan Ahmadiyah. Buat
saya, pemerintah tak perlu waktu lama untuk mengambil keputusan yang
sudah jelas dan terang-benderang ini, yakni melindungi setiap
penduduk untuk menjalankan keyakinan mereka tanpa pandang bulu.
Itulah aturan main yang ditetapkan dalam konstitusi. Kalau kelompok
yang dianggap sesat oleh golongan mayoritas bisa diberangus, lalu apa
beda negeri ini dengan sebuah teokrasi, negara agama, negara MUI,
negara kaum Sunni yang bisa memaksakan sebuah fatwa menjadi ketentuan
hukum yang mengikat?

Bahwa pemerintah Susilo terombang-ambing mengambil keputusan yang
tegas dalam soal yang sudah jelas dan “cetha wela-wela” ketentuannya
ini, adalah memalukan sekali. SHAME ON YOU SUSILO! SHAME!

Saya mengirim sebuah kolom ke Harian Kompas beberapa waktu lalu,
tetapi hingga sekarang tak (atau belum?) dimuat. Saya tak tahu,
kenapa. Saya mengatakan dalam kolom itu, bahwa Presiden Susilo (saya
tak suka memakai singkatan SBY; kebiasaan singkat-menyingkat atau
membuat akronim ini sebaiknya dihindari) perlu belajar dari kasus
segregasi rasial di Arkansas, AS, dan ketegasan Presiden Dwight
Eisenhower pada waktu itu.

Alkisah, pada bulan September 1957, gubernur negara Arkansas, Orval
Faubus, melarang sembilan murid hitam untuk masuk sekolah kembali di
Central High School di kota Little Rock, Arkansas. Ini adalah bagian
dari warisan diskriminasi rasial yang masih bertahan kuat di kawasan
selatan Amerika hingga saat itu. Kebijakan Gubernur Faubus ini
menimbulkan protes luas di luar negara bagian Arkansas dan menjadi
liputan media massa selama berhari-hari.

Setelah beberapa minggu, akhirnya Presiden Dwight Eisenhower turun
tangan. Dia memerintahkan Gubernur Faubus untuk mencabut
keputusannnya itu. Bukan hanya itu. Presiden Eisenhower mengirimkan
pasukan dari Divisi Airborne 101 ke Little Rock pada tengah malam
tanggal 23 September. Keesokan harinya, 24 September, sembilan murid
hitam yang menjadi korban rasisme itu dikawal oleh pasukan federal ke
sekolah. Pasukan itu mengawal mereka sepanjang perjalanan dalam bus
hingga masuk ke kelas. Membaca kisah ini pertama kali, saya begitu
terharu.

Diskrimnasi tak dibenarkan oleh konstitusi Amerika, dan untuk itu
Presiden Eisenhower dengan tegas sekali membatalkan kebijakan rasis
Gubernur Faubus, mengirim pasukan secara langsung untuk memastikan
bahwa hak-hal murid hitam tak diganggu oleh kaum kulit putih yang
rasis.

Saya membayangkan, Presiden Susilo bisa meniru (walau sedikit saja)
ketegasan Presiden Einsenhower itu. Saya membayangkan, Presiden
Susilo mengatakan dengan tegas ke rakyat Indonesia bahwa kebebasan
melaksanakan keyakinan tak bisa diganggu oleh siapapun. Pemerintah
tak bisa melakukan negosiasi apapun dalam masalah yang mendasar ini.

Saya membayangkan, Presiden Susilo menyampaikan pidato dengan “daya
pesonanya” yang terkenal itu dan mengatakan dengan kalimat yang
sederhana berikut ini: Wahai bangsaku, keyakinan adalah hak dasar
setiap manusia. Kalian tak bisa memaksakan keyakinan kepada orang
lain. Kalian boleh punya anggapan bahwa suatu keyakinan adalah sesat.
Tetapi kalian tak bisa membubarkan suatu kelompok karena keyakinan
mereka. Tak bisa!

Presiden Susilo, bisakah saya berharap dari anda sedikit ketegasan
dalam hal yang menyangkut hak mendasar dari seluruh manusia ini,
masalah keyakinan?

Presiden Susilo, anda tak butuh waktu lama untuk merenung dan
menentukan keputusan dalam masalah ini. Perkaranya sudah jelas:
manusia tak bisa dipaksa untuk pindah agama, mengubah keyakinan hanya
karena desakan lembaga fatwa atau umat mayoritas.

Kalau anda tunduk pada desakan lembaga fatwa dan umat mayoritas, maka
sekali lagi, SHAME ON YOU!

Presiden Susilo, jika Ahmadiyah benar-benar dilarang di Indonesia,
maka “raison d’etre” atau alasan keberadaannya sbagai negara yang
melindungi seluruh “nasion”, bukan umat agama tertentu, sudah
selesai. Indonesia sudah selesai!

Kalau itu terjadi, SELAMAT DATANG DI NEGERI TEOKRASI! SELAMAT
MENJELANG ZAMAN KALABENDU!

*Fatwa ttg Kesesatan Hizbut Tahrir (I)*
Penulis: Syaikh Al Albani
Firqoh-Firqoh, 01 Juli 2003, 04:11:53
Pada suatu kesempatan ada dua pertanyaan yang keduanya bertemu pada satu
titik berkenaan dengan Hizbut Tahrir (selanjutnya disingkat HT).

Pertanyaan Yang Pertama :

Saya banyak membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya kagum terhadap banyak
pemikiran-pemikiran mereka, saya ingin Anda menjelaskan atau memberikan
faedah pada kami dengan penjelasan yang ringkas tentang Hizbut Tahrir ini.

Pertanyaan Yang Kedua :

Sehubungan dengan permasalahan- permasalahan tadi akan tetapi si penanya
menghendaki dariku penjelasan yang sangat luas tentang Hizbut Tahrir,
sasaran, atau tujuan-tujuannya, serta pemikiran-pemikiran nya, dan apakah
semua sisi negatifnya merembet ke dalam permasalahan akidah?

Saya (Syaikh Al Albani) menjawab atas dua pertanyaan tadi :

Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari
perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah
(Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta di
atas manhaj (jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada
dalam kesesatan yang nyata! Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb)
apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur’an, Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka
akan berakibat atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu
(dalam dakwahnya) ikhlas.

Pembahasan saya kali ini tentang golongan-golongan Islamiyah yang mereka
semua harus ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menginginkan nasehat
kebaikan bagi umat sebagaimana dalam hadits yang shahih :

“Agama itu adalah nasehat”, kami (para shahabat) berkata : “Bagi siapa ya
Rasulullah?” (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) bersabda : “Bagi
Allah dan bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi Imam-Imam kaum Muslimin, dan
mereka (kaum Muslimin) pada umumnya.” (Imam Muslim menyendiri dalam lafadz
hadits hadits ini dari hadits Tamim Ad Dari)

Karena Allah telah berfirman dalam Al Qur’an tentang permasalahan ini :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut : 69)

Maka barangsiapa yang jihadnya karena Allah ‘Azza wa Jalla dan berdasarkan
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta di atas
manhaj Salafus Shalih merekalah orang-orang yang dimaksud dalam ayat :

“Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu.” (QS.
Muhammad : 7)

Manhaj Salafus Shalih ini adalah dasar yang agung maka dakwah setiap
golongan kaum Muslimin harus berada di atasnya. Berdasarkan pengetahuan
saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya
berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang
ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh.

Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada
manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.

Dan saya (Al Albani) tidak menyebut satu jamaah tadi sebuah hizb (sekte)
karena mereka tidak berkelompok dan tidak berpecah belah serta tidak fanatik
kecuali kepada Kitabullah, Sunnah Rasul, dan manhaj Salafus Shalih, dan
sungguh saya tahu persis tentang hal ini. Dan akan lebih jelas bagi kita
semua betapa pentingnya dasar yang ketiga ini dalam kaitannya dengan nash
syar’i yang dinukil dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam baik yang
berhubungan dengan Al Qur’an maupun As Sunnah.

Pada kenyataannya, jamaah-jamaah Islamiyah sekarang ini, demikian pula
kelompok-kelompok Islamiyah sejak awal munculnya penyimpangan terus
merajalela serta menampakkan taringnya di antara jamaah-jamaah Islamiyah
yang pertama (yaitu mulai timbulnya Khawarij) pada masa Amirul Mukminin Ali
bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, kemudian sejak mulainya Jaad bin Dirham
mendakwahkan (pemikiran) Mu’tazilah dan sejak munculnya firqah-firqah yang
dikenal nama-namanya di zaman dulu serta berhubungan dengan wajah-wajah baru
di zaman sekarang dengan nama-nama yang baru pula. Mereka itu baik yang dulu
maupun yang sekarang tidak terdapat padanya perbedaan, tak satupun di antara
mereka yang menyatakan dan mengumandangkan bahwasanya mereka di atas manhaj
Salafus Shalih.

Semua kelompok-kelompok ini dengan perselisihan yang ada pada mereka, baik
dalam masalah akidah, dasar-dasar atau permasalahan- permasalahan hukum dan
furu’ (cabang-cabang) , semuanya menyatakan berada di atas Kitab dan Sunnah,
akan tetapi mereka berbeda dengan kita, karena mereka tidak mengatakan apa
yang kita katakan, yang perkataan itu merupakan kesempurnaan dakwah kita.
Yakni (perkataan) berada di atas manhaj Salafus Shalih.

Maka atas dasar ini, siapa yang menghukumi golongan-golongan ini, yang
mereka semua ber-intima’ (menisbatkan diri) walaupun minimal secara
perkataan bahwa dakwahnya di atas Kitab dan Sunnah, dan bagaimana hukum yang
pasti (tentang mereka), karena mereka semua mengatakan dengan perkataan yang
sama?

Jawabannya, tidak ada jalan untuk menghukumi golongan-golongan di antara
mereka bahwa mereka di atas yang haq (benar), kecuali apabila dibangun di
atas manhaj Salafus Shalih. Sekarang pada diri kita timbul satu pertanyaan :
“Dari mana (atas dasar apa, pent.) kita mendatangkan manhaj Salafus Shalih?”

Jawabannya, sesungguhnya kita mendatangkan dasar yang ketiga ini dari
Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan
sebagaimana yang telah ditempuh oleh Imam-Imam Salaf dari kalangan shahabat
dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah
seperti halnya yang mereka katakan saat ini. Dalil yang pertama adalah
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan selain jalannya orang-orang Mukmin, Kami palingkan dia
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang Mukmin”)) dihubungkan dengan firman Allah ((“Dan barangsiapa
menentang Rasul”)). Maka seandainya ayat ini berbunyi ((“Dan barangsiapa
yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami palingkan dia
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali”)) yakni tanpa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”)) niscaya ayat
ini menunjukkan kebenaran dakwah golongan-golongan dari kelompok-kelompok
tadi baik yang di zaman dahulu maupun yang sekarang ini, karena mereka
mengatakan kami di atas Kitab dan Sunnah. Mereka tidak mengembalikan
permasalahan- permasalahan yang mereka perselisihkan kepada Kitab dan Sunnah,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

” … kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa : 59)

Apabila Anda mengajak (berdakwah) kepada salah satu dari jumhur ulama mereka
dan salah satu dari da’i mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka mereka akan berkata, “Saya mengikuti
madzhabku”, yang lain menyatakan, “madzhabku adalah Hanafi”, yang lain
menyatakan, “madzhabku adalah Syafi’i”, dan seterusnya.

Mereka taqlid kepada Imam-Imam mereka sebagaimana mereka mengikuti
Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka apakah benar
mereka mengamalkan ayat ini? Tidak sama sekali dan sekali-kali tidak. Oleh
sebab itu apa faedahnya pengakuan mereka bahwasanya mereka di atas Kitab dan
Sunnah selama mereka tidak mengamalkan keduanya.

Dari contoh ini, tidaklah saya menghendaki untuk orang-orang yang taqlid
(awam, pent.) dari mereka, akan tetapi yang aku kehendaki dengannya adalah
para da’i Islam yang seharusnya tidak menjadi orang yang taqlid belaka, yang
mengutamakan pendapat para Imam yang tidak ma’shum keadaannya.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menyebutkan kalimat di pertengahan
ayat tadi secara sia-sia, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan
dengannya menanamkan satu pokok yang sangat penting, suatu patokan yang
sangat kokoh yaitu tidak boleh kita semata-mata bersandar pada akal dalam
memahami Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam.

Kaum Muslimin hanyalah dikatakan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah baik
secara pokok-pokoknya dan patokan-patokannya, apabila di samping berpegang
pada Al Qur’an dan Sunnah, mereka juga berpegang dengan apa yang ditempuh
oleh Salafus Shalih. Karena ayat di atas mengandung nash yang jelas tentang
dilarangnya kita menyelisihi jalannya para shahabat.

Artinya wajib bagi kita mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
dan tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita
untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya. Dari
sini kita menyatakan bahwa wajib atas tiap golongan/kelompok/ jamaah
Islamiyah untuk memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar
kepada Al Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih.

Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang
ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.
Sedangkan kelompok-kelompok yang mengumandangkan perang dengan Islam seperti
partai Baats dan partai komunis, maka mereka tidak (masuk) dalam pembicaraan
kita sekarang ini.

Oleh karena itu seyogyanya seorang Muslim dan Muslimah hendaknya mengetahui
bahwa suatu garis kalau sudah bengkok pada awalnya (pangkalnya) maka akan
semakin jauh dari garis yang lurus. Dan setiap ia melangkahkan kakinya akan
semakin bertambahlah penyelewengannya. Maka jelas yang lurus adalah
sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ayat Al
Qur’an :

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am : 153)

Ayat yang mulia ini jelas Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan)
sebagaimana disukai dan biasa diucapkan oleh Hizbut Tahrir dan sekte-sekte
lain dalam dakwahnya, tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya. Dalil yang
Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan) , karena ayat ini menyatakan :
“Sesungguhnya jalan yang bisa menuju pada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
satu, dan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang menjauhkan kaum
Muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menambahkan keterangan dan
penjelasan terhadap ayat ini sebagaimana keberadaan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam itu sendiri (menjelaskan dan menerangkan Al
Qur’an, pent.). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al Qur’anul
Karim kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An Nahl : 44)

Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah penjelas yang sempurna
terhadap Al Qur’an, sedangkan Al Qur’an adalah asal peraturan/undang- undang
dalam Islam. Untuk memperjelas suatu permasalahan pada kita agar lebih mudah
untuk dipahami, saya (Syaikh Al Albani) berkata : “Al Qur’an bila
diibaratkan dengan sistem peraturan buatan manusia adalah seperti
undang-undang dasar dan As Sunnah bila diibaratkan dengan sistem peraturan
buatan manusia adalah seperti penjelasan terhadap undang-undang dasar
tersebut.”

Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang
pasti bahwa tidak mungkin bisa memahami Al Qur’an kecuali dengan penjelasan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan ini adalah perkara yang telah
disepakati.

Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum Muslimin sehingga menimbulkan
berbagai pengaruh setelahnya yaitu bahwa semua firqah sesat dahulu tidak mau
memperhatikan dasar yang ketiga ini yaitu mengikuti Salafus Shalih, maka
mereka menyelisihi ayat yang aku sebutkan berulang-ulang :

” … dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang Mukmin.” (QS. An
Nisa : 115)

Mereka menyelisihi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah satu yaitu sebagaimana yang disebut dalam ayat
terdahulu :

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am : 153)

Saya (Syaikh Al Albani) berpendapat, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam menambahkan penjelasan dan keterangan pada ayat ini dari riwayat
salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang
terkenal faqih (fahamnya terhadap dien) yaitu Abdullah Ibnu Mas’ud
radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengatakan :

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membuat satu garis
untuk kami, sebuah garis lurus dengan tangan beliau di tanah, kemudian
beliau menggaris disekitar garis lurus itu garis-garis pendek. Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan (menunjuk) pada
garis yang lurus dan beliau membaca ayat (yang artinya : “Dan bahwa (yang
Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya”.

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sambil menunjuk jarinya
pada garis lurus, “ini adalah jalan Allah”, kemudian menunjuk pada
garis-garis yang pendek di sekitarnya (kanan-kirinya) dan bersabda, “ini
adalah jalan-jalan dan pada setiap pangkal jalan itu ada syaithan yang
menyeru manusia padanya.”

Hadits ini ditafsirkan dengan hadits lain yang telah diriwayatkan oleh Ahlus
Sunan seperti Abu Dawud, Tirmidzi, dan selain dari keduanya dari Imam-Imam
Ahlul Hadits dengan jalan yang banyak dari kalangan para shahabat seperti
Abu Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik, dan yang selainnya dengan sanad yang
jayyid. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72
golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan,
semuanya ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para shahabat) bertanya :
“Siapa dia ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda
: “Dia adalah apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya.”

Hadits ini menjelaskan kepada kita jalannya kaum Mukminin yang disebut dalam
ayat tadi. Siapakah orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam ayat itu?
Meraka itulah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
pada hadits Al Firaq, ketika beliau ditanya tentang Firqatun Najiah
(golongan yang selamat), manhaj, sifat, dan titik tolaknya. Maka Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “apa yang aku dan para shahabatku
berada di atasnya.”

Maka jawaban ini wajib diperhatikan, karena merupakan jawaban dari
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Jika bukan wahyu dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala maka itu adalah tafsir dari Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam terhadap jalannya orang-orang Mukmin yang terdapat pada
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah sesudah jelas kebenaran baginya
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin.”

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan jalannya orang-orang Mukmin. Sementara itu
(dalam hadits, pent.) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan
tanda Firqatun Najiah yang tidak termasuk 72 golongan yang binasa.
Sesungguhnya Firqatun Najiah adalah golongan yang berdiri di atas apa yang
ada pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat.

Maka pada hadits ini kita akan dapati apa yang kita dapati pula dalam ayat.
Sebagaimana ayat tidak membatasi penyebutan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam saja, demikian pula hadits tidak membatasi penyebutan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saja. Di samping itu ayat juga menyebutkan
jalannya orang-orang Mukmin demikian pula dalam hadits terdapat penyebutan
“shahabat Nabi” maka bertemulah hadits dengan Al Qur’an. Oleh sebab itu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat
selama berpegang teguh dengan keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnahku dan
tidaklah terpisah keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah) sampai keduanya datang
kepadaku di Haudl.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatha’-nya, Al Hakim
dalam Mustadrak-nya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’
hadits nomor 2937)

Banyak golongan-golongan terdahulu maupun sekarang yang tidak berdiri di
atas dasar yang ketiga ini sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an
dan Hadits. Pada hadits di atas disebutkan tanda golongan yang selamat yaitu
yang berada di atas apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dan para shahabatnya. Semakna dengan hadits ini adalah hadits Irbadl
ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu yang termasuk salah satu shahabat Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari kalangan Ahlus Shufah, yakni mereka dari
kalangan fuqara’ yang tetap berada di Masjid dan menghadiri halaqah-halaqah
(majelis taklim) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam secara langsung
dan bersih. Berkata Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi nasehat kepada kami yang
membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang (karena terharu).
Kami berkata : “Ya Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka
berilah kami wasiat.” Maka beliau bersabda : “Aku wasiatkan kepada kamu
sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan senantiasa
mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak.
Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan
melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian
berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat
petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham
kalian, dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan
agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah. Dan
setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.” (HR. Abu Dawud,
Tirmidzi. Berkata Tirmidzi, hadits ini hasan) Hadits ini merupakan (penguat)
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak membatasi perintahnya
kepada umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnahnya saja ketika mereka
berselisih akan tetapi beliau menjawab dengan uslub/cara bijaksana, dan
siapa yang lebih bijaksana dari beliau setelah Allah? Oleh sebab itu tatkala
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa di antara kalian yang hidup (berumur panjang) setelahku maka
dia akan melihat perselisihan yang banyak.”

Beliau juga memberikan jawaban dari soal yang mungkin akan muncul
(dipertanyakan) : “Apa yang kita lakukan ketika itu wahai Rasulullah?” Maka
Rasulullah menjawab : “Wajib atas kalian mengikuti sunnahku.” Dan Rasulullah
tidak mencukupkan perintahnya terhadap mereka yang hidup pada waktu terjadi
perselisihan dengan hanya mengikuti sunnah beliau, akan tetapi
menggabungkannya dengan sabda beliau :

” … dan sunnahnya Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.”

Jika demikian halnya, maka seorang Muslim yang menginginkan kebaikan pada
dirinya dalam masalah akidah, dia harus kembali pada jalannya orang-orang
Mukmin (para shahabat) bersama dengan Kitab (Al Qur’an dan As Sunnah) yang
shahih dengan dalil ayat dan hadits Al Firaq (perpecahan) serta hadits dari
Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu.

Inilah kenyataan yang ada dan sangat disesalkan bahwasanya hal ini banyak
dilalaikan oleh semua hizbi-hizbi/ sekte-sekte Islamiyah masa sekarang ini
sebagaimana keberadaan firqah-firqah yang sesat, khususnya kelompok Hizbut
Tahrir yang berbeda dengan sekte-sekte lainnya di mana Hizbut Tahrir dalam
melaksanakan Islam menggunakan akal manusia sebagai tolok ukurnya.
(Bersambung ke vol. II)