Muenster, 04 Mei 2008

Luka Ibu Yang Menyusui Ahmadiyah
Dewi Candraningrum*

Telah cukup lengkap kesejarahan Ahmadiyah di Indonesia yang
dinarasikan oleh sejarawan LIPI Asvi Warman Adam dalam esei
singkat “Belajar dari Sejarah Ahmadiyah” di Harian Jawa Pos Kamis 28
April lalu. Renda persaudaraan yang erat dan saling mengikat antara
NU, Muhammadiyah dan Ahmadiyah merupakan fakta kesejarahan yang
dapat dihikmati dengan cinta dan kasih. Narasi persaudaraan ini
merupakan pelipur lara bagi kawan-kawan Ahmadiyah yang telah
kehilangan rumah ibadahnya. Yang telah dibakar habis dalam amunisi
kemarahan pemaksaan mazhab. Pemaksaan ini telah dilegitimasi oleh
dua Fatwa MUI tahun 1980 dan 2005 yang memunculkan kata sesat pada
Jemaat Ahmadiyah. Setelah sejak tahun 1920-an hidup berdampingan
secara damai dengan penganut lain, kawan-kawan Ahmadiyah dirompak
luka. Ibu-ibu dan anak-anak berlari-lari tergopoh-gopoh dalam
ketakutan ketika masjid-masjid mereka dibakar hangus sampai habis.
Pun, teror menghantui kehidupan para keluarga Ahmadiyah di
Indonesia. Tak terkecuali, ibu-ibu dan anak-anak Ahmadiyah menderita
trauma psikososial untuk kembali menjalani hidup yang normal sebagai
bagian dari peri kewarganegaraan Indonesia, yang seharusnya dijamin
oleh negara. Negara telah menjadi lalai untuk menjamin hak
berkehidupan yang aman dari rasa takut dan ancaman teror.

Susu Kehidupan Yang Sat dan Kering
Raut muka penuh luka ini telah pula dirupakan oleh Nur Azizah dari
Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) pada 4 Mei, dalam berita “Lagi, Ibu
dan Anak Korban Kekerasan terhadap Ahmadiyah”. Dalam laporannya,
banyak anak-anak di Parakan Salak Sukabumi mengalami trauma sehingga
malu untuk pergi ke sekolah. Kantor YJP dan KOMNAS HAM menerima
pengaduan trauma psikologis anak-anak dan ibu-ibu yang melihat
masjid mereka dibakar oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kekerasan
psikologis ini merupakan kelanjutan dari stempel fatwa MUI. Menyebut
Liyan sebagai berkeyakinan sesat telah memasuki ruang kekerasan
epistemik. Liyan dicitrakan sekaligus dinarasikan sebagai tidak
memiliki kemampuan menempuhi jalan yang benar. Sementara MUI telah
melegitimasi diri menempuhi jalan paling benar, sedangkan Liyan,
yaitu Ahmadiyah, adalah menyimpang dan tersesat dari jalan Islam.
MUI tidak menghitung konsekuensi sosial dari penyebutan atas Liyan
sebagai sesat. MUI tidak menghitung dera luka psikososial yang
dialami kawan-kawan Ahmadiyah, pun kawan-kawan Muslim, yang melihat
aksi-aksi teror dan kekerasan ini. Pula, MUI tidak menghitung wajah-
wajah para perempuan dan anak-anak yang dirundung trauma sosial
untuk menjadi warga negara yang normal. Bagaimana dapat menjadi
warga negara yang normal kalau hak atas berkeyakinan dan beragama
telah ditebas oleh pernyataan sesat? Para ibu yang menyusui anak-
anak Ahmadiyah seperti telah sat habis dan kering untuk menyediakan
susu kehidupan bagi anak-anaknya. Trauma psikologis yang menimpa
seorang ibu dapat menyebabkan keringnya air susu ibu. Dan, apakah
ini bau kesturi perjuangan Islam yang dicanangkan oleh Muhammad SAW?
Tentu saja tidak. Muhammad SAW adalah pengasih perempuan dan
penyayang anak-anak. Muhammad SAW mengajari pernghormatan pada ibu.
Pun, telapak kaki ibu merupakan metafora lokasi surga.

Setangkai Daffodil untuk Ibu Ahmadiyah
Jerman menjadi saksi atas Quran yang pertama kali ditarjamah menjadi
bahasa Jerman oleh kawan Jemaat Ahmadiyah. Pengikut mujadid Mirza
Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah di India pada 1889, tidak hanya
mengembara di Indonesia. Pula, ke Eropa pada tahun 1920-an. Masjid
pertama dan tertua di Jerman, didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah di
Berlin, Wilmersdorfer Moschee pada 1924, yang terkenal dengan
sebutan Masjid Berliner. Dan, Quran tarjamah bahasa Jerman pertama
ditulis oleh kawan Ahmadiyah, Imam Sadr-ud-Din pada 1939. Jamaat
Ahmadiyah dikenal dengan motto Muslim yang damai dan toleran.
Meskipun mendapat kritik keras dari Orthodoks Islam, Ahmadiyah
berdiri tegak dengan motto perdamaian.

Secara tidak sengaja, Sabtu 3 Mei lalu, saya dan seorang kawan
menyempatkan diri berkunjung ke salah satu masjid Ahmadiyah di kota
Muenster Jerman. Baitul Momin yang berdiri megah di Hiltrup
pinggiran kota Muenster ini menyala dalam terpa matahari musim semi.
Maret lalu Daffodil putih dan kuning yang mekar cantik menyala
menghiasi secara acak pinggiran jalan menuju Bait-ul-Momin Moschee,
masjid yang dibangun pada tahun 2003 ini. Selain ada masjid Arab dan
masjid Turki, di Munster berdiri pula Tarekat Burhaniya yang
kebanyakan diikuti oleh para Muslim Jerman. Hidup berdampingan
secara damai. Pemerintah Jerman tidak perlu mengeluarkan surat
geledah atau surat sesat atas aliran-aliran tersebut. Bahkan,
perkumpulan Muslim Indonesia di Jerman paling kuat diorganisir oleh
PIP-PKS, salah satu partai Islamis Indonesia. Banyak akivis Pusat
Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera ini aktif menjadi
pengurus di FORKOM (Forum Komunikasi Muslim Indonesia Jerman).
Pemerintah Jerman memberi nafas luar biasa longgar pada gerakan-
gerakan Islam ini. Bahkan, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah
Jerman telah pula didirikan pada awal 2007 lalu. Bunga Daffodil
putih dan kuning yang mekar indah di lahan rerumputan Jerman telah
menyediakan atmosfer berkehidupan bebas dalam meyakini pandangan
dunia tertentu untuk memburu Tuhan. Tuhan telah menghembus nyawa
Daffodil untuk hidup berdampingan secara damai dengan bunga-bunga
lainnya yang mekar silih berganti di musim semi yang kaya warna.

Berhenti di pinggir jalan, saya cabut satu bunga Daffodil putih, dan
saya berikan kepada salah satu ibu dalam masjid Ahmadiyah
itu. “Syukron, vielen Dank”, jawabnya dengan lembut dan penuh kasih.
Setelah ditanya darimana, dan saya menjawab dari Indonesia, Ibu ini
menitikkan air mata. Sepertinya, Ibu ini mengetahui bahwa Jemaat
Ahmadiyah di Indonesia telah dikejar teror yang dahsyat. Kami pun
sholat bersama dan bersembah doa untuk ibu-ibu dan anak-anak
Ahmadiyah yang sedang menjemput horor dalam pekik tangis menyaksikan
rumah ibadahnya dibakar di Indonesia.

Selamatkan Ibu dan Anak Ahmadiyah dari Kekerasan
Islam mendaulah kemanusiaan dengan memperkenalkan kasih, cinta,
budi, dan peri kehidupan yang adil dan beradab. Muhammad SAW, sang
peneguh cinta kasih, adalah tiang segala kasih dan cinta. Muhammad
tidak memperkenalkan cara-cara menyesati, menciderai, dan membakar
para saudara dan bahkan musuh sekalipun. Muhammad selalu
memperbawakan kasih dan cinta kepada dunia. Aksi penyesatan,
penyerangan, dan pembakaran rumah ibadah Jemaat Ahmadiyah adalah
aksi tidak Islami. Aksi yang tidak merahmati zaman. Aksi yang tidak
diliputi semangat Muhammad. Aksi, yang sekaligus, melanggar asasi
kemanusiaan kawan-kawan Ahmadiyah. Penghargaan terhadap Jemaat
Ahmadiyah merupakan kesturi wangi Muhammad SAW. Semoga Allah SWT,
Rab Yang Maha Agung, memberikan penerang dan jalan keindahan, jalan
kasih pada para pemimpin Islam. Semoga tidak amnesia dan cepat lupa-
diri lupa-hati menyesatkan Liyan. Jalan cinta adalah jalan
kemanusiaan. Ketika cinta yang dibimbing oleh ibu yang melahirkan
dan menyusui anak-anak Ahmadiyah. Amin.

Keberpihakan pada ibu-ibu dan anak-anak Ahmadiyah yang mendapatkan
kekerasan ini telah digalang oleh berbagai LSM perempuan: Yayasan
Jurnal Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia, Aliansi Bhinneka
Tunggal Ika, LBH Jkt, Inst Ungu, Komunitas Ungu, Our Voice, Inst
Pelangi Perempuan, Lajnah Imaillah Ahmadiyah, Perempuan Mahardhika,
Srikandi Demokrasi Indonesia, PCIM Jerman, dll. Bersama berjalan
dalam hening dan damai pada Kamis depan 08 Mei 2008 pukul 09.00 pagi
di Bundaran HI Jakarta. Pada Rabu 07 Mei pukul 11.00 akan digelar
konferensi pers di kantor YJP, dengan dilanjutkan testimoni ibu-ibu
dan anak-anak Ahmadiyah, pemutaran film dokumenter kekerasan
terhadap Ahmadiyah, dan pernyataan sikap oleh Prof Siti Musdah Mulia
(Ketua Umum ICRP), Mariana Amiruddin (Dir YJP) dan Masruchah (Sekjen
KPI). Selamatkan Ibu dan Anak Ahmadiyah dari Kekerasan! Bergabunglah!

TEMPO 4 MEI 2008

CARUT-MARUT persoalan Ahmadiyah memasuki babak baru. Dua pekan lalu,
Badan Aliran Kepercayaan Masyarakat menerbitkan rekomendasi bahwa
organisasi keagamaan yang telah ada di bumf Nusantara sebelum Republik
berdiri itu menyimpang dari Islam dan diminta menghentikan kegiatannya.

Sebuah surat keputusan bersamadisiapkan oleh Jaksa Agung, Menteri
Dalam Negeri, dan Menteri Agama sedang digodok untuk menindaklanjuti
rekomendasi tersebut. Ada kabar, bakal keluar larangan bagi Ahmadiyah
menyebarkan ajarannya di Indonesia.

Di sisi lain, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Adnan Buyung
Nasution, dengan tegas membela Ahmadiyah. Pengacara berambut perak itu
menyebut pelarangan Ahmadiyah melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tabun
1939 tentang Hak Asasi Manusia sekaligus Undang-Undang Nomor 12 Tabun
2005 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional mengenai hak sipil dan
politik yang menjamin dan melindungi warga negara dalam beribadah dan
berkeyakinan.

Di tengah pro-kontra yang kembali bergulir, bekas Ketua Umum
Muhammadiyah Amien Rais menawarkan jalan tengah mengatasi persoalan
Ahmadiyah. la mengusulkan agar Ahmadiyah dilarang menyebarkan
ajarannya secara terbuka, tapi masih boleh secara tertutup. Dan hak
hidup mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus dijaga.

Senin malam pekan lalu, di tengah kesibukannya menerima tamu dan
bersiap menunaikan ibadah umrah, Amien Rais menerima Nugroho Dewanto,
Grace S. Gandhi, dan Budi Riza dari Tempo di rumahnya di kawasan
Gandaria, Jakarta Selatan, untuk wawancara khusus. Berikut ini petikannya.

Tempo: Menjelang peringatan sepuluh tahun Reformasi, salah satu
komponen bangsa, yaitu Ahmadiyah, dianggap menyimpang dan
direkomendasikan untuk menghentikan kegiatannya. Padahal, di mass Orde
Baru saja, mereka bisa hidup damai….

Amien Rais: Di zaman Orde Lama, mereka juga bisa hidup tenang. Saya
mencium ada kelompok siluman yang melakukan semacam operasi Intel
untuk memperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat.
Munculnya masalah Ahmadiyah seperti konflik Islam-Kristen di Ambon
dulu yang amat mengejutkan, karena sebelumnya tidak pernah terjadi.
Padahal hubungan harmonis antara penganut Islam dan Kristen di sang
tadinya selalu menjadi contoh kebanggaan nasional. Ketika berkunjung
ke luar negeri, wring kali kita menyebut bahwa Pancasila telah
memungkinkan anakanak bangsa yang berbeda agama bisa bekerja sama
secara harmonis dan rukun. Tidak ada pertentangan, apalagi sampai
konfrontasi fisik.

T: Mengapa Anda menyebut siluman? Bukankah organisasi yang menentang
Ahmadiyah jelas, seperti Forum Umat Islam?

AR: Itu kan organisasi yang muncul. Yang muncul jelas konkret. Bagian
dari umat Islam. Tapi yang merekayasa ini harus dicari.

T: Apakah Anda mendapat informasi intelijen soal kelompok siluman ini?

AR: Tidak ada sama sekali. Tapi kriminalisasi dan demonisasi Ahmadiyah
ini sebuah rekayasa politik dan psikologi massa. Ini musibah. Umat
Islam harus hati-hati.

T: Sudah berapa lama Anda mengenai Ahmadiyah?

AR: Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak saya kecil. Ketika saya
masuk Universitas Gadjah Mada pada 1962, saya lihat beberapa tokoh
universitas ada yang menjadi penganut Ahmadiyah. Yang terkenal itu
Doktor Ahmad Djojosoegito. Mereka juga punya sekolah teknik menengah
dan sekolah menengah atas di Yogyakarta.

T: Selama ini masyarakat tidak ada masalah dengan mereka?

AR: Sama sekali tidak ada. Mengapa dalam dua tahun terakhir ini
diributkan? Kalau Ahmadiyah dikatakan menyimpang dari akidah Sunni,
sejak lahirnya, ya, sudah menyimpang. Ahmadiyah Qadian ataupun Lahore
menganggap Mirza Gulam Ahmad sebagai Imam Mandi.

T: Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat telah
merekomendasikan Ahmadiyah menghentikan kegiatan mereka….

AR: Saya menyayangkan mengapa badan itu ketika membuat rekomendasi
tidak sekaligus melarang umat Islam melakukan kekerasan atau merusak
masjid atau kantor milik Ahmadiyah. Perusakan itu perbuatan yang tak
islami. Kalau ada rekomendasi itu, mungkin orang-orang yang mau
melakukan kekerasan akan berpikir dulu. Rekomendasi itu tidak bijak
karena tak melihat implikasi sosial, politik, psikologi, clan
keagamaan dari yang direkomendasikan.

T: Sekarang pemerintah sedang menggodok surat keputusan bersama
tentang Ahmadiyah. Apa implikasinya jika Ahmadiyah harus dilarang?

AR: Kalau dilarang akan menjadi preseden yang luar biasa. Kapan-kapan
kalau ada sebuah sekte muncul dan tidak sesuai dengan selera Berta
pandangan keimanan mainstream, kembali akan dihajar, dengan diktum
sebagai aliran sesat dan ramai-ramai akan dikeroyok massa. Masalah ini
sudah masuk ke wilayah yang amat sangat rumit dan sensitif, sudah
karut-marut. Tapi tampaknya pemerintah seolah-olah tidak tabu.

T: Maksudnya?

AR: Mengapa tiba-tiba Ahmadiyah dijadikan sasaran? Apalagi melibatkan
aksi massa yang melibatkan ribuan orang dan well-organized. Ini
menimbulkan tanda tanya. Saya curiga persoalan ini sengaja dimunculkan
supaya masyarakat lupa akan persoalan kenaikan harga bahan pokok, dari
kegagalan pemerintah mengatasi kondisi infrastruktur yang sudah
hancur-hancuran. Supaya masyarakat lupa akan kenyataan bahwa
pemerintah ini sudah broken government.

T: Anda curiga pemerintah berada di batik aksi anti-Ahmadiyah? Kalau
benar, bukankah kekerasan ini membuat citra pemerintah menjadi jelek
menjelang pemilihan umum?

AR: Saya kira ini tidak langsung berhubungan dengan pemilihan umum.
Tapi di mana pun, pemerintah yang sedang anjlok citranya karena tidak
bisa mengatasi masalah mendasar yang dihadapi rakyatnya biasanya
menjadi kreatif dan inovatif menciptakan isu yang tahan agak lama.

T: Tujuannya?

AR: Untuk memalingkan perhatian masyarakat dari pengangguran yang
membengkak, kelaparan, dan kesengsaraan. Dulu Bung Karno mengganyang
Malaysia. Padahal Malaysia tidak ada salahnya. Tiap hari pawai, sampai
lupa inflasi sudah 900 persen. Lupa bahwa di desa atau di kota sudah
ada orang yang makan tikus bakar. Rakyat jadi asyik masyuk dengan
konflik dan melupakan, bukan sejenak-dua jenak, tapi cukup lama
kesusahannya. Saya bisa saja keliru, tapi untuk menganut agama yang
dia pilih. Anak kecil juga hafal Surat AlKafirun: lakum dinukum
waliyadin, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Ini mengajari kita semua
supaya ada koeksistensi secara damai di antara pemeluk agama berbeda.
Dalam AlQuran juga dikatakan, “Barang siapa ingin kafir, silakan
kafir. Barang siapa ingin beriman, silakan beriman.”

T: Jadi tidak ada paksaan dalam beragama?

AR: Yang paling penting, tidak ada paksaan dalam beragama. Saya
membaca tarikh Nabi, beliau tidak pernah mengajari supaya sekte yang
dianggap menyimpang dibasmi dengan kekerasan. Orang kafir juga harus
dilindungi karena punya hak hidup.

T: Konstitusi kita juga menjamin kebebasan orang beribadah?

AR: Ya, itu jelas sekali. Jadi Tuhan untuk menganut agama yang dia
pilih. Anak kecil juga hafal Surat AlKafirun: lakum dinukum waliyadin,
bagimu agamamu, bagiku agamaku. Ini mengajari kita semua supaya ada
koeksistensi secara damai di antara pemeluk agama berbeda. Dalam
AlQuran juga dikatakan, “Barang siapa ingin kafir, silakan kafir.
Barang siapa ingin beriman, silakan beriman.”

T: Jadi tidak ada paksaan dalam beragama?

AR: Yang paling penting, tidak ada paksaan dalam beragama. Saya
membaca tarikh Nabi, beliau tidak pernah mengajari supaya sekte yang
dianggap menyimpang dibasmi dengan kekerasan. Orang kafir juga harus
dilindungi karena punya hak hidup.

T: Konstitusi kita juga menjamin kebebasan orang beribadah?

AR: Ya, itu jelas sekali. Jadi Tuhan sang Maha Pemurah dan pencipta
langit dan bumi telah menciptakan keragaman. Ya, sudah.

T: Secara politik, apa sebenarnya yang dikhawatirkan dari Ahmadiyah?

AR: Ahmadiyah bukan gerakan politik. Bahkan istilah jihad di tangan
Ahmadiyah jadi melempem. Buat mereka, jihad berarti berdakwah saja.
Jadi keliru kalau ada yang menganggap Ahmadiyah akan mengembangkan
negara syariah. Beberapa stasiun televisi mereka di Eropa hanya bicara
tentang ajar-an Islam, akhlak, dan ekonomi.

T: Bagaimana profil orang Ahmadiyah?

AR: Di Pakistan mereka tetap eksis. Mereka naik haji ke Mekkah dan
Madinah, juga tetap salat lima waktu. Bahkan setahu saya, banyak
jenderal angkatan taut, darat, dan udara di Pakistan orang Ahmadiyah.
Bahkan pemenang Nobel Fisika, Dr Abdussalam, juga orang Ahmadiyah.
Jadi mereka itu sekumpulan orang intelektual. Bahkan, kalau mau jujur,
yang menyiarkan agama Islam di Eropa, ya, orang-orang Ahmadiyah lewat
stasiun televisi dan stasiun radio..

T: Mungkinkah persoalan Ahmadiyah dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat,
karena ada partai yang kencang mendukung pelarangan Ahmadiyah?

AR: Saya yakin sekali tidak akan sampai ke Dewan. Kalau mengharapkan
Dewan memvonis Ahmadiyah, itu mission impossible.

T: Mengapa?

AR: Saya agak paham peta di Dewan. Membuat semua anggota Dewan yang
fraksinya berbeda-beda mengompori pemerintah agar melarang Ahmadiyah,
itu tidak terbayangkan. Unthinkable. Ya, mungkin ada satu-dua fraksi
yang ingin melarang Ahmadiyah. Tapi, berdasarkan pengalaman saya,
Dewan akan selalu kembali ke titik tengah. Tidak mau diajak ekstrem.

T: Bagaimana sebaiknya jalan tengah untuk Ahmadiyah?

AR: Sekalipun Ahmadiyah dianggap aliran yang menyimpang dari tradisi
Sunni, di luar mazhab Hambali, Maliki, Hanafi, Syafei, hak hidup
mereka harus dihormati. Itu konsekuensi dari konstitusi kita. Nah,
jalan tengahnya, Ahmadiyah dilarang menyebarkan secara terbuka
keimanannya, secara tertutup bolehlah. Tapi, karena mereka bagian dari
tubuh bangsa Indonesia, boleh tetap ada. Wong jadi komunis juga boleh,
kok.

T: Bagaimana dengan tuntutan agar Ahmadiyah diminta keluar dari Islam?

AR: Enggak betul itu. Yang punya Islam itu Allah. Saya meratapi
mengapa sepertinya benang emas Quran itu dilupakan. Kalau kita kembali
ke Quran, kita kan disuruh menyeru kepada kebenaran, kepada agama
Allah dengan cara yang baik, kearifan, mujadalah yang indah, debat
yang sejuk, wonderful. Tidak ada dalam AlQuran menyuruh mengepalkan
tinju dan memburu orang yang berbeda pendapat. Saya setuju pernyataan
Din Syamsuddin: “Jangan paksakan Ahmadiyah keluar dari Islam.” Sebab,
mereka memang tidak mau. Mereka merasa Islam.

T: Bagaimana bila Ahmadiyah akhirnya dilarang, masjid-masjidnya ditutup?

AR: Itu akan membuat Indonesia jadi negara yang sangat tidak simpatik.

T: Apa yang akan Anda lakukan?

AR: Ya, saya tidak setuju saja. Wong saya cuma rakyat biasa.

T: Siapa yang untung dengan karut-marut persoalan Ahmadiyah?
Yang untung yang tidak senang Indonesia tenteram.

__._,_.___

Robertus Robet

Kandidat Doktor Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Struktur kekuasaan Indonesia kontemporer didominasi oleh persilangan dua logika dasar: pertama, ekonomi kapitalis yang makin telanjang di satu sisi, dan kedua, gaya hidup beragama yang makin marak di sisi yang lain. Hasil dari persilangan ini adalah suatu bangunan imperatif yang akan berbunyi: “Nikmati kapitalisme sepuas-puasnya, tapi beragamalah sedalam-dalamnya. ”
Secara behavioralis, kombinasi ini ditunjukkan dalam postur pemerintahan sekarang, yang didominasi para saudagar, ekonom anjuran IMF di satu sisi berdampingan dengan para politisi dari partai agama dengan ide anti-Barat yang relatif kencang di sisi yang lain. Di wilayah lain, secara kultural, kenyataan ini dikonfirmasikan melalui pujian Presiden terhadap film Ayat-ayat Cinta yang laris itu. Film yang menggambarkan secara persis kombinasi logika kapitalisme (nikmati dunia/cinta romantik sebesar-besarnya) di satu sisi dan gaya beragama di sisi lain. Bagaimana perselingkuhan logika kapitalisme dan agama ini dijelaskan?
Perselingkuhan kapitalisme dan agama sudah berlangsung sejak lama dan menjadi perhatian dari berbagai pemikir. Menurut Weber, Protestanisme mengajarkan “Bekerjalah sekuat tenaga, tapi nikmati hasilnya sesedikit mungkin.” Summum Bonum dari etika ini dijabarkan Weber dengan “the earning of more and more money, combined with the strict avoidance of all spontaneous enjoyment of life” (Weber, 1968 dalam Lemert, hlm. 100). Ini yang disebutnya dengan Asketisisme Protestan yang merupakan inti logika kapitalisme. Di sini kerja, penikmatan dunia, dan agama berkorelasi. Walau demikian, di dalam Weber, korelasi itu berjalan secara terbalik: maksimalitas kapitalisme hanya mungkin direguk apabila diikuti dengan represi atas penikmatannya. Di sini represi atas kenikmatan bukan hanya memberikan efek akumulasi bagi kapital, tapi sekaligus juga memberikan aura transendental terhadap kapitalisme.
Sebelumnya, di dalam Marx, kombinasi kerja dan kenikmatan ini dipisahkan dalam jurang antagonisme kelas. Kerja identik dengan kelas buruh yang terdegradasi hidupnya, sementara kenikmatan (yang merupakan implikasi dari kerja buruh) direguk sebagai pampasan dan dinikmati secara monopolistik oleh kelas kapitalis. Akibatnya, logika yang berlaku di sini adalah “buruh bekerja sekuat-kuatnya, pemilik modal menikmati sepuas-puasnya” . Sebagai kompensasi dari proses perampasan ini sekaligus sebagai jembatan dari jurang antagonisme itu diproduksi ideologi entah dalam bentuk agama-agama, atau bisa juga dalam bentuk seni-budaya. Dengan demikian, apabila di dalam Weber agama didefinisikan dalam hubungan yang transendental terhadap kapitalisme, di dalam Marx agama didefinisikan bersifat instrumental terhadap kapitalisme.
Walaupun demikian, meski berbeda dalam hal sudut pandang, di sini penalaran Weber dan Marx secara menarik bisa bertemu dalam suatu hubungan pendek: keduanya sama-sama melihat bahwa agama memiliki hubungan fungsional terhadap kerja kapitalisme. Bedanya, pada Weber hubungan itu didefinisikan dan dirayakan secara positif, sementara pada Marx dikritik dan didefinisikan sebagai negatif.
Lepas dari daya tarik dan akurasi analisis dari kedua pemikir di atas, logika ideologi kapitalisme kontemporer beroperasi secara sangat berbeda dan lebih kompleks jika dibandingkan dengan kapitalisme industri awal. Apabila pada Weber, kerja atau penderitaan didahulukan sebagai prasyarat bagi kenikmatan, maka kapitalisme sekarang justru bekerja dengan terlebih dulu menganjurkan kenikmatan, baru kemudian menandaskan kewajiban kerja. Ini yang di dalam filosofi Lacanian diringkas dalam satu kata: ENJOY! yang kebetulan merupakan petikan dari salah satu ujung tombak simbol komoditas global kapitalis paling dahsyat zaman kita, Coca-Cola. Nikmati, tapi nikmati dalam perintah.
Di dalam Lacan, mekanisme ini dijelaskan melalui konsep jouissance. Jouissance sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai enjoyment, akibatnya sering kali salah dimengerti karena diartikan semata-mata sebagai kenikmatan. Padahal, menurut Lacan, jouissance pertama-tama harus dilihat sebagai ekses dan kehilangan akibat tercerainya persatuan ibu-anak setelah anak mulai membentuk atau menemukan egonya. Jouissance adalah kenikmatan yang dicari sekaligus digerakkan sebagai kompensasi dari kehilangan permanen kenikmatan asali anak dalam kandungan ibu. Dengan demikian, jouissance adalah kenikmatan, tapi kenikmatan akibat kehilangan. Karenanya, di dalamnya sekaligus ada rasa sakit.
Dengan demikian, di sini kenikmatan itu dicari, ditemukan, tapi dengan segera hilang. Manusia hidup, tumbuh, dan dewasa dalam siklus hasrat-kehilangan ini. Kenyataan ini menghasilkan suatu kesimpulan yang fundamental, yakni bahwa dengan itu manusia tidak lebih adalah sebuah bidang kosong. Ia mencari, menemukan, sejenak merasa puas untuk kemudian kecewa lalu mencari-cari lagi. Persis ketika orang minum Coca-Cola, diminum, segar sejenak, untuk kemudian semakin merasa haus menjadi-jadi.
Logika jouissance ini secara tepat menjelaskan korelasi atau hubungan pendek antara logika kapital dan logika cara beragama kontemporer. Sementara pada kapitalisme yang bekerja adalah logika “semakin untung digandakan, bukan semakin cukup si kapitalis, justru semakin kurang dan semakin serakah mereka”. Logika yang sama terjadi di dalam cara beragama modern: “semakin perintah dan larangan dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin membuncah gelisah dalam rasa dosa dan bersalah”. Di sini baik kapitalisme maupun agama sama-sama bekerja dengan ambisi memimpin dan mengisi ruang kosong permanen subyek itu.
Akibatnya, pergeseran dalam sistem komando mental (super ego) menjadi tidak terhindarkan: yang semula ditafsirkan dan bersifat menjaga dan menghalangi hasrat berubah justru menjadi pendorong hasrat. Pada mulanya ia memerintah dengan “melarang”, berubah menjadi memerintah dengan membujuk, menganjurkan dan merayu. Contoh yang paling unik dan halus dari mekanisme ini bisa ditemukan dalam beragam komoditas baru yang menawarkan kenikmatan sekaligus pengamannya: Coca-Cola tanpa coke, kopi tanpa kafein, bir tanpa alkohol, perang tanpa perang, poligami tanpa poligami. Semuanya searah dengan mekanisme politik kepura-puraan baru seperti perang tanpa perang, neoliberalisme berbarengan dengan paket kesalehan. Di titik ini, hasil akhirnya adalah surplus modal berubah menjadi surplus kenikmatan. Reproduksi surplus ini yang terus dipertahankan, karena dari sinilah kekosongan baru ditangguk supaya bujukan komoditifikasi bisa terus disuguhkan.
Persilangan mental semacam inilah yang kiranya menjadi modus operandi perilaku politik dan sosial. Ini bisa dilihat secara makin jelas dalam berbagai fenomena kepolitikan belakangan ini, seperti berkolaborasinya politik agama dengan unsur infotainment dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah, bahkan pada propaganda politik di tingkat nasional. Ini pula yang kiranya dibaca dan dijadikan rujukan bagi orang-orang di seputar kepemimpinan politik imagologis Yudhoyono yang mendorongnya untuk setelah menonton film Ayat-ayat Cinta merasa perlu menonton lagi film Kun Fayakuun. Di sini bioskop yang sebelumnya bagi kalangan tertentu sering kali diharamkan– karena identik dengan tempat hiburan–justru jadi tempat “pensucian” yang diharapkan dapat mendatangkan simpati politik dan dukungan.

Koran Tempo

Sukabumi, akhir April 2008, serombongan orang menyerang dan merusak masjid
dan komunitas Ahmadiyah. Main hakim sendiri dan anarkhisme di dalam negara
yang memiliki konstitusi jelas, memperlihatkan ketidak mampuan penyelenggara
negara dalam menegakkan konstitusinya sebagai negara sekuler.

Perbedaan dengan sekelompok orang, tidak berarti memberi legitimasi
menghakimi apalagi menghukum dan bertindak anarkhis. Saya khawatir,
anarkhisme menggejala disegala segi kehidupan bangsa ini. Mulai dari hal
kecil, senggolan lalulintas, sampai pilkada atau apapun yang pada dasarnya
bentuk pemaksaan kehendak. Anarkhis yang merasuk ke dalam agama selalu
bermula dari perbedaan pemahaman, yang masih memerlukan argumentasi yang
panjang.

Kenapa jadi anarkhis? Apakah bangsa ini sudah sedemikian kerdilnya, seperti
anak kecil yang marah kalau terusik? Apakah menjadi anarkhis karena tidak
punya nurani? Apakah menjadi anarkhis karena ingin melanggar aturan? Atau
apakah menjadi anarkhis karena tidak menggunakan pikiran? Lebih mendasar dan
yang paling parah adalah bangsa ini sejak kecil tidak dididik untuk
berargumentasi, sehingga setiap masalah diselesaikan dengan otot bukan
dengan otak.

Jangan sampai kita sengaja di “isengi” oleh bangsa lain untuk memancing
kemarahan kita, yang kemudian mereka tertawa dibalik itu. Seperti hal nya
kita diusik masalah Reog Ponorogo yang membangkitkan kemarahan luar biasa
sampai demo ke Kedutaan Malaysia. Alangkah indahnya jika dari kecil
anak-anak mulai dididik untuk berargumentasi, sehingga lebih mendahulukan
otak dan kalau marah pun akan marah secara proposional. Semoga.

Salam

Baca dulu;
Komentar;
Ahmadiyah boleh-boleh saja dibilang murtad atau keluar dari garis Islam yang sebenarnya, karena kelompok ini dibilang mengakui Nabi terakhir selain Nabi Mohammad Saww. Itu pun kalo benar demikian.
Hal yang dipertimbangkan dalam fatwa MUI, apakah MUI berhak mengeluarkan perintah atau instruksi bahwa pemerintah harus menyetop ajaran Ahmadiyah. Say pikir itu sudah diluar wewenang MUI. MUI boleh saja menyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah itu  sesat mengingat badan fatwa. Untuk eksekusi dengan menyatakan bahwa Ahmadiyah itu harus dilarang, saya pikir itu adalah langkah di luar wewenang MUI.

Nomor : 130/PU/E/04/ 08
Jakarta, 30 April 2008 M

PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Tentang
“Anarkisme Terhadap Ahmadiyah”

Dalam beberapa hari terakhir, terjadi tindak anarkisme atau kekerasan
terhadap bangunan milik Ahmadiyah, di antaranya di desa Bojong Asih
Kecamatan Parakan Salak, Sukabumi. Terhadap kejadian ini, Hizbut Tahrir
Indonesia menyatakan:

1. Menolak tindakan anarkisme atau kekerasan terhadap Ahmadiyah, karena
tindakan anarkisme atau kekerasan ini tidak akan menyelesaikan masalah.
Sebaliknya, akan menguntungkan Ahmadiyah dan para pendukungnya, untuk
kemudian digunakan meraih simpati dan dukungan. Penyelesaian yang tepat
adalah pemerintah harus segera mengeluarkan keputusan untuk melarang dan
membubarkan Ahmadiyah. Selanjutnya, mengajak Jamaah Ahmadiyah untuk
kembali kepada agama Islam yang benar (rujuk ilal haq). Tapi, Hizbut
Tahrir Indonesia bisa memahami bila ada sebagian anggota masyarakat
bertindak sendiri, yang mungkin karena didorong oleh rasa kesal yang
memuncak melihat kelompok yang sudah dinyatakan sesat oleh Bakorpakem,
namun nyatanya tetap bebas bergerak. Tindakan anarkis seperti itu
mestinya tidak perlu terjadi, bila aparat pemerintah bertindak tegas
dengan segera melarang dan membubarkan Ahmadiyah.

2. Oleh karena itu, diserukan kepada pemerintah untuk bersegera
mengeluarkan keputusan melarang dan membubarkan Ahmadiyah. Dasar untuk
dikeluarkannya keputusan itu sesungguhnya sudah lebih dari cukup.
Bakorpakem pada 16 April 2008, berdasarkan hasil pemantauan selama 3
bulan terhadap Ahmadiyah, khususnya berkenaan dengan 12 poin yang
dikeluarkan oleh PB Jamaah Ahmadiyah Indonesia bulan Januari lalu, telah
menyatakan bahwa Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam. Ini mempertegas
rekomendasi Tim Pakem tahun 2005 untuk pemerintah melarang Ahmadiyah.
Sebelumnya, di tahun 1980 dan 2005 MUI, bahkan juga OKI dalam Majma’
fiqh al Islami di Jeddah tahun 1985, telah mengeluarkan fatwa tentang
kesesatan Ahmadiyah. Karena itu, pemerintah tidak perlu ragu terhadap
keputusan tersebut.

3. Menyerukan kepada pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat luas
untuk mewaspadai kemungkinan adanya provokasi oleh pihak tertentu yang
mendorong masyarakat untuk bertindak anarkis terhadap Ahmadiyah dengan
tujuan untuk mendiskreditkan Islam dan menimbulkan simpati terhadap
Ahmadiyah.

4. Menyerukan kepada para ulama’, tokoh masyarakat, partai dan
ormas Islam untuk bersatu di barisan Islam, dan tidak berpihak kepada
Ahmadiyah, agar tidak diadudomba untuk kepentingan mereka, dan merugikan
kepentingan Islam dan umatnya.

5. Menyerukan kepada umat Islam untuk sungguh-sungguh berjuang bagi
penerapan syariah dan tegaknya Khilafah yang mampu melindungi kesucian
ajaran Islam dan akidah umat. Karena hanya dengan cara itu sajalah
segala penyimpangan Islam dapat diatasi dengan cara yang tepat dan
kerahmatan Islam bagi sekalian alam (rahmatan lil `alamiin) dapat
benar-benar diwujudkan.

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796
Email: Ismaily@telkom. net

Kawan-kawan yang budiman,

Ceramah mutakhir Prof. emeritus Bernard Lewis (Princeton University), mungkin bermanfaat bagi yang tertarik isu-isu Orientalisme dan “Middle Eastern and Islamic Studies”.

http://www.asmeasch olars.org/ ASMEAConferenceH ighlights/ tabid/820/ Default.aspx

Beberapa komentar singkat dari ceramah singkatnya itu,

1). Orang Arab/Islam/Turki tidak tertarik dengan peradaban lain, berbeda dengan para Orientalist Eropa. Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab (Turki termasuk) tidak melakukan kajian-kajian luar Peradaban (kecuali penerjamahan filsafat Greek yang kemudian sangat membantu transmisi), dan juga tidak tertarik belajar tentang bahasa dan peradaban yang mereka kuasai (Afrika, Eropa, Asia).

2). Bahasa Arab berkembang semata-mata sebagai bahasa klasikal dan skriptural, seperti halnya Hebrew dan Aramaic, bukan sebagai ‘bahasa modern”, sehingga perkembangannya terbatas, tidak melampaui sebagai bahasa klasik dan skriptural, dan tidak mempengaruhi ilmu pengetahuan modern.

3). Menurut Lewis, ada beberapa hambatan terhadap perkembangan Studi Timur Tengah antara lain: a. postmodernism b. political correctness dan imposed orthodoxies, sehingga kajian Islam yang obyektif tidak berkembang c. multiculturalism

4). Lewis kembali melakukan kritik balik terhadap “Orientalism” ala Edward Said sebagai semata-mata bermotifkan imperialist. Menurut Lewis,Orientalism justru berperan dalam preservasi pengetahuan bangsa lain, penerjemahan, editing, publishing, dan sebagainya. Ada macam-macam Orientalism: philological, theological (classical Orientalism: ada manfaat dan keterbatasan) , polemical (mempertahankan Kristen atas ancaman Islam), indisciplinary approaches (historican, political scientist, etc).

5) Lewis melihat adanya kecenderungan clash of disciplines (historical, political science, theology, etc), padahal mestinya menurut dia harus ada mutual recognition atau (menurut saya “rich fertilization” ).

6). Namun demikian, saya kira, Lewis masih melihat dikotomi Arab/Islam/Turki Usmani dan Erope/Barat sebagai berbeda secara diametral. Sejarah menunjukan kondisi diametral itu. Ada “karakter” historis bangsa Arab yang menyebabkan perkembangan kajian di dunia Arab tidak maju, berbeda dengan bangsa Eropa dan sekarang AS.

7). Lewis kurang/tidak mengakui kompleksitas dunia Islam di masa modern, dan masih melihatnya sebagai identik dengan the Arab world; Lewis tidak menyentuh perkembangan di luar the Middle East, seperti Asia (termasuk Asia Tenggara). Banyak pengkaji dari Asia Tenggara mulai memberikan perhatian terhadap Middle East, Eropa, dan Amerika, sehingga interaksi peradaban makin berkembang, dan dikotomi Timur-Barat mengalami pengaburan yang cukup berarti dalam tradisi ilmiyah.

8). Pendapat Lewis ini “melengkapi” pendapat postmodernist seperti Edward Said, seperti kita tahu. Ada semacam self-reflection dalam ceramah Lewis mengenai Orientalism dan kritik terhadap pembacaan post-modernist seperti Said yang melihat Orientalism semata-mata berkonotasi dominasi. Namun, tesis inti Lewis masih tetap: antagonisme bangsa dan perabadan Arab (yang identik dengan Islam) dan bangsa/peradaban Eropa (identik dengan Judeo-Christianity)

Selamat mencermati dan berpikir,

Salam,

Oleh/By: IRSHAD MANJI
TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA (Bahasa Translation)

Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh: Herlina Permata Sari
Translated from the English Language by Herlina Permata Sari

Documentary

dvd cover
Irshad’s PBS Documentary: Faith Without Fear follows my journey around the world to reconcile Islam and freedom.

Learn More and View Clips…

Buy Now in the USA
Buy Now in Canada

Get Involved

photo
Irshad is pioneering efforts throughout the world to promote Muslim reform and moral courage. To join her mission, first get informed about all that she’s doing.

Click here for concrete actions you can take to support Irshad’s work.

Get Updates

Want to know more about what Irshad’s doing? Sign up to her confidential mailing list.

Click here to see an archive of Irshad’s previous newsletters.

1. persoalan istilah “Islam liberal”, yang oleh uni dinilai eksklusif dan
mengarah ke arah pengkotak-kotakan, sebenarnya kembali mengingatkan kita
pada refleksi harian tokoh Islam liberal kita, Ahmad wahib. ya, karena
selama ini kita hanya tahu islam menurut Abduh, Islam menurut Cak nur, Islam
menurut bla..bla..bla. Tapi, ketika wahib ingin tahu Islam menurut
pemahamannya sendiri, ia pun akhirnya berkata: “itu kan juga Islam menurut
saya (wahib)”. Dalam konteks inilah kita meletakkan pemikiran liberal dalam
Islam, yang oleh Kurzman disebut “liberal islam”. hanya saja,

2. Islam Liberal hanya liberal dalam pembacaannya terhadap teks dan wacana.
Tapi, maaf, tidak liberatif terhadap yang tertindas. malah sebaliknya,
cenderung menindas yang tertindas, dengan tawaran wacanaa yang sama sekali
disconnect dengan wacana rakyat tertindas. Gus Dur itu, dalam kategori Greg
Barton adalah tokoh kelas wahid Islam Liberal. tapi, dalam gerakan
politiknya, cenderung otoriter dan sama sekali tidak demokratis (ingat!
cita-cita Gus Dur ingin jadi tentara). Pendekatannya demokratis liberal,
tapi aktualisasi gerakan politiknya cenderung tidak demokratis. Jadi, maaf,
omong kosong belaka Islam Liberal.

3. saya justru ingin meletakan Islam Liberal, dalam konteks usaha liberatif
Dr. Farid Esack menentang rezim penindas apartheid di Afrika Selatan dengan
merekontruksi teologi-teologi pluralis dalam al-Qur’an untuk menggalang
“inter-faith solidarity” menentang rezim penindas. Nah, bagaimana kita
meletakkan wacana Islam Liberal di Indonesia, untuk menggalang solidaritas
antar iman dalam rangka melawan rezim penindas dari tokoh Islam Liberal itu
sendiri.

Ada dua buku yang dapat menjadi bacaan penting
karena membahas konsepsi dasar Islam Liberal.
Pertama: Islamic Liberalism. Kedua, Liberal Islam, a
source book. Dengan membaca dua buku itu, minimal
sudah
ada kesamaan minimum tentang persepsi apa itu Islam
Liberal.

Secara sengaja kita harus menempelkan kata Liberal
di samping Islam, karena yang akan kita perjuangkan
bukan interpretasi Islam yang lain, tapi interpretasi
Islam yang liberal, yang sesuai dengan prinsip dasar
negara moderen seperti yang berkembang di negara maju.
Mengapa Islam Liberal penting? Demokrasi hanya mungkin
terkonsolidasi di negara yang mayoritasnya muslim,
hanya jika masyarakat muslim percaya bahwa prinsip
dasar demokrasi itu sama dengan prinsip dasar
(interpretasi) Islam. JIka tidak, selalu terjadi
ketidak sepakatan yang memecah belah atas the rule
of game demokrasi. Dikwatirkan lagi jika ketidak
sepakatan itu tak hanya sebatas wacana, namun mengarah
kepada kekerasan fisik.