<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My Lefties Weblog</title>
	<atom:link href="http://islamkiri.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamkiri.wordpress.com</link>
	<description>Islam Yang Teduh, Damai, dan Universal</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Apr 2011 02:12:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='islamkiri.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>My Lefties Weblog</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://islamkiri.wordpress.com/osd.xml" title="My Lefties Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://islamkiri.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Penjelasan Aqidah Ahmadiyah</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2011/03/16/penjelasan-aqidah-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2011/03/16/penjelasan-aqidah-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 09:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[From: &#8220;Rezha&#8221; &#60;rezha.rochadi@gmail.com&#62; Salaam, Melihat jamaah Ahmadiyah yg terus menerus &#8216;diobok2&#8242; secara tidak adil, saya pribadi merasa miris dan sedih. Untuk alasan itulah, saya mau berbagi pandangan saya ttg beberapa masalah pokok aqidah Ahmadiyah ini. Mungkin bisa membantu untuk mengoreksi beberapa kesalahpahaman yg beredar di masyarakat soal beberapa isu aqidah Ahmadiyah yg hendak saya jelaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=32&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>From: </strong> &#8220;Rezha&#8221; &lt;<a href="mailto:rezha.rochadi@gmail.com" target="_blank">rezha.rochadi@gmail.com</a>&gt;</p>
<p>Salaam,</p>
<p>Melihat jamaah Ahmadiyah yg terus menerus &#8216;diobok2&#8242; secara tidak adil,  saya pribadi merasa miris dan sedih. Untuk alasan itulah, saya mau  berbagi pandangan saya ttg beberapa masalah pokok aqidah Ahmadiyah ini.  Mungkin bisa membantu untuk mengoreksi beberapa kesalahpahaman yg  beredar di masyarakat soal beberapa isu aqidah Ahmadiyah yg hendak saya  jelaskan ini.</p>
<p>Tulisan saya ini hanya mewakili sosok MGA saja, bisa jadi berbeda dengan  apa yg dipahami pihak Ahmadiyah Qadian maupun Ahmadiyah Lahore. Saya  pribadi pun bukan pengikut Ahmadiyah, baik itu mahzab Lahore maupun  Qadian. Tapi saya tetap mencintai mereka layaknya saya mencintai kaum  muslim lain pada umumnya. Berikut sebagian rujukan yg sudah saya  klarifikasi, silahkan dicek lg rujukan2 yg kupakai:</p>
<p>1) Permasalahan Kenabian.</p>
<p>Nabi secara bahasa artinya adalah &#8216;pembawa berita&#8217;. &#8216;Berita&#8217; yg dimaksud  disini adalah An-Naba&#8217; (Berita-berita Besar). Jadi Nabi adalah istilah  teknis yg khas sebagai lokus turunya An-Naba&#8217;, yaitu khazanah2 Ilmu-Ilmu  Allah yang khusus.</p>
<p>Dan seperti yang kita tahu, berita besar itu Allah turunkan secara  bertahap. Ada berita tentang pertaubatan (Nabi Adam as), berita tentang  jihad (Nabi Daud as), berita tentang As-Sa&#8217;ah (Nabi Isa as), dan  puncaknya adalah berita tentang kehidupan akhirat (Nabi Muhammad saw).  karena ujung dr penciptaan itu akhirat, maka logis kalau Rasulullah saw  adalah pembawa berita terakhir (khataman nabiyyin ).</p>
<p>Urusan kenabian sudah berakhir dengan turunnya Rasulullah Muhammad saw,  dalilnya QS 33:40: &#8220;&#8230;tapi dia (Muhammad saw) adalah Rasul Allah, dan  Khataman Nabiyyin&#8221;. Kenabian sudah berakhir karena &#8220;berita besar&#8221;  (an-Naba&#8217;) yang harus dibawa nya sudah paripurna. Yaitu berita tentang  akhirat (Fyi, satu2nya Nabi yang dengan detil memberitakan kehidupan  alam akhirat adalah Nabi Muhammad saw) setelah itu tersampaikan berita  apa lagi yg tersisa. karena itu urusan kenabian sudah berakhir.</p>
<p>MGA pun mengakui bahwa HANYA dan HANYA Muhammad saw lah Khatmn Nabiyyin  itu, dan MGA menolak klw dirinya disebut sebagai Nabi sebagaimana yg  sering dituduhkan:</p>
<p>&#8220;Agar menjadi jelas bagi mereka bahwa saya mengutuk orang yang mengaku  sebagai nabi. Saya yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad  adalah Utusan-Nya, dan saya percaya (pada) berakhirnya kenabian pada  Nabi Suci. Jadi, dari pihak saya tidak ada pengakuan sebagai nabi, hanya  sebagai Wali dan Mujadid…&#8221; (Majmu&#8217;a Ishtiharat, edisi lama, jilid iii,  hlm. 224. edisi 1986, jilid 2, hlm. 297-298).</p>
<p>&#8220;Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah  Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah  beliau (Rasulullah SAW), adalah orang yang tidak beriman dan berada  diluar lingkungan Islam.&#8221; (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir Wajibul  I&#8217;lan, 1891)</p>
<p>&#8220;Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya  bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman  Nabiyyin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami  meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai  Khatamul Anbiya dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat,  yakni seperseratus ribu dari yang itupun tidak dilakukan oleh  orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka  tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam Khatamun  Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari  tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka  tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna  mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih  tahu) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai  Khatamul Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun  Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang  telah diminumkan kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus  yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang  memang telah kenyang minum dari mata air ini juga.&#8221; (Hadhrat Mirza  Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman 342)</p>
<p>2) Pewaris An-Naba&#8217; melalui Ulama Pewaris Nabi atau Cerminannya Nabi  (Buruzi Nabiyyin) atau Bayang-bayangnya Nabi (Zilalun Nabiyyin)</p>
<p>Khazanah2 An-Naba&#8217; memang sudah selesai semua diturunkan dan ditutup  oleh Muhammad saw. Tp walau sudah sekedar &#8216;turun&#8217;, jg belum &#8216;terbuka&#8217;  semua khazanahnya, &#8216;terbuka&#8217; dalam arti bener2 bertajalli secara nyata.  Makanya itu dibutuhkan pewaris yang mengestafetkan khazanah-khazanah  An-Naba&#8217;, yaitu para Wali2 Allah..yg &#8216;membuka&#8217; khzanah yg sudah trun  scara lengkap itu..krn hanya &#8216;membuka&#8217; dr khazanah yg sudah  turun..istilah yg dipake ada &#8216;pewaris&#8217; seperti dalam hadist &#8220;ulama  adalah pewaris para Nabi&#8221;. Krn yg namanya &#8216;mewarisi&#8217; tidak ada hal yg  baru atas apa yg sudah diwariskan, hanya mengestafetkan saja, tp bukan  sekedar estafet, tp mentajallikan jg scara konkret dr khazanah yg  sebelumnya masih tersembunyi (walau sudah &#8216;turun&#8217;). Tentu pewaris  khazanah (Ana-Naba&#8217;) para Nabi bukanlah Nabi itu sendiri.</p>
<p>Untuk menjadi pewaris dari khazanah An-Naba&#8217; dari Nabi-Nabi tertentu  itu, sang pewaris harus menjadi cermin/pantulan (buruzi) atau bayangan  (zili) dari Nabi tertentu, sehingga disebutnya &#8216;Cerminannya Nabi&#8217;  (Buruzi Nabiyyin) atau &#8216;Bayang-bayangnya Nabi&#8217; (Zilalun Nabiyyin), yang  BERBEDA secara hakiki dengan Nabi itu sendiri &#8211;khazanah ini dalam  tradisi Islam sudah lama dikaji, pertama kali dikaji keilmuannya secara  komprehensif oleh ulama perawi hadist masyhur yg jg terkenal sebagai  Ulama sufi, Imam Hakim Tirmidzi dalam kitabnya &#8216;Khatmn Awliya&#8217;.</p>
<p>Istilah buruzi dan zili Nabiyyin ini juga yang dipakai oleh MGA:</p>
<p>&#8220;Kenabian saya adalah zili (bayangan/pantulan) dari Nabi Suci Muhammad,  bukan kenabian asli (yang nyata atau sebenarnya)&#8221; (Haqiqat-ul-Wahy  hlm.150, catatan kaki; RK, jilid 22, hlm. 154)</p>
<p>&#8220;Nabi adalah barang nyata (asli), dan wali adalah zili&#8221; (Karamat-us-Sadiqeen, hlm. 85, RK, jilid 7, hlm. 127).</p>
<p>&#8220;Seluruh Umat setuju bahwa seorang non-nabi (ghair nabi) dapat menjadi  (menempati maqom) seorang nabi secara buruz (bayangan/cermin). Ini  adalah arti hadis: `Ulama dari Umatku seperti para nabi bangsa (bani)  Israel&#8217;. Lihatlah, Nabi Suci telah menyatakan bahwa ulama seperti para  nabi. Satu hadis mengatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Hadis  lain mengatakan: Di antara para pengikutku, selalu akan ada<br />
empat puluh orang yang menyerupai hati Ibrahim. Dalam hadis ini, Nabi  Suci telah menyatakan mereka menyerupai/seperti Ibrahim&#8221; (Ayyam as-Sulh,  hlm. 163; RK, jilid 14, hlm. 411).</p>
<p>Jadi, menurut Mirza Ghulam Ahmad, buruz (bayangan/cerminan) Nabi Suci Muhammad adalah seorang NON-NABI (GHAIR NABI).</p>
<p>Sebagai komparasi, saya kutipkan juga pernyataan yang identik dari Wali  Quthb di kalangan Sunni yg sudah sangat masyhur diakui kewalian dan  keilmuannya,</p>
<p>Syaikh Abdul Qadir Jailani juga mengatakan: &#8220;Seseorang naik sampai ia  datang pada posisi tempat ia menjadi pewaris dari setiap rasul, nabi,  dan siddiq&#8221; (Futuhul Ghaib, Maqalah 4, hlm. 23)</p>
<p>3) Al-Masih</p>
<p>Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, setiap Wali pewaris Nabi harus  mewarisi An-Naba tertentu &#8212; yang sebelumnya dimiliki khazanahnya pada  seorang Nabi. Misal Syaikh Abdul Qadir Jailani terkenal memiliki banyak  sekali karomah, karena mewarisi khazanah Nabi Musa as yg memiliki banyak  Mukjizat,</p>
<p>Untuk kasus MGA, karena beliau digelari al-Masih, maka khazanah Kenabian  yg diwarisinya adalah Isawiyyah, dari Nabi Isa as. Dengan kata lain,  MGA adalah cerminan (buruzi) atau bayangan (zili) dari khazanah Nabi Isa  as, tapi tetap harus bersyariat penuh pada syariat yg dibawa Rasulullah  saw sebagai konsekuensinya sebagai bagian dari umat Rasulullah saw.</p>
<p>4) Muhaddats, kaum bukan Nabi yg dimampukan berdialog langsung dengan Allah.</p>
<p>Rasulullah saw ber sabda, &#8220;Di antara bani Israel sebelum kalian, dulu  pernah muncul orang-orang yang Tuhan berbicara kepada mereka, meskipun  mereka bukan para nabi, dan bila ada seorang di antara pengikutku, ia  adalah Umar&#8221;.(HR Bukhari, Bab Keutamaan Umar).</p>
<p>Di dalam literatur tasawuf Islam, terdapat banyak sekali catatan-catatan  dialog seorang Wali Allah &#8211;yang bukan Nabi&#8211; dengan Rabbnya, tak  terkecuali disini adalah catatan2 dialog MGA dengan Allah yg bisa banyak  ditemukan dalam kitab-kitabnya, seperti Tadzkirah misalnya.</p>
<p>5) Kalau soal &#8220;al-mahdi&#8221;, menurut pendapat saya (subjektif), sih, enggak  satu tetapi banyak. Istilah &#8220;al-mahdi&#8221; itu secara bahasa &#8220;yg sudah &#8216;ala  hudan&#8221; (tetap dalam petunjuk, pen), jadi bisa siapa saja yang &#8216;sudah  tetap diatas petunjuk&#8217; (lihat QS [2]:5). Kalau istilah &#8220;al-mahdi  al-muntadzar&#8221; atau al-mahdi yang ditunggu-tunggu (Imam Mahdi), itu baru  cuman satu. Tetapi, ya, tokohnya nanti datang belakangan di akhir zaman.  Saya pribadi belum menemukan pernyataan MGA langsung bahwa MDA mendakwa  dirinya sebagai Imam Mahdi Al-Muntadzar yg akhir zaman itu, yg ada  hanyalah tafsiran2 orang2 Ahmadiyahnya saja &#8211;sebagaimana yg bisa  dilihat dalam situs2 mereka.</p>
<p>Semoga bermanfaat. Wallahu&#8217;alam bishowwab.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Rezha</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=32&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2011/03/16/penjelasan-aqidah-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/25/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/25/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 09:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut. Penyerangan, Bukan Bentrok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=30&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="item_body" class="bodytext">Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas<br />
Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam<br />
(FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan<br />
telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah.<br />
Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita<br />
yang mulai cenderung salah arah tersebut.<br />
Penyerangan, Bukan Bentrok<br />
Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini â€œbentrokanâ€ antara<br />
massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu<br />
mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.<br />
Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian<br />
massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan<br />
dimulaiÂ dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang<br />
lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI<br />
mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan<br />
kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin<br />
dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu<br />
meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu<br />
kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan<br />
pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah<br />
serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab<br />
kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka<br />
kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan.<br />
Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang<br />
melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB<br />
bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan,<br />
puluhan orang menderita luka.<br />
Tidak Ada Provokasi<br />
Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan<br />
provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang<br />
itu adalah â€œlaskar setan atau iblis.â€ Itu adalah dusta besar. Faktanya,<br />
acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada<br />
peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu<br />
Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar<br />
dilakukan oleh AKKBB.<br />
Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpinÂ serangan FPI pada<br />
saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI:<br />
â€œSaya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.â€<br />
Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab<br />
bisa dilihatÂ dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: â€œPada pertemuan<br />
terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, â€œUstadz Alfian,<br />
hari minggu siang kita perang.â€Â Â Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan<br />
bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai<br />
1000 kosong.<br />
Menjelang bubar, MunarmanÂ menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari<br />
itu belum apa-apa: â€œKita belum memenangkan pertempuranâ€¦ Berikutnya kita akan<br />
datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad.<br />
Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan. Munarman juga menyampaikan:<br />
â€œSudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan<br />
konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan<br />
di HI dan di depan RRI.â€<br />
Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat bahwa FPI memang melakukan<br />
serangan secara terencana dan bukan insidental.<br />
Senjata Api<br />
Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini,<br />
oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan<br />
kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila<br />
dengan tema â€œSatu Indonesia untuk Semua.â€ Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi<br />
damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka<br />
kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi<br />
peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah<br />
ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format<br />
damai.<br />
Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita<br />
merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi<br />
hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di<br />
lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya<br />
dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat<br />
umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet.<br />
Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB<br />
sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan<br />
atribut serupa.<br />
Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: â€œKami tidak bisa<br />
dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah merekaâ€¦.â€<br />
(Sabili No. 25 Th. XV).Â <br />
Keluar Rute<br />
Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena<br />
tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju<br />
Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke<br />
pelataran Monas.<br />
Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang<br />
dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui<br />
adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang<br />
melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni<br />
belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan<br />
Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada<br />
satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu<br />
memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa<br />
AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu<br />
kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang<br />
tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam<br />
perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.<br />
Menipu Peserta<br />
Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan<br />
ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi<br />
peserta aksi. Ini juga adalah dusta.<br />
Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang<br />
dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di<br />
pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu<br />
ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai<br />
cara.<br />
Pengalihan Isu BBM<br />
Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut<br />
sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang<br />
sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB<br />
yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa<br />
bukti disebut untuk mengalihkan isu.<br />
Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya<br />
yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang.<br />
Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan<br />
serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan.<br />
Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.<br />
Saidiman<br />
www.saidiman.wordpress.com</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=30&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/25/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Blaspheming&#8221; Islam?</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/25/blaspheming-islam/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/25/blaspheming-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 09:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[A CONTROVERSY broke out recently in Indonesia over a minority sect that originates in India, Ahmadiyah. It claims that its founder, Mirza Ghulam Ahmad, is a prophet. As the majority of Muslim believe in the finality of Muhammad&#8217;s prophethood, this claim came as a big shock to them. It amount to dismantling the very foundation [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=29&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A CONTROVERSY broke out recently in Indonesia over a minority sect that<br />
originates in India, Ahmadiyah. It claims that its founder, Mirza<br />
Ghulam Ahmad, is a prophet. As the majority of Muslim believe in the<br />
finality of Muhammad&#8217;s prophethood, this claim came as a big shock to<br />
them. It amount to dismantling the very foundation of Islam.</p>
<p>Members of the above mentioned sect still believe in Muhammad as the<br />
last prophet tasked by God to convey the last divine message to the<br />
humankind. However, in addition to this, they believe that the founder<br />
of the sect came as a &#8220;messiah&#8221;, in addition to being a prophet, whose<br />
task is to strengthen the prophecy of Muhammad and spread his message.<br />
He didn&#8217;t claim to bring new &#8220;covenant&#8221; or message from God.</p>
<p>They are also of the opinion that what ends with the death of Muhammad<br />
is not prophecy in general. Muhammad sealed off what they called &#8220;the<br />
prophecy that conveys a divine law&#8221;, nubuwwat al-tashri&#8217;.<br />
Mirza Ghulam Ahmad, the founder of the sect, is not a prophet in that<br />
sense; he is a prophet in the sense of rejuvenating the divine law<br />
propagated by Muhammad before. In other words, he is prophet/renewer, mujaddid.</p>
<p>The difference between orthodox Islam and Ahmadiyah on this particular<br />
issue is very thin. It is merely a matter of interpretation.</p>
<p>As a matter of fact, Ahmadiyah members adhere to the same doctrines and<br />
embrace the same rituals as other Muslim do. They pray five times a day<br />
facing to Ka&#8217;aba exactly in the same way as other Muslim do. They visit<br />
Mecca to fulfill the fifth pillar of Islam, hajj or pilgrimage. They fast in<br />
Ramadan as others do. They pay religious alms, zakat, in the same manner as<br />
other Muslim do.</p>
<p>They believe in Quran as their Holy Scripture. It&#8217;s a sheer lie to say<br />
that they have in their possession a Scripture other than Quran, as<br />
their opponents repeatedly allege.</p>
<p>The sole difference resides in the way they interpret the concept of<br />
prophecy. Different interpretation is not unknown in Islamic tradition.<br />
Yet, the majority of Muslim believe that Ahmadiyah has crossed the<br />
tolerable line of valid interpretation. They believe that Ahmadiyah&#8217;s<br />
doctrine of prophecy amounts to deviation from the true &#8220;path&#8221; of<br />
Islam. Hence their &#8220;silly&#8221; request that Ahmadiyah&#8217;s members declare<br />
themselves as non-Muslim and set up a new religion.</p>
<p>Muslim also believe that members of this sect has done a serious<br />
blasphemy to Islam as they deviate from the true doctrine of prophecy.<br />
In June 2005, a fatwa or religious edict has been issued by the Council of<br />
Indonesian Ulama (MUI) deeming this sect as &#8220;going astray&#8221; (sesat).<br />
Unfortunately, the fatwa has set in motion series of attacks and<br />
persecutions against the sect. Numbers of Ahmadiyah&#8217;s mosques have been<br />
demolished. Thousands of its member end up losing houses that shelter<br />
them.</p>
<p>The accusation that Ahmadiyah commits blasphemy against Islam strikes<br />
me as a sheer &#8220;non-sense&#8221;. To have a different interpretation about<br />
certain doctrines in Islam cannot be seen as blasphemy. The orthodox<br />
mullahs or ulama who see themselves as the guardian of &#8220;truth&#8221; always<br />
think that their interpretation embodies the truth of Islam itself.<br />
They deliberately efface the line demarcating between &#8220;religion&#8221; and<br />
&#8220;the discourse on religion&#8221;, between din and al-khithab al-dini,<br />
as Egpytian thinker Nasr Hamid Abu Zayd once aptly put. To challenge<br />
their interpretation is to be seen as unwarranted &#8220;dissent&#8221; against the<br />
truth of Islam. That is not enough. They tell people that to challenge<br />
their authority is tantamount to commit a blasphemy against Islam.</p>
<p>It is sad to see that many Muslims buy this kind of thought and<br />
argument. They are enraged to see ulama being challenged. They took to<br />
the street in protest against what they see as a mounting threat to<br />
Islam.</p>
<p>The identification of &#8220;Islam&#8221; with the existing interpretation that is<br />
predominant among Muslim is dangerous. It obviously results in<br />
silencing different point of views in Islam. It will smooth up ways for<br />
the conservatives to place themselves as the sole voice of Islam. To<br />
me, this is a stealth move to hijack Islam.</p>
<p>Muslim should speak up to challenge such move. To have a different<br />
interpretation is not and cannot be a blasphemy. It is the right of<br />
every Muslim to have their own views on Islam aired and it is also<br />
their right to be treated with great respect to voice a different view<br />
and interpretation.</p>
<p>The mullahs always tell Muslim that by allowing such open leeway to<br />
interpret Islam, Muslim society will end up enmeshed in chaos, fitna.</p>
<p>I say to you, my friends: Muslims are already in chaos now, no matter<br />
whether or not they are aware of this. The chaos comes about not<br />
because of the excess of freedom Muslim enjoy to interpret Islam in<br />
such manner that speaks to the very challenges they face nowadays. The<br />
chaos is a result of the deficit of freedom instead.</p>
<p>Ulil</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=29&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/25/blaspheming-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manipulasi dalam pencitraan FPI vs AKKBB</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/05/manipulasi-dalam-pencitraan-fpi-vs-akkbb/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/05/manipulasi-dalam-pencitraan-fpi-vs-akkbb/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 04:06:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan ini, sejumlah pihak/media berusaha membangun/merekonstruksi gambaran tentang penyerangan FPI atas Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan cara manupulatif. Gambaran yang dibangun adalah: 1. FPI memang melakukan kekerasan tetapi itu terjadi karena diprovokasi oleh AKKBB yang secara demonstratif menantang umat Islam. 2. FPI memang melakukan kekerasan fisik tetapi sebenarnya yang selama ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=28&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini, sejumlah pihak/media berusaha membangun/merekonstruksi<br />
gambaran tentang penyerangan FPI atas Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan<br />
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan cara manupulatif. Gambaran yang<br />
dibangun adalah:</p>
<p>1. FPI memang melakukan kekerasan tetapi itu terjadi karena diprovokasi<br />
oleh AKKBB yang secara demonstratif menantang umat Islam.<br />
2. FPI memang melakukan kekerasan fisik tetapi sebenarnya yang selama ini<br />
terjadi adalah kekerasan verbal oleh kalangan AKKBB yang menguasai media.<br />
3. FPI memang melakukan kekerasan tapi ini terjadi karena akar masalahnya<br />
tidak kunjung terselesaikan, yakni soal Ahmadiyah.</p>
<p>Gambaran semacam itu manipulatif dan dapat menyesatkan cara pandang umum<br />
tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa gambaran manipulatif itu<br />
dibangun oleh tokoh dan media yang menyebut dirinya ‘Islam’ menjadi<br />
penting karena terkesan bahwa dengan demikian, dalam Islam berbohong demi<br />
tujuan adalah suatu hal yang dibenarkan.</p>
<p>Penjelasan saya soal manipulasi itu adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, apa yang dilakukan AKKBB dengan membuat iklan satu halaman penuh<br />
di berbagai media plus unjuk rasa di Monas memang demonstratif untuk<br />
menandingi apa yang dipercaya sebagai gelombang besar gerakan radikalisme<br />
Islam. Tentu saja pernyataan sikap itu harus dinyatakan secara mencolok<br />
karena yang ditentang adalah kekuatan besar yang melibatkan tak kurang<br />
dari Majelis Ulama Indonesia, FPI, FUI, GUUI, HTI, dan lain-lain. Jangan<br />
lupakan di sejumlah daerah, tindakan anarkis terhadap Ahmadiyah sudah<br />
terjadi. Jangan lupa pula, MUI dan kawan-kawan sedang terus mendesak<br />
pemetintah untuk segera mengeluarkan SKB pembubaran Ahmadiyah yang menurut<br />
sejumlah ahli hukum sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam struktur hukum<br />
ketatanegaaan kita.</p>
<p>Jadi, sikap demonstratif AKKBB adalah sikap yang memang sengaja dilakukan<br />
untuk mencegah penindasan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan –<br />
sesuatu yang memang menjadi alasan pendirian AKKBB. Aliansi ini percaya<br />
bahwa mereka harus bersuara keras karena lawannya memang besar. ernyataan<br />
sikap semacam itu tentu saja tidak bisa dibaca sebagai &#8216;provokasi&#8217; untuk<br />
mengundang pihak lain melakukan tindakan brutal.</p>
<p>Kedua, penggunaan istilah kekerasan verbal oleh AKKBB tentu saja<br />
manipulatif karena yang selama ini menggunakan kekerasan verbal adalah<br />
justru MUI, FPI dan kawan-kawan. Bukankah selama istilah yang digunakan<br />
untuk merujuk pada mereka yang dianggap berpikiran liberal dan pluralis<br />
adalah: ”SEPILIS”, Jaringan Iblis Laknatullah, Budak Kafir, Antek Yahudi,<br />
Antek Amerika, Sesat dan Menyesatkan, Murtad, Halal Darahnya, dst?<br />
Kekerasan verbal apa lagi yang bisa lebih buruk dari itu? Pernahkah<br />
kawan-kawan AKKBB menggunakan istilah serupa?</p>
<p>Gambaran bahwa AKKB itu menguasai media juga jauh dari kebenaran.<br />
Pengamatan sederhana menunjukan bahwa dalam perdebatan pro dan anti<br />
Ahmadiyah saja sudah terlhat bagaimana media mainstream menghindar dari<br />
pembelaan terhadap Ahmadiyah, karena takut pada FPI dkk atau karena<br />
sejumlah awak redaksi mereka memang percaya bahwa Ahmadiyah itu sesat.<br />
Bahwa dalam kasus penyerangan oleh FPI terhadap AKKB ada kesan bahwa<br />
umumnya media (kecuali Republika tentunya) menempatkan FPI sebagai pihak<br />
yang menyerang, tentu saja karena apa yang terjadi di lapangan memang<br />
begitu (kecuali Anda percaya dengan cerita seorang personil AKKBB yang<br />
memang membawa senjata untuk menembaki FPI?).</p>
<p>Ketiga, penempatan soal ’Ahmadiyah’ sebagai akar masalah, tentu saja<br />
adalah taktik yang licik untuk membelokkan isu ke arah pembubaran<br />
Ahmadiyah. Isu Ahmadiyah adalah isu perbedaan pendapat antara dua kubu<br />
pemikiran yang lazim terjadi dalam suatu masyarakat demokratis. Perbedaan<br />
pendapat sama sekali tidak boleh menjustifikasi kekerasan. Memang<br />
pemerintah terkesan lamban, tapi selama pemerintah belum menyatakan sikap<br />
baru, sikap lama harus diasumsikan berlaku. Dalam hal ini, sejauh ini,<br />
pemerintah masih percaya bahwa Ahmadiyah adalah sebuah ajaran, keyakinan<br />
dan organisasi yang sah di Indonesia. Pernyataan Bakor Pakem itu baru bisa<br />
dilihat sebagai rekomendasi. Tidak lebih.</p>
<p>Karena itu, istilah ’akar masalah’ itu harus diperinci maknanya. Dalam<br />
cara pandang yang lebih luas, bagi saya, akar persoalan adalah kesediaan<br />
kita untuk hidup dalam sebuah masyarakat demokratis. Kalau setiap kali<br />
kita berbeda pendapat, salah satu pihak merasa dibenarkan untuk melakukan<br />
kekarasan atas pihak lain, kita berada dalam sistem yang setiap saat bisa<br />
runtuh karena perbedaan pendapat. Jadi, akar masalahnya justru masih<br />
adanya budaya kekerasan di kalangan Islam radikal. Karena itu, bagi saya,<br />
akar masalah bukan pada Ahmadiyah – yang sepajang sejarah republik tidak<br />
pernah melakukan kekerasan &#8212; melainkan pada (kalau mau tunjuk hidung)<br />
FPI, GUUI, dan FUI. Selama organisasi-organisasi ini masih ada, kekerasan<br />
akan terus berlanjut.</p>
<p>Salam</p>
<p>ade armando<br />
Majalah Madina</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=28&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/05/manipulasi-dalam-pencitraan-fpi-vs-akkbb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa untuk rekan2 korban kebiadaban FPI</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/02/doa-untuk-rekan2-korban-kebiadaban-fpi/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/02/doa-untuk-rekan2-korban-kebiadaban-fpi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 16:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab, antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil. Manusia dinilai bukan dari putihnya pakaian, lebatnya jenggot, dan klaimnya atas kebenaran. Tapi dari perbuatannya&#8230;.. Ya Allah berikan ketabahan dan kesembuhan pada saudara-saudara kami yang terluka dan menderita akibat ulah manusia-manusia tuna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=27&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,<br />
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil.<br />
Manusia dinilai bukan dari putihnya pakaian, lebatnya jenggot, dan klaimnya atas<br />
kebenaran. Tapi dari perbuatannya&#8230;..<br />
Ya Allah berikan ketabahan dan kesembuhan pada saudara-saudara kami yang terluka<br />
dan menderita akibat ulah manusia-manusia tuna susila yang bersembunyi di balik<br />
jubah kebesaranMu.<br />
Ya Allah, kami tuna kuasa, Engkaulah Maha Kuasa, jangan Engkau berikan kekuasaan<br />
pada orang-orang yang telah merampas kekuasaanMu.<br />
Ya Allah, kami tak pandai berteriak menyebut asmaMu, kami tak suka menangis di<br />
hadapanMu, tapi kami yakin Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Tahu, maka<br />
dengarkanlah kami, tunjukkanlah kami kebenaran!<br />
Watilkal ayyam, nudawiluha bainannas&#8230;.<br />
Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,<br />
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=27&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/02/doa-untuk-rekan2-korban-kebiadaban-fpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidup adalah perbuatan&#8230;.</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/02/hidup-adalah-perbuatan/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/02/hidup-adalah-perbuatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 15:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Jargon itu makin sering terdengar akhir-akhir ini. Salah satu ketum parpol menjadikan jargon itu sebagai pesan pokok iklan politiknya (meski tak mau disebut iklan politik, dan lebih sebagai pesan moral,mungkin sebuah gambaran ungkapan nasionalisme tulen). Aristoteles, filsuf Yunani kuno, juga berbicara mengenai perbuatan. Hanya agak berbeda dengan Mas Tris yang mengaku tak boleh istrinya menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=24&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jargon itu makin sering terdengar akhir-akhir ini. Salah satu ketum parpol<br />
menjadikan jargon itu sebagai pesan pokok iklan politiknya (meski tak mau<br />
disebut iklan politik, dan lebih sebagai pesan moral,mungkin sebuah gambaran<br />
ungkapan nasionalisme tulen).<br />
Aristoteles, filsuf Yunani kuno, juga berbicara mengenai perbuatan. Hanya<br />
agak berbeda dengan Mas Tris yang mengaku tak boleh istrinya menjadi capres<br />
ini, bagi Aristoteles perbuatan dibedakan dari tindakan. Perbuatan (poiesis)<br />
adalah sesuatu yang dilakukan demi suatu capaian di luar perbuatan itu<br />
sendiri. Dalam poiesis yang penting adalah hasilnya, bukan pekerjaan atau<br />
proses yang menghasilkan output. Filsuf seperti Marcuse atau Habermas<br />
mungkin menyebutnya hasil dari rasio instrumental.<br />
Sedangkan tindakan (praxis) oleh Aristoteles diibaratkannya dengan orang<br />
main seruling. Ini dilakukan karena senang memainkan seruling, bukan<br />
lantaran mau mencapai sesuatu di luar permainan seruling. Singkatnya praxis<br />
adalah tindakan yang bernilai pada dirinya sendiri.<br />
Aristoteles mengimbuhi, praxis yang terpenting adalah partisipasi dalam<br />
komunitas (politik).<br />
Saya tidak tahu apakah pemikiran Aristoteles ini relevan atau tidak. Hanya<br />
saja, menyimak betapa ngebetnya para calon pemimpin (yang rasanya pada<br />
kelewat pede ini), definisi Aristoteles tetap bermanfaat.<br />
Minimal Mas Tris (senang disebut &#8220;mas&#8221; karena kini trendnya orang muda yang<br />
pantas memimpin&#8230;..) masih cukup waktu mempertimbangkan pikiran<br />
Aristoteles, atau perusahaan iklan yang disewanya (yang setahu saya<br />
pemiliknya sangat canggih dalam ilmu politik) memperhitungkan ini.<br />
Apakah perbuatan yang dimaksud adalah tindakan? bisa jadi ini masalah diksi.<br />
Tapi jika diisengi, bukankah menjadi sangat jamak jika di belakang perbuatan<br />
lebih mudah diimbuhi kata-kata tak senonoh lalu menjadi keranjang sampah?<br />
misalnya perbuatan senonoh, seronok, tak terpuji, dll&#8230;&#8230;<br />
Sedangkan tindakan lebih bermakna aktif, positif, karena ada pengandaian<br />
pemakaian kesadaran, proses berpikir, ada refleksi dan keputusan, bukan<br />
sekedar sesuatu yang spontan seperti perbuatan.<br />
Boleh jadi saya keliru. Tapi memperhatikan tingkah polah politisi kita saat<br />
ini memang asyik. Ketidakpahaman dan kedangkalan dipertontonkan dengan<br />
telanjang dan hanya menjadi cermin wajah Indonesia saat ini, miskin pemikir,<br />
kebanyakan penzikir (baca:orang-orang religius), dan inflasi avonturir.<br />
Selamat merayakan Pancasila sakti, meski yang sakti kini bukan Pancasila,<br />
tapi Mentari.<br />
Pantas saja teman2 AKBB digebuki oleh FPI&#8230;&#8230;.</p>
<p>Ada yang lolos dari proyek kenaikan harga BBM, sebuah exit strategy atau<br />
semacam &#8220;janji&#8221;. Kita sebatas bicara optimis (bahkan Anies Baswedan<br />
mengulang-ulang kata ini dalam berbagai kesempatan). optimisme berbeda<br />
dengan harapan. Bahkan dalam pesimisme, kita tetap dapat berharap. Harapan<br />
memiliki dimensi metafisis, ada void, kekosongan yang justru di sanalah<br />
kekuatannya. Ia ibarat surga bagi orang beragama, yang perlu ada agar<br />
pengharapan tidak pingsan.</p>
<p>Tak ada mimpi pada pemimpin kita. Agaknya dosa terbesar Orde Baru dan<br />
Suharto pertama-tama bukan KKN dan pelanggaran HAM/Hukum, melainkan<br />
pembunuhan daya imajinasi bangsa Indonesia. Kini kita menuai hasilnya. Daya<br />
kreatif menghilang. Jika pun iklan &#8220;Hidup adalah Perbuatan&#8221; disebut kreatif,<br />
ia kreatif pada tataran tampilan, kemasan, slogan, tapi sesungguhnya sangat<br />
kosong visi, karena persis di awalnya terjadi cacat teoritik.<br />
Mirip pula slogan baru yang digaungkan sembari menginjak-injak keperawanan<br />
rumput senayan: Indonesia bisa. Bisa apa? tidak tahu ( embuh, kalau menurut<br />
Amien Rais), silahkan diisi sendiri sesuka hati.<br />
ini bukan harapan, tapi kemalasan berpikir.<br />
Kita masih sebatas disuguhi jargon kosong yang miskin substansi.<br />
Sungguh lelah memikirkan karut marut pimpinan negeri ini.</p>
<p>Atau lebih baik kita menelaah foto &#8220;setengah&#8221; asusila dari Max Moein.<br />
Aduh&#8230;..<br />
Besok giliran siapa dan mengapa?<br />
Entah. karena kita masih sering menganggap kekuasaan itu &#8220;ada di sana&#8221;, dan<br />
tak sadar jika kita diam2 disusupi melalui kapiler-kapiler lembut, aneka<br />
seduksi yang menggerus batang kesadaran untuk pada suatu ketika akan<br />
menghegemoni kita untuk mengatakan iya pada kedangkalan dan kerancuan.<br />
Semoga nasionalisme tidak lantas secara latah dimaknai sebagai bentuk<br />
eskapisme dari tantangan berpikir dan merumuskan secara baru proyek<br />
keindonesiaan ini. entah&#8230;&#8230;</p>
<p>salam,</p>
<p>pras</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=24&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/06/02/hidup-adalah-perbuatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GOD</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/11/god/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/11/god/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 14:48:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[TUHAN Soe Tjen. Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan, kata seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah Ahmadiyah dan Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya mengamini Bakunin. Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan yang lelaki, atau paling tidak yang mempunyai kekuasaan patriarki, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=23&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TUHAN</p>
<p>Soe Tjen.<br />
Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan, kata<br />
seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah Ahmadiyah dan<br />
Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya mengamini Bakunin.<br />
Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan<br />
yang lelaki, atau paling tidak yang mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang<br />
membuat mulut bocah saya terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan<br />
â€œmengapa perempuan tidak bisa menjadi pastor?â€</p>
<p>Namun, mengapa manusia mempercayai Tuhan yang seperti ini? Ketercengangan,<br />
kebingungan dan keresahan manusia akan alam terkadang menuntunnya untuk mencari<br />
â€œYang Maha Kuasaâ€. Karena itulah, manusia sempat menyembah gunung, matahari<br />
atau cahaya apa saja dari langit. Karena bagi mereka, Tuhan tidak lain dan<br />
tidak bukan adalah â€œYang paling ditakutiâ€. Kepercayaan pada yang maha kuasa<br />
memang sering didasarkan pada ke-egoisan.</p>
<p>Karena manusia ingin diselamatkan, diberkahi dan diberi rejeki yang melimpah<br />
dari yang disembah, mereka bahkan mencoba menyogok Tuhan dengan sesaji. Tidaklah<br />
heran bagi manusia seperti ini, Tuhan adalah diktator yang selalu menuntut.<br />
Tuhan yang pencemburu, yang begitu murka ketika manusia melupakanNya.<br />
Keberadaan Tuhan seperti ini begitu tergantung pada manusia. Dengan kata lain,<br />
dia serupa dengan manusia yang menyembahNya: sebuah keberadaan yang menuntut dan<br />
tidak mandiri. Yang tak rela diduakan. Yang selalu tergantung pada elu-eluan<br />
penyembahnya. Tuhan dengan krisis identitas.</p>
<p>Dan tidaklah heran, bila Tuhan semacam ini dapat ditemukan dalam sosok<br />
pemerintah otoriter: pada Firaun Mesir yang mengaku sebagai utusan Tuhan, dalam<br />
sosok Kaisar Jepang yang menjadi wakil Yang Maha Tinggi, atau pada pemerintah<br />
Kerajaan Inggris kuno. Bahkan juga dalam pejabat tinggi negara kita yang<br />
memaksa para warganya untuk menulis agama mereka â€“ kepercayaan mereka pada<br />
Tuhan. Dan dalam keroyokan yang mengamuk, merusak dan menyerang insan-insan<br />
yang tak mempercayai Tuhan tertentu.</p>
<p>Tuhan seperti ini menjadi simbol patriarki, yang melahirkan dualisme tajam: Yang<br />
Kuasa dan pengikutNya. Namun, ambisi manusia untuk memuja terkadang sama<br />
besarnya dengan ambisinya untuk dipuja. Karena itulah, Tuhan dan pengikutnya<br />
seringkali menjadi cermin yang memantulkan persona yang sama. Dan karena itu<br />
pula, si pengikut dapat berlaku seperti Tuhan mereka: penghukum yang tak kenal<br />
ampun. Bahkan lebih parah, karena dalam si pengikut, apa yang abstrak dan<br />
menjadi metafor, dapat menjadi nyata dalam tindakan mereka. Apa yang menjadi<br />
kata, tiba-tiba menjadi kekejaman yang mengakibatkan tangis dan membawa mangsa.</p>
<p>Penggambaran Tuhan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Esa, seakan tidak lain<br />
adalah cara manusia untuk menjadi narsis. Karena gambaran seperti inilah yang<br />
memberi kesempatan manusia untuk memahkotai diri mereka sendiri dengan gambaran<br />
yang begitu melambung dan dilambungkan.<br />
Kemarahan para pengeroyok terkadang disebabkan oleh kekecewaan narsis mereka.<br />
Ketika Tuhan mereka digambarkan berbeda, ketika kelompok lain menawarkan<br />
interpretasi yang berlawanan dari ide mereka, ketika manusia layaknya Musdah<br />
Mulia (yang membela LGBT) atau Ahmadiyah yang mempunyai pandangan â€œbaruâ€<br />
tentang Tuhan, ego pengeroyok inilah yang telah tersakiti. Karena pada saat<br />
itu, para narsis ini tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa harapan mereka tak<br />
akan pernah sampai. Narsis yang tidak siap untuk merombak keyakinan mereka atau<br />
paling tidak mendengar keyakinan yang lain. Namun, narsis yang marah karena<br />
kekecewaan. Karena Tuhan mereka tidaklah selalu benar, besar, dan kekar.</p>
<p>Inilah salah satu alasan yang membuat atheis meninggalkan Tuhan. Bagi banyak<br />
atheis, hanyalah dalam sains-lah kebenaran dapat diungkap. Dengan bukti dan<br />
akal. Namun, sains sendiripun seringkali relatif dan dapat disanggah: Teori<br />
Newton dipatahkan oleh Einstein yang menawarkan teori relativitas. Teori<br />
Einstein ditentang lagi oleh Neils Bohr yang menyatakan bahwa teori Einstein<br />
tidak cukup relative karena Einstein luput mengindahkan karakter kuantum mekanik<br />
yang tak pernah konstan, dan yang selalu terpengaruh oleh subyektifitas sang<br />
peneliti. Neils Bohr-pun disanggah lagi oleh Everett, dan seterusnya dan<br />
seterusnya. Memang, dalam pencariannya akan kebenaran, manusia tak pernah dapat<br />
menemukan jawaban akhir yang pasti.</p>
<p>Dan bukankah pencarian akan Tuhan dapat dibandingkan dengan pencarian dalam<br />
sains? Karena keduanya menyiratkan pertanyaan-pertanyaan akan keberadaan,<br />
kehidupan dan asal galaksi kita, dan asal kita sebagai manusia.</p>
<p>Karena bila kita berani untuk mencari dan mencari lagi akan kebenaran, kita akan<br />
ditarik pada labirin yang berlapis dan tiada habisnya. Dalam pusaran-pusaran<br />
teori, tanya, jawab dan kebimbabangan, yang di dalamnya selalu ada jurang begitu<br />
dalam yang belum pernah kita lihat. Yang tak akan dapat kita kunjungi. Namun,<br />
hal inilah yang terkadang membuat saya terus mencari dan mencari.</p>
<p>Pada suatu renungannya akan Tuhan, Einstein menyatakan bahwa ada suatu<br />
â€œkeindahan yang tiada taraâ€, yang tak pernah dapat kita mengerti. Sesuatu<br />
yang membuat kita tersentuh dan beriman. Dan karena ketidak-mengertian inilah,<br />
Einstein terus mencari.<br />
Memang, ketidak sabaran akan jawaban yang serba cepat, keinginan untuk mengambil<br />
jalan pintas dan ambisi akan kekuasaanlah yang dapat menuntun manusia untuk<br />
merumuskan Tuhan yang satu, yang kaku. Walaupun di dunia ini, terdapat<br />
bermacam-macam Tuhan. Beberapa teks bahkan sempat menyebut lebih dari 200 tuhan<br />
dalam sejarah dunia.<br />
Dan di dunia yang serba dinamik, yang terus bergerak dan menari dalam segala<br />
getarannya, bagaimana Tuhan dapat menjadi begitu statik: berhenti dan terpaku<br />
dalam suatu zona tempat dan waktu? Dalam sebuah dogma yang membuahkan amarah?<br />
Tuhan yang dilahirkan oleh dogma adalah Tuhan yang mati. Tuhan yang dapat<br />
dibunuh oleh para atheis. Tuhan yang telah saya bunuh.</p>
<p>Karena seharusnya, pencarian akan Tuhan selalu membawa kita pada ketidak-tahuan.<br />
Pada pertanyaan. Dan terkadang, kebingungan. Karena itu, kita harus siap tidak<br />
saja untuk menemukan â€œkeindahan yang tiada taraâ€, namun juga kekecewaan.<br />
Karena pencarian akan Tuhan adalah tidak lain dan tidak bukan pencarian akan<br />
esensi kita, keberadaan kita. Esensi kita yang tak terlihat namun ada. Esensi<br />
yang begitu dekat, namun tak dapat dimengerti. Karena itulah Chuan Tzu berkata:<br />
â€œKita berkata â€˜aku, namun tahukah kita siapa dan apa artinya â€˜akuâ€™?â€<br />
Dan segala kebingungan, segala tanya, di antara yang ada dan tanpa, saya dapat<br />
berkata: Saya tidak percaya akan Tuhan. Namun saya percaya akan tuhan. tuhan<br />
yang tak berkelamin, yang tak semena-mena, yang tak maha tinggi dan yang tak<br />
maha Esa. Dalam tuhan yang seperti ini, saya dapat bertakwa.</p>
<p>(Soe Tjen Marching, penulis buku The Discrepancy between the Public and the<br />
Private Selves of Indonesian Women diterbitkan oleh the Edwin Mellen Press).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=23&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/11/god/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Artikulasi Pembaruan Nurcholish Madjid: Kekuatan dan Batas-batasnya</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/11/artikulasi-pembaruan-nurcholish-madjid-kekuatan-dan-batas-batasnya/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/11/artikulasi-pembaruan-nurcholish-madjid-kekuatan-dan-batas-batasnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 14:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Artikulasi Pembaruan Nurcholish Madjid: Kekuatan dan Batas-batasnya IHSAN ALI-FAUZI Mei ini Keluarga Besar Yayasan Paramadina memperingati 1.000 hari wafatnya Nurcholish Madjid (Cak Nur), tokoh pembaruan Islam di Indonesia. Bagaimana sebaiknya menaksir gagasan dan gerbong pembaruan yang ditariknya? Mengapa pesan besar yang ia sampaikan kedodoran belakangan ini? Seraya meminjam dari sosiolog Robert Wuthnow, saya ingin melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=22&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikulasi Pembaruan Nurcholish Madjid: Kekuatan dan Batas-batasnya</p>
<p>IHSAN ALI-FAUZI</p>
<p>Mei ini Keluarga Besar Yayasan Paramadina memperingati 1.000 hari wafatnya<br />
Nurcholish Madjid (Cak Nur), tokoh pembaruan Islam di Indonesia. Bagaimana<br />
sebaiknya menaksir gagasan dan gerbong pembaruan yang ditariknya? Mengapa pesan<br />
besar yang ia sampaikan kedodoran belakangan ini?</p>
<p>Seraya meminjam dari sosiolog Robert Wuthnow, saya ingin melihat pembaruan<br />
sebagai produk budaya yang ditawarkan di dalam konteks sosial, ekonomi, dan<br />
politik tertentu. Kekuatannya terletak pada kemampuannya menyatroni sekaligus<br />
mengatasi konteks terdekat itu. Daya panggilnya kedodoran belakangan ini, saya<br />
kira, karena konteks yang berubah. Dus mungkin juga dibutuhkan warna panggilan<br />
pembaruan yang lain.</p>
<p>Artikulasi</p>
<p>Wuthnow punya penjelasan menarik mengenai bagaimana produk budaya, termasuk ide<br />
yang ditawarkan sang produsen seperti Cak Nur, membawa perubahan sosial. Dalam<br />
Communities of Discourses (1989), ia menolak determinisme, baik ide/budaya ala<br />
Weber maupun kelas/ekonomi ala Marx. Sebaliknya, katanya, ”Saya lebih menekankan<br />
pada cara di mana ekspansi ekonomi berinteraksi dengan penataan institusi baru,<br />
yang pada gilirannya menstrukturkan konteks di mana para produsen [budaya] dan<br />
audiensnya berjumpa.” Di sini ekonomi penting, tapi secara tak langsung dan tak<br />
niscaya. Juga institusi yang tumbuh bersama ekspansi ekonomi. Yang krusial<br />
adalah bagaimana si produsen budaya mengelola resources yang tersedia akibat<br />
perjumpaan kedua faktor di atas.</p>
<p>Wuthnow juga menyatakan produk budaya yang besar selalu lahir dari pergulatan<br />
dinamis dan kreatif dengan lingkungan terdekatnya. Karya-karya itu tidak hanya<br />
memberi respons terhadap zamannya, tetapi sekaligus melampauinya. Katanya: ”They<br />
draw resources, insights, and inspiration from that environment: they reflect<br />
it, speak to it, and make themselves relevant to it. And yet they also remain<br />
autonomous enough from their social environment to acquire broader, even<br />
universal and timeless appeal.”</p>
<p>Kata Wuthnow, ini ”masalah artikulasi”. Tulisnya, ”Jika produk budaya tidak<br />
cukup menyantuni, tidak cukup nyambung dengan setting sosialnya, ia kemungkinan<br />
besar akan dipandang audiens potensialnya … sebagai tak relevan, tidak<br />
realistik, artifisial, dan amat abstrak, atau—lebih buruk lagi—para produsennya<br />
akan kecil kemungkinan memperoleh dukungan yang diperlukan untuk terus berkarya.<br />
Namun, jika produk budaya melulu ditujukan hanya menyantuni lingkungan sosial<br />
terdekatnya itu, mungkin sekali ia akan dipandang terlalu esoterik, parokial,<br />
terikat waktu, dan gagal menyedot perhatian audiens yang lebih luas dan dalam<br />
rentang waktu lebih panjang.”</p>
<p>Dekat, tapi tak melekat</p>
<p>Kerangka di atas dapat membantu kita menaksir kekuatan dan batas-batas gerbong<br />
pembaruan Cak Nur. Mari melihat teks dan konteksnya.</p>
<p>Teks terbaik adalah pidato Cak Nur yang menghebohkan itu, ”Keharusan<br />
Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” (1970). Inilah teks<br />
paling autentik produk Cak Nur. Yang lainnya, bagi saya, adalah catatan kaki,<br />
eksplorasi lebih jauh, atau kamuflase yang ia pandang penting untuk berdakwah.<br />
Bahwa teks itu menjadi produk publik secara tak disengaja, itu hanya menambah<br />
autentisitasnya.</p>
<p>Dalam teks ”proklamasi” pembaruan itu, Cak Nur mulai dengan menandaskan bahwa<br />
Islam di Indonesia sedang stagnan. Kaum Muslim menghadapi pilihan kritis: jalan<br />
pembaruan, yang meniscayakan peninjauan kembali makna Islam di dunia modern,<br />
dengan ongkos integrasi umat; atau pemeliharaan integrasi itu, dengan<br />
konsekuensi terus jumudnya pemikiran Islam dan hilangnya daya Islam sebagai<br />
moral force. Ia memilih jalur pembaruan, dan di ujung tulisannya ia mengusulkan<br />
proses liberalisasi berdimensi empat: sekularisasi, kebebasan intelektual, the<br />
idea of progress, dan keterbukaan.</p>
<p>Kekuatan gagasan itu adalah karena ia, meminjam Wuthnow, dekat tapi tak melekat<br />
dengan konteks terdekatnya. Pada tahun 1970-an dan sepanjang Orde Baru<br />
gagasan-gagasan itu nyambung dengan lingkungannya. Dalam teks di atas wakil<br />
terbaiknya adalah gagasan ”Islam Yes, Partai Islam No!” Penting diingat: Cak Nur<br />
tidak mengharamkan partai Islam. Yang ia katakan adalah bahwa partai Islam tidak<br />
niscaya merupakan wakil Islam; bagi seorang Muslim, mendukung partai Islam<br />
bukanlah sesuatu yang wajib.</p>
<p>Gagasan itu bergema di hati kelas menengah Muslim santri yang tertarik dengan<br />
panggilan Cak Nur untuk ”berdamai” dengan rezim—sebagian mereka malah berada di<br />
dalam rezim itu sendiri. Mereka ingin luar-dalam mencicipi pertumbuhan ekonomi<br />
yang rata-rata mencapai 6-8 persen per tahun, dengan ogah mengikuti garis Islam<br />
”skripturalis”. Gara-gara gagasan Cak Nur itu, umat Islam tidak lagi merasa,<br />
meminjam Taufik Abdullah, ”Ahl Dzimmah di negeri mayoritas Muslim”. Yang juga<br />
tertarik menjadi audiens dan kemudian pendukung Cak Nur adalah kaum non-Muslim,<br />
juga nonsantri, yang merasa memperoleh semacam perlindungan dari ancaman Islam<br />
”skripturalis”.</p>
<p>Gagasan itu juga sejalan dengan tumbuhnya institusi-institusi baru di dalam<br />
ataupun di luar rezim. Di dalam rezim ada kebijakan penciutan partai politik,<br />
program kerukunan umat beragama, dan lainnya, yang paralel dengan gagasan Cak<br />
Nur. Di luar rezim berlangsung Islamisasi yang secara umum terjadi di kota-kota<br />
besar (masjid atau musala di kantor-kantor, dsb). Generasi Muslim baru tumbuh,<br />
diwakili dengan baik oleh Cak Nur sendiri, yang harus ditampung dan ikut<br />
memainkan peran di dalam panggung yang lebih lebar: ”Indonesia”.<br />
Harus juga disebutkan bahwa gagasan itu kukuh karena figur si pembawa gerbong.<br />
Latar pendidikan dan organisasi Cak Nur turut menopang substansi panggilannya.<br />
Ia dengan baik menguasai khazanah Islam, tetapi juga akrab dengan wacana modern.<br />
Ia kuat dalam lisan dan tulis. Lagi pun kepribadiannya yang santun, sederhana,<br />
dan jauh dari arogan membuatnya sulit diserang lawan-lawannya. Sebagai pembawa<br />
bendera, ia amat kredibel!</p>
<p>Namun, gagasan pembaruan juga timeless enough dan mengatasi kebutuhan jangka<br />
pendek masanya. Dalam teks di atas sisi yang lebih universal dan tahan lama ini<br />
kita temukan dalam panggilannya kepada sekularisasi (belakangan dilunakkan<br />
menjadi desakralisasi) sebagai realisasi tawhid, kebebasan intelektual, the idea<br />
of progress, dan keterbukaan.</p>
<p>Cak Nur menawarkan topangan Islam bagi tumbuhnya Indonesia yang modern dan<br />
partisipasi penuh umat Islam di dalamnya. Alih-alih menjadikan paham-paham di<br />
atas sebagai momok bagi Islam seperti umum dikenal sebelumnya, ia malah<br />
memandangnya sebagai bagian integral dari Islam yang modern dan menjanjikan. Dan<br />
yang lebih penting, bagi kalangan non-Muslim dan nonsantri, sokongan pembaruan<br />
atas paham-paham di atas memberi jaminan keislaman bahwa pluralisme Indonesia<br />
akan terus ditegakkan. Tidak heran jika, seperti sering diceritakan Cak Nur<br />
sendiri, pihak yang paling antusias menyambut proklamasi pembaruan adalah<br />
kalangan sekular Indonesia, seperti diwakili harian Indonesia Raya, Pedoman, dan<br />
Kami.</p>
<p>Pada tingkat praktis, gagasan-gagasan yang timeless di atas menjadikan Cak Nur<br />
tidak enggan berseberangan dengan pemerintah, yang beberapa kebijakannya turut<br />
menguntungkannya. Pada 1971 dan 1977, misalnya, dalam rangka demokratisasi dan<br />
balancing-power politics, ia mendukung PPP. Baginya, ini penting dalam rangka<br />
”memompa ban kempis” untuk menyeimbangi Golkar (pemerintah). Belakangan juga<br />
kita tahu bahwa Cak Nur menjadi salah seorang pionir dalam pengembangan budaya<br />
oposisi dan keterbukaan: ia terlibat dalam pembentukan KIPP, demokratisasi<br />
secara damai, dan seterusnya. Aliansi Cak Nur dengan banyak aktivis LSM berawal<br />
dari sini.</p>
<p>Ringkasnya, memarafrasekan Wuthnow, Cak Nur itu ”memanfaatkan sumber daya,<br />
ilham, inspirasi dari lingkungan terdekatnya: ia merefleksikannya, bicara<br />
kepadanya, menjadikan dirinya relevan dengannya. Namun, ia juga tetap cukup<br />
otonom dari lingkungan sosial terdekatnya itu sehingga ia bisa mewartakan<br />
seruan-seruan yang lebih luas, lebih universal, dan abadi.”</p>
<p>Pembaruan ditentang</p>
<p>Sekarang kita melihat bahwa formalisasi Islam, yang ditentang Cak Nur, menguat.<br />
Ada fatwa MUI yang mengharamkan liberalisme, misalnya. Juga kini tumbuh<br />
perda-perda syariat yang menggerogoti pesan-pesan universal Cak Nur. Bagaimana<br />
kita memaknai gejala ini?</p>
<p>Meminjam Wuthnow, kita harus menyebut beberapa kemungkinan. Pertama, konteks<br />
sosial, ekonomi, dan politik sekarang sudah berubah. Sekitar sepuluh tahun lalu<br />
(1996) Indonesianis R William Liddle menulis mengenai perseteruan antara kubu<br />
Cak Nur dan lawannya. Katanya, ”Optimisme saya [mengenai kemenangan kaum<br />
substansialis] berkurang karena pengakuan saya akan konteks sosial, ekonomi, dan<br />
terutama politik di mana kreativitas kaum substansialis berlangsung. Sebab …<br />
mereka diuntungkan konteks itu, dan dalam beberapa hal secara sadar telah<br />
memanfaatkannya untuk memperkuat posisi mereka. Juga jelas bahwa wilayah bermain<br />
yang tersedia sudah secara sengaja didesain untuk melemahkan posisi para pemikir<br />
dan aktivis Islam yang lain, khususnya kelompok skripturalis.” Konteks yang<br />
dimaksud Liddle adalah berbagai kebijakan dan langkah pemerintah Orde Baru yang,<br />
seperti saya kemukakan di atas, langsung ataupun tidak langsung menguntungkan<br />
posisi kaum substansialis.</p>
<p>Kini situasinya berubah. Semua orang di atas kertas kini bebas bicara dan<br />
berorganisasi. Dalam situasi seperti ini, demikian Liddle, ada tiga faktor yang<br />
membuat gagasan pembaruan memperoleh tantangan besar: (1) ajaran-ajaran kaum<br />
skripturalis yang lebih mudah diterima sebagian besar kaum Muslim; (2)<br />
kemungkinan aliansi politik kaum skripturalis dengan kelompok-kelompok sosial<br />
lain yang sedang tumbuh; dan (3) nafsu besar para politisi ambisius untuk<br />
membangun basis massa.</p>
<p>Saya kira ketiga faktor di atas cukup menjelaskan mengapa formalisasi Islam<br />
bergaung kencang belakangan ini. Mungkin kita perlu menambahkan beberapa faktor<br />
lain. Yang terpenting adalah ekonomi yang belum juga pulih.</p>
<p>Dalam khazanah ilmu sosial ada banyak penjelasan mengenai bagaimana deprivasi<br />
ekonomi dan alienasi psikologis akibat urbanisasi membuat orang cepat tertarik<br />
kepada ajaran yang serba mudah dan mengklaim serbabisa, seperti diwakili slogan<br />
”Islam is the solution”. Impitan ekonomi, kepenatan pikiran dan jiwa membuat<br />
orang enggan mengunyah tawaran pikiran yang agak canggih Lagi pula, setelah<br />
sepuluh tahun reformasi, kita juga terus menyaksikan sebuah negara yang lembek<br />
sehingga tidak bisa memerintah dengan memadai.<br />
Aliansi faktor-faktor ini memungkinkan kita untuk mengerti mengapa Jemaah<br />
Ahmadiyah di negeri yang katanya menjamin hak-hak asasi ini dikoyok-koyok<br />
seperti orang berpenyakit lepra. Dan di tengah-tengah keruntuhannya, alih-alih<br />
memberi perlindungan kepada mereka, seorang pejabat tinggi malah meminta mereka<br />
untuk tobat. Bukankah ini cermin tindakan politisi ambisius memancing di air<br />
keruh? Seakan mereka tidak mengerti bahwa di belahan dunia lain kaum Muslim<br />
adalah kelompok minoritas yang bisa diperlakukan seperti itu.<br />
Para penerus Cak Nur sendiri perlu introspeksi diri. Gerbong pembaruan mungkin<br />
kurang baik mereka kelola. Mereka kurang berhasil mengeksploitasi resources yang<br />
ada untuk memperkuat gerbong itu dan menariknya lebih kencang. Sementara itu,<br />
sang penarik gerbong sendiri sulit digantikan, sedangkan para penerusnya gagal<br />
melembagakannya.</p>
<p>Peluang baru</p>
<p>Jika faktor-faktor di atas diperhatikan, mestinya tantangan terhadap gagasan<br />
pembaruan Cak Nur belakangan ini sudah bisa diantisipasi. Hal itu harus dihadapi<br />
sebagai akibat sampingan dari proses demokratisasi yang ikut diperjuangkan<br />
almarhum. Hak kaum Muslim ”skripturalis” untuk berbicara, berkelompok, dan<br />
berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik adalah bagian integral dari<br />
kebebasan yang juga diperjuangkan almarhum. Sejauh kekerasan tidak digunakan,<br />
kita bahkan wajib membela hak-hak itu. Jika sebaliknya yang terjadi, kita harus<br />
mendesak pemerintah untuk menjalankan kewajiban pokoknya: ya, memerintah, to<br />
govern! Jika tidak, ini bukanlah sebuah negeri, apalagi negeri yang besar,<br />
melainkan sebuah hutan rimba.<br />
Dalam konteks yang berubah ini, para penerus Cak Nur harus terus mengusahakan<br />
agar gagasan almarhum yang timeless dan universal terus bergema. Bukan karena<br />
kita ingin romantis, setia pada almarhum, tapi karena kita sebagai bangsa<br />
majemuk membutuhkannya. Sulit dibayangkan bahwa Indonesia akan bisa terus<br />
berdiri jika prinsip keterbukaan, kebebasan, dan pluralisme terus digerogoti.<br />
Sikap mundur dari prinsip ini akan merupakan kehilangan besar.</p>
<p>Di sini kaum Muslim ”skripturalis” berguna sebagai sparring partners. Sebisa<br />
mungkin komunikasi dengan mereka harus tetap dibuka. Kita sudah terlalu sering<br />
bicara dengan keluarga besar kita sendiri, preaching the converted! Seraya<br />
mempertajam gagasan-gagasan kita sendiri, kepada para penganjur perda syariat,<br />
misalnya, kita harus terus bertanya: bagaimana perda-perda itu akan dijalankan<br />
di tingkat praktis? Tugas apa lagi yang hendak dibebankan kepada polisi, yang<br />
sekarang saja sudah keteteran menjalankan kerjaannya? Jika seseorang tidak salat<br />
atau pacaran yang ditentang syariat tetapi tidak ketahuan, siapa yang<br />
bertanggung jawab? Bukankah perda-perda syariat dimaksudkan untuk memata-matai<br />
iman seseorang?</p>
<p>Akan halnya dengan gagasan-gagasan Cak Nur yang dimaksudkan untuk menyatroni<br />
konteks terdekatnya, kita mungkin harus memikirkan kembali relevansinya. Kadang<br />
saya merasa bahwa Cak Nur terlalu mekanis mengaitkan naiknya kelas menengah<br />
Muslim dengan bangkitnya etos Islam yang antikorupsi, misalnya. Juga tampak<br />
terlalu mekanis untuk menyatakan bahwa Islamisasi bahasa dalam sebutan Majlis<br />
Permusyawaratan Rakyat (yang semuanya berasal dari kata Arab) sejalan dengan<br />
Islamisasi si penghuni bangunan MPR. Selain itu, menyandarkan demokratisasi pada<br />
kelas menengah yang digaji (salaried middle-class), yang tidak otonom seperti<br />
saudara-saudara mereka di Eropa dua abad lalu, juga terbukti amat riskan.</p>
<p>Agar bisa menyatroni audiensnya sekarang, gagasan dan gerbong pembaruan harus<br />
lebih tanggap terhadap kesulitan ekonomi yang menerpa banyak orang belakangan<br />
ini. Juga terhadap dislokasi psikologis akibat gempuran urbanisasi dan<br />
globalisasi yang kadang dirasakan melawan rasa keadilan umum. Semuanya ini dapat<br />
dan harus dilakukan tanpa kita mengorbankan pesan-pesan abadi pembaruan.</p>
<p>Tanpa itu, gagasan pembaruan akan dianggap oleh para audiens terdekatnya sebagai<br />
tidak relevan, mengawang-awang. Gerbongnya hanya akan diisi oleh audiens-audiens<br />
yang tua, menjadikan gerbong itu hanya berjalan lambat dan tertatih-tatih.<br />
Peluit keretanya tidak akan disongsong para penumpang baru yang energik, pemilik<br />
sesungguhnya masa depan.</p>
<p>Ihsan Ali-Fauzi Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=22&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/11/artikulasi-pembaruan-nurcholish-madjid-kekuatan-dan-batas-batasnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SHAME ON YOU mr. susilo</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/06/shame-on-you-mr-susilo/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/06/shame-on-you-mr-susilo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 05:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/06/shame-on-you-mr-susilo/</guid>
		<description><![CDATA[Ulil Abshar-Abdalla Salam, Melihat perkembangan di Indonesia saat ini, ada perasaan frustasi yang menyayat-nyayat dalam diri saya. Apakah Indonesia masih bisa ditolong? Berita yang selalu menyayat saya adalah perkembangan kebebasan agama di tanah air yang sedang memasuki situasi &#8220;kalabendu&#8221; atau kegelapan. Demi menjaga kesucian akidah (=Islam), nyawa ribuan anggota jamaah Ahmadiyah berada dalam ancaman. Bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=21&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulil Abshar-Abdalla<br />
Salam,<br />
Melihat perkembangan di Indonesia saat ini, ada perasaan frustasi<br />
yang menyayat-nyayat dalam diri saya. Apakah Indonesia masih bisa<br />
ditolong?</p>
<p>Berita yang selalu menyayat saya adalah perkembangan kebebasan agama<br />
di tanah air yang sedang memasuki situasi &#8220;kalabendu&#8221; atau kegelapan.<br />
Demi menjaga kesucian akidah (=Islam), nyawa ribuan anggota jamaah<br />
Ahmadiyah berada dalam ancaman. </p>
<p>Bahwa pemerintah saat ini tidak berani mengambil sikap tegas untuk<br />
menolak desakan pembubaran Ahmadiyah, buat saya, adalah memalukan.<br />
Saya ingin mengatakan: SHAME ON YOU, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO!</p>
<p>Hari ini, saya membaca berita, pemerintah menunda penerbitan SKB yang<br />
direkomendasikan oleh Bakor Pakem untuk membubarkan Ahmadiyah. Buat<br />
saya, pemerintah tak perlu waktu lama untuk mengambil keputusan yang<br />
sudah jelas dan terang-benderang ini, yakni melindungi setiap<br />
penduduk untuk menjalankan keyakinan mereka tanpa pandang bulu.<br />
Itulah aturan main yang ditetapkan dalam konstitusi. Kalau kelompok<br />
yang dianggap sesat oleh golongan mayoritas bisa diberangus, lalu apa<br />
beda negeri ini dengan sebuah teokrasi, negara agama, negara MUI,<br />
negara kaum Sunni yang bisa memaksakan sebuah fatwa menjadi ketentuan<br />
hukum yang mengikat?</p>
<p>Bahwa pemerintah Susilo terombang-ambing mengambil keputusan yang<br />
tegas dalam soal yang sudah jelas dan &#8220;cetha wela-wela&#8221; ketentuannya<br />
ini, adalah memalukan sekali. SHAME ON YOU SUSILO! SHAME!</p>
<p>Saya mengirim sebuah kolom ke Harian Kompas beberapa waktu lalu,<br />
tetapi hingga sekarang tak (atau belum?) dimuat. Saya tak tahu,<br />
kenapa. Saya mengatakan dalam kolom itu, bahwa Presiden Susilo (saya<br />
tak suka memakai singkatan SBY; kebiasaan singkat-menyingkat atau<br />
membuat akronim ini sebaiknya dihindari) perlu belajar dari kasus<br />
segregasi rasial di Arkansas, AS, dan ketegasan Presiden Dwight<br />
Eisenhower pada waktu itu.</p>
<p>Alkisah, pada bulan September 1957, gubernur negara Arkansas, Orval<br />
Faubus, melarang sembilan murid hitam untuk masuk sekolah kembali di<br />
Central High School di kota Little Rock, Arkansas. Ini adalah bagian<br />
dari warisan diskriminasi rasial yang masih bertahan kuat di kawasan<br />
selatan Amerika hingga saat itu. Kebijakan Gubernur Faubus ini<br />
menimbulkan protes luas di luar negara bagian Arkansas dan menjadi<br />
liputan media massa selama berhari-hari.</p>
<p>Setelah beberapa minggu, akhirnya Presiden Dwight Eisenhower turun<br />
tangan. Dia memerintahkan Gubernur Faubus untuk mencabut<br />
keputusannnya itu. Bukan hanya itu. Presiden Eisenhower mengirimkan<br />
pasukan dari Divisi Airborne 101 ke Little Rock pada tengah malam<br />
tanggal 23 September. Keesokan harinya, 24 September, sembilan murid<br />
hitam yang menjadi korban rasisme itu dikawal oleh pasukan federal ke<br />
sekolah. Pasukan itu mengawal mereka sepanjang perjalanan dalam bus<br />
hingga masuk ke kelas. Membaca kisah ini pertama kali, saya begitu<br />
terharu.</p>
<p>Diskrimnasi tak dibenarkan oleh konstitusi Amerika, dan untuk itu<br />
Presiden Eisenhower dengan tegas sekali membatalkan kebijakan rasis<br />
Gubernur Faubus, mengirim pasukan secara langsung untuk memastikan<br />
bahwa hak-hal murid hitam tak diganggu oleh kaum kulit putih yang<br />
rasis.</p>
<p>Saya membayangkan, Presiden Susilo bisa meniru (walau sedikit saja)<br />
ketegasan Presiden Einsenhower itu. Saya membayangkan, Presiden<br />
Susilo mengatakan dengan tegas ke rakyat Indonesia bahwa kebebasan<br />
melaksanakan keyakinan tak bisa diganggu oleh siapapun. Pemerintah<br />
tak bisa melakukan negosiasi apapun dalam masalah yang mendasar ini.</p>
<p>Saya membayangkan, Presiden Susilo menyampaikan pidato dengan &#8220;daya<br />
pesonanya&#8221; yang terkenal itu dan mengatakan dengan kalimat yang<br />
sederhana berikut ini: Wahai bangsaku, keyakinan adalah hak dasar<br />
setiap manusia. Kalian tak bisa memaksakan keyakinan kepada orang<br />
lain. Kalian boleh punya anggapan bahwa suatu keyakinan adalah sesat.<br />
Tetapi kalian tak bisa membubarkan suatu kelompok karena keyakinan<br />
mereka. Tak bisa!</p>
<p>Presiden Susilo, bisakah saya berharap dari anda sedikit ketegasan<br />
dalam hal yang menyangkut hak mendasar dari seluruh manusia ini,<br />
masalah keyakinan?</p>
<p>Presiden Susilo, anda tak butuh waktu lama untuk merenung dan<br />
menentukan keputusan dalam masalah ini. Perkaranya sudah jelas:<br />
manusia tak bisa dipaksa untuk pindah agama, mengubah keyakinan hanya<br />
karena desakan lembaga fatwa atau umat mayoritas.</p>
<p>Kalau anda tunduk pada desakan lembaga fatwa dan umat mayoritas, maka<br />
sekali lagi, SHAME ON YOU!</p>
<p>Presiden Susilo, jika Ahmadiyah benar-benar dilarang di Indonesia,<br />
maka &#8220;raison d&#8217;etre&#8221; atau alasan keberadaannya sbagai negara yang<br />
melindungi seluruh &#8220;nasion&#8221;, bukan umat agama tertentu, sudah<br />
selesai. Indonesia sudah selesai!</p>
<p>Kalau itu terjadi, SELAMAT DATANG DI NEGERI TEOKRASI! SELAMAT<br />
MENJELANG ZAMAN KALABENDU!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=21&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/06/shame-on-you-mr-susilo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa ttg Kesesatan Hizbut Tahrir</title>
		<link>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/05/fatwa-ttg-kesesatan-hizbut-tahrir/</link>
		<comments>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/05/fatwa-ttg-kesesatan-hizbut-tahrir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 15:46:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richie Octavian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Richie Octavian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamkiri.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[*Fatwa ttg Kesesatan Hizbut Tahrir (I)* Penulis: Syaikh Al Albani Firqoh-Firqoh, 01 Juli 2003, 04:11:53 Pada suatu kesempatan ada dua pertanyaan yang keduanya bertemu pada satu titik berkenaan dengan Hizbut Tahrir (selanjutnya disingkat HT). Pertanyaan Yang Pertama : Saya banyak membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya kagum terhadap banyak pemikiran-pemikiran mereka, saya ingin Anda menjelaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=19&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*Fatwa ttg Kesesatan Hizbut Tahrir (I)*<br />
Penulis: Syaikh Al Albani<br />
Firqoh-Firqoh, 01 Juli 2003, 04:11:53<br />
Pada suatu kesempatan ada dua pertanyaan yang keduanya bertemu pada satu<br />
titik berkenaan dengan Hizbut Tahrir (selanjutnya disingkat HT).</p>
<p>Pertanyaan Yang Pertama :</p>
<p>Saya banyak membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya kagum terhadap banyak<br />
pemikiran-pemikiran mereka, saya ingin Anda menjelaskan atau memberikan<br />
faedah pada kami dengan penjelasan yang ringkas tentang Hizbut Tahrir ini.</p>
<p>Pertanyaan Yang Kedua :</p>
<p>Sehubungan dengan permasalahan- permasalahan tadi akan tetapi si penanya<br />
menghendaki dariku penjelasan yang sangat luas tentang Hizbut Tahrir,<br />
sasaran, atau tujuan-tujuannya, serta pemikiran-pemikiran nya, dan apakah<br />
semua sisi negatifnya merembet ke dalam permasalahan akidah?</p>
<p>Saya (Syaikh Al Albani) menjawab atas dua pertanyaan tadi :</p>
<p>Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari<br />
perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah<br />
(Al Qur&#8217;an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam serta di<br />
atas manhaj (jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada<br />
dalam kesesatan yang nyata! Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb)<br />
apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur&#8217;an, Sunnah<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka<br />
akan berakibat atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu<br />
(dalam dakwahnya) ikhlas.</p>
<p>Pembahasan saya kali ini tentang golongan-golongan Islamiyah yang mereka<br />
semua harus ikhlas kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla dan menginginkan nasehat<br />
kebaikan bagi umat sebagaimana dalam hadits yang shahih :</p>
<p>&#8220;Agama itu adalah nasehat&#8221;, kami (para shahabat) berkata : &#8220;Bagi siapa ya<br />
Rasulullah?&#8221; (Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam) bersabda : &#8220;Bagi<br />
Allah dan bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi Imam-Imam kaum Muslimin, dan<br />
mereka (kaum Muslimin) pada umumnya.&#8221; (Imam Muslim menyendiri dalam lafadz<br />
hadits hadits ini dari hadits Tamim Ad Dari)</p>
<p>Karena Allah telah berfirman dalam Al Qur&#8217;an tentang permasalahan ini :</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar<br />
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.&#8221; (QS. Al Ankabut : 69)</p>
<p>Maka barangsiapa yang jihadnya karena Allah &#8216;Azza wa Jalla dan berdasarkan<br />
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam serta di atas<br />
manhaj Salafus Shalih merekalah orang-orang yang dimaksud dalam ayat :</p>
<p>&#8220;Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu.&#8221; (QS.<br />
Muhammad : 7)</p>
<p>Manhaj Salafus Shalih ini adalah dasar yang agung maka dakwah setiap<br />
golongan kaum Muslimin harus berada di atasnya. Berdasarkan pengetahuan<br />
saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya<br />
berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang<br />
ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh.</p>
<p>Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu<br />
&#8216;Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada<br />
manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.</p>
<p>Dan saya (Al Albani) tidak menyebut satu jamaah tadi sebuah hizb (sekte)<br />
karena mereka tidak berkelompok dan tidak berpecah belah serta tidak fanatik<br />
kecuali kepada Kitabullah, Sunnah Rasul, dan manhaj Salafus Shalih, dan<br />
sungguh saya tahu persis tentang hal ini. Dan akan lebih jelas bagi kita<br />
semua betapa pentingnya dasar yang ketiga ini dalam kaitannya dengan nash<br />
syar&#8217;i yang dinukil dari Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam baik yang<br />
berhubungan dengan Al Qur&#8217;an maupun As Sunnah.</p>
<p>Pada kenyataannya, jamaah-jamaah Islamiyah sekarang ini, demikian pula<br />
kelompok-kelompok Islamiyah sejak awal munculnya penyimpangan terus<br />
merajalela serta menampakkan taringnya di antara jamaah-jamaah Islamiyah<br />
yang pertama (yaitu mulai timbulnya Khawarij) pada masa Amirul Mukminin Ali<br />
bin Abi Thalib radhiallahu &#8216;anhu, kemudian sejak mulainya Jaad bin Dirham<br />
mendakwahkan (pemikiran) Mu&#8217;tazilah dan sejak munculnya firqah-firqah yang<br />
dikenal nama-namanya di zaman dulu serta berhubungan dengan wajah-wajah baru<br />
di zaman sekarang dengan nama-nama yang baru pula. Mereka itu baik yang dulu<br />
maupun yang sekarang tidak terdapat padanya perbedaan, tak satupun di antara<br />
mereka yang menyatakan dan mengumandangkan bahwasanya mereka di atas manhaj<br />
Salafus Shalih.</p>
<p>Semua kelompok-kelompok ini dengan perselisihan yang ada pada mereka, baik<br />
dalam masalah akidah, dasar-dasar atau permasalahan- permasalahan hukum dan<br />
furu&#8217; (cabang-cabang) , semuanya menyatakan berada di atas Kitab dan Sunnah,<br />
akan tetapi mereka berbeda dengan kita, karena mereka tidak mengatakan apa<br />
yang kita katakan, yang perkataan itu merupakan kesempurnaan dakwah kita.<br />
Yakni (perkataan) berada di atas manhaj Salafus Shalih.</p>
<p>Maka atas dasar ini, siapa yang menghukumi golongan-golongan ini, yang<br />
mereka semua ber-intima&#8217; (menisbatkan diri) walaupun minimal secara<br />
perkataan bahwa dakwahnya di atas Kitab dan Sunnah, dan bagaimana hukum yang<br />
pasti (tentang mereka), karena mereka semua mengatakan dengan perkataan yang<br />
sama?</p>
<p>Jawabannya, tidak ada jalan untuk menghukumi golongan-golongan di antara<br />
mereka bahwa mereka di atas yang haq (benar), kecuali apabila dibangun di<br />
atas manhaj Salafus Shalih. Sekarang pada diri kita timbul satu pertanyaan :<br />
&#8220;Dari mana (atas dasar apa, pent.) kita mendatangkan manhaj Salafus Shalih?&#8221;</p>
<p>Jawabannya, sesungguhnya kita mendatangkan dasar yang ketiga ini dari<br />
Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan<br />
sebagaimana yang telah ditempuh oleh Imam-Imam Salaf dari kalangan shahabat<br />
dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah<br />
seperti halnya yang mereka katakan saat ini. Dalil yang pertama adalah<br />
firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan<br />
mengikuti jalan selain jalannya orang-orang Mukmin, Kami palingkan dia<br />
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu<br />
seburuk-buruk tempat kembali.&#8221; (QS. An Nisa&#8217; : 115)</p>
<p>Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala ((&#8220;Dan mengikuti jalan yang bukan jalan<br />
orang-orang Mukmin&#8221;)) dihubungkan dengan firman Allah ((&#8220;Dan barangsiapa<br />
menentang Rasul&#8221;)). Maka seandainya ayat ini berbunyi ((&#8220;Dan barangsiapa<br />
yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami palingkan dia<br />
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu<br />
seburuk-buruk tempat kembali&#8221;)) yakni tanpa firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
((&#8220;Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin&#8221;)) niscaya ayat<br />
ini menunjukkan kebenaran dakwah golongan-golongan dari kelompok-kelompok<br />
tadi baik yang di zaman dahulu maupun yang sekarang ini, karena mereka<br />
mengatakan kami di atas Kitab dan Sunnah. Mereka tidak mengembalikan<br />
permasalahan- permasalahan yang mereka perselisihkan kepada Kitab dan Sunnah,<br />
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8221; â€¦ kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah<br />
ia kepada Allah (Al Qur&#8217;an) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar<br />
beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)<br />
dan lebih baik akibatnya.&#8221; (QS. An Nisa : 59)</p>
<p>Apabila Anda mengajak (berdakwah) kepada salah satu dari jumhur ulama mereka<br />
dan salah satu dari da&#8217;i mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah<br />
Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam, maka mereka akan berkata, &#8220;Saya mengikuti<br />
madzhabku&#8221;, yang lain menyatakan, &#8220;madzhabku adalah Hanafi&#8221;, yang lain<br />
menyatakan, &#8220;madzhabku adalah Syafi&#8217;i&#8221;, dan seterusnya.</p>
<p>Mereka taqlid kepada Imam-Imam mereka sebagaimana mereka mengikuti<br />
Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam. Maka apakah benar<br />
mereka mengamalkan ayat ini? Tidak sama sekali dan sekali-kali tidak. Oleh<br />
sebab itu apa faedahnya pengakuan mereka bahwasanya mereka di atas Kitab dan<br />
Sunnah selama mereka tidak mengamalkan keduanya.</p>
<p>Dari contoh ini, tidaklah saya menghendaki untuk orang-orang yang taqlid<br />
(awam, pent.) dari mereka, akan tetapi yang aku kehendaki dengannya adalah<br />
para da&#8217;i Islam yang seharusnya tidak menjadi orang yang taqlid belaka, yang<br />
mengutamakan pendapat para Imam yang tidak ma&#8217;shum keadaannya.</p>
<p>Maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tidaklah menyebutkan kalimat di pertengahan<br />
ayat tadi secara sia-sia, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menginginkan<br />
dengannya menanamkan satu pokok yang sangat penting, suatu patokan yang<br />
sangat kokoh yaitu tidak boleh kita semata-mata bersandar pada akal dalam<br />
memahami Kitab Allah (Al Qur&#8217;an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi<br />
Wa Sallam.</p>
<p>Kaum Muslimin hanyalah dikatakan mengikuti Al Qur&#8217;an dan As Sunnah baik<br />
secara pokok-pokoknya dan patokan-patokannya, apabila di samping berpegang<br />
pada Al Qur&#8217;an dan Sunnah, mereka juga berpegang dengan apa yang ditempuh<br />
oleh Salafus Shalih. Karena ayat di atas mengandung nash yang jelas tentang<br />
dilarangnya kita menyelisihi jalannya para shahabat.</p>
<p>Artinya wajib bagi kita mengikuti Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam<br />
dan tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita<br />
untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya. Dari<br />
sini kita menyatakan bahwa wajib atas tiap golongan/kelompok/ jamaah<br />
Islamiyah untuk memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar<br />
kepada Al Qur&#8217;an dan Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih.</p>
<p>Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang<br />
ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.<br />
Sedangkan kelompok-kelompok yang mengumandangkan perang dengan Islam seperti<br />
partai Baats dan partai komunis, maka mereka tidak (masuk) dalam pembicaraan<br />
kita sekarang ini.</p>
<p>Oleh karena itu seyogyanya seorang Muslim dan Muslimah hendaknya mengetahui<br />
bahwa suatu garis kalau sudah bengkok pada awalnya (pangkalnya) maka akan<br />
semakin jauh dari garis yang lurus. Dan setiap ia melangkahkan kakinya akan<br />
semakin bertambahlah penyelewengannya. Maka jelas yang lurus adalah<br />
sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di dalam ayat Al<br />
Qur&#8217;an :</p>
<p>&#8220;Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka<br />
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena<br />
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.&#8221; (QS. Al An&#8217;am : 153)</p>
<p>Ayat yang mulia ini jelas Qath&#8217;iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan)<br />
sebagaimana disukai dan biasa diucapkan oleh Hizbut Tahrir dan sekte-sekte<br />
lain dalam dakwahnya, tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya. Dalil yang<br />
Qath&#8217;iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan) , karena ayat ini menyatakan :<br />
&#8220;Sesungguhnya jalan yang bisa menuju pada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala adalah<br />
satu, dan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang menjauhkan kaum<br />
Muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Dan Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam juga menambahkan keterangan dan<br />
penjelasan terhadap ayat ini sebagaimana keberadaan Sunnah Rasulullah<br />
Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam itu sendiri (menjelaskan dan menerangkan Al<br />
Qur&#8217;an, pent.). Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkan dalam Al Qur&#8217;anul<br />
Karim kepada Nabi-Nya Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam :</p>
<p>&#8220;Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur&#8217;an, agar kamu menerangkan kepada umat<br />
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.&#8221; (QS. An Nahl : 44)</p>
<p>Sunnah Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam adalah penjelas yang sempurna<br />
terhadap Al Qur&#8217;an, sedangkan Al Qur&#8217;an adalah asal peraturan/undang- undang<br />
dalam Islam. Untuk memperjelas suatu permasalahan pada kita agar lebih mudah<br />
untuk dipahami, saya (Syaikh Al Albani) berkata : &#8220;Al Qur&#8217;an bila<br />
diibaratkan dengan sistem peraturan buatan manusia adalah seperti<br />
undang-undang dasar dan As Sunnah bila diibaratkan dengan sistem peraturan<br />
buatan manusia adalah seperti penjelasan terhadap undang-undang dasar<br />
tersebut.&#8221;</p>
<p>Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang<br />
pasti bahwa tidak mungkin bisa memahami Al Qur&#8217;an kecuali dengan penjelasan<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan ini adalah perkara yang telah<br />
disepakati.</p>
<p>Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum Muslimin sehingga menimbulkan<br />
berbagai pengaruh setelahnya yaitu bahwa semua firqah sesat dahulu tidak mau<br />
memperhatikan dasar yang ketiga ini yaitu mengikuti Salafus Shalih, maka<br />
mereka menyelisihi ayat yang aku sebutkan berulang-ulang :</p>
<p>&#8221; â€¦ dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang Mukmin.&#8221; (QS. An<br />
Nisa : 115)</p>
<p>Mereka menyelisihi jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, karena jalan Allah<br />
Subhanahu wa Ta&#8217;ala adalah satu yaitu sebagaimana yang disebut dalam ayat<br />
terdahulu :</p>
<p>&#8220;Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka<br />
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena<br />
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.&#8221; (QS. Al An&#8217;am : 153)</p>
<p>Saya (Syaikh Al Albani) berpendapat, sesungguhnya Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi<br />
Wa Sallam menambahkan penjelasan dan keterangan pada ayat ini dari riwayat<br />
salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam yang<br />
terkenal faqih (fahamnya terhadap dien) yaitu Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud<br />
radhiallahu &#8216;anhu ketika beliau mengatakan :</p>
<p>Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam membuat satu garis<br />
untuk kami, sebuah garis lurus dengan tangan beliau di tanah, kemudian<br />
beliau menggaris disekitar garis lurus itu garis-garis pendek. Lalu<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan (menunjuk) pada<br />
garis yang lurus dan beliau membaca ayat (yang artinya : &#8220;Dan bahwa (yang<br />
Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan<br />
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu<br />
menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya&#8221;.</p>
<p>Bersabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam sambil menunjuk jarinya<br />
pada garis lurus, &#8220;ini adalah jalan Allah&#8221;, kemudian menunjuk pada<br />
garis-garis yang pendek di sekitarnya (kanan-kirinya) dan bersabda, &#8220;ini<br />
adalah jalan-jalan dan pada setiap pangkal jalan itu ada syaithan yang<br />
menyeru manusia padanya.&#8221;</p>
<p>Hadits ini ditafsirkan dengan hadits lain yang telah diriwayatkan oleh Ahlus<br />
Sunan seperti Abu Dawud, Tirmidzi, dan selain dari keduanya dari Imam-Imam<br />
Ahlul Hadits dengan jalan yang banyak dari kalangan para shahabat seperti<br />
Abu Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik, dan yang selainnya dengan sanad yang<br />
jayyid. Sesungguhnya Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :</p>
<p>&#8220;Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72<br />
golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan,<br />
semuanya ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para shahabat) bertanya :<br />
&#8220;Siapa dia ya Rasulullah?&#8221; Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda<br />
: &#8220;Dia adalah apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya.&#8221;</p>
<p>Hadits ini menjelaskan kepada kita jalannya kaum Mukminin yang disebut dalam<br />
ayat tadi. Siapakah orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam ayat itu?<br />
Meraka itulah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam<br />
pada hadits Al Firaq, ketika beliau ditanya tentang Firqatun Najiah<br />
(golongan yang selamat), manhaj, sifat, dan titik tolaknya. Maka Rasulullah<br />
Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam menjawab, &#8220;apa yang aku dan para shahabatku<br />
berada di atasnya.&#8221;</p>
<p>Maka jawaban ini wajib diperhatikan, karena merupakan jawaban dari<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam. Jika bukan wahyu dari Allah<br />
Subhanahu wa Ta&#8217;ala maka itu adalah tafsir dari Rasulullah Shallallahu<br />
&#8216;Alaihi Wa Sallam terhadap jalannya orang-orang Mukmin yang terdapat pada<br />
firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah sesudah jelas kebenaran baginya<br />
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin.&#8221;</p>
<p>Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyebutkan tentang Rasulullah<br />
Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan jalannya orang-orang Mukmin. Sementara itu<br />
(dalam hadits, pent.) Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam menyebutkan<br />
tanda Firqatun Najiah yang tidak termasuk 72 golongan yang binasa.<br />
Sesungguhnya Firqatun Najiah adalah golongan yang berdiri di atas apa yang<br />
ada pada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dan para shahabat.</p>
<p>Maka pada hadits ini kita akan dapati apa yang kita dapati pula dalam ayat.<br />
Sebagaimana ayat tidak membatasi penyebutan Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi<br />
Wa Sallam saja, demikian pula hadits tidak membatasi penyebutan Rasulullah<br />
Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam saja. Di samping itu ayat juga menyebutkan<br />
jalannya orang-orang Mukmin demikian pula dalam hadits terdapat penyebutan<br />
&#8220;shahabat Nabi&#8221; maka bertemulah hadits dengan Al Qur&#8217;an. Oleh sebab itu<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :</p>
<p>&#8220;Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat<br />
selama berpegang teguh dengan keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnahku dan<br />
tidaklah terpisah keduanya (Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) sampai keduanya datang<br />
kepadaku di Haudl.&#8221; (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatha&#8217;-nya, Al Hakim<br />
dalam Mustadrak-nya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami&#8217;<br />
hadits nomor 2937)</p>
<p>Banyak golongan-golongan terdahulu maupun sekarang yang tidak berdiri di<br />
atas dasar yang ketiga ini sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur&#8217;an<br />
dan Hadits. Pada hadits di atas disebutkan tanda golongan yang selamat yaitu<br />
yang berada di atas apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa<br />
Sallam dan para shahabatnya. Semakna dengan hadits ini adalah hadits Irbadl<br />
ibn Sariyyah radhiallahu &#8216;anhu yang termasuk salah satu shahabat Rasulullah<br />
Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam dari kalangan Ahlus Shufah, yakni mereka dari<br />
kalangan fuqara&#8217; yang tetap berada di Masjid dan menghadiri halaqah-halaqah<br />
(majelis taklim) Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam secara langsung<br />
dan bersih. Berkata Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu &#8216;anhu :</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam memberi nasehat kepada kami yang<br />
membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang (karena terharu).<br />
Kami berkata : &#8220;Ya Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka<br />
berilah kami wasiat.&#8221; Maka beliau bersabda : &#8220;Aku wasiatkan kepada kamu<br />
sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla dan senantiasa<br />
mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak.<br />
Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan<br />
melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian<br />
berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat<br />
petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham<br />
kalian, dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan<br />
agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid&#8217;ah. Dan<br />
setiap bid&#8217;ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.&#8221; (HR. Abu Dawud,<br />
Tirmidzi. Berkata Tirmidzi, hadits ini hasan) Hadits ini merupakan (penguat)<br />
bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam tidak membatasi perintahnya<br />
kepada umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnahnya saja ketika mereka<br />
berselisih akan tetapi beliau menjawab dengan uslub/cara bijaksana, dan<br />
siapa yang lebih bijaksana dari beliau setelah Allah? Oleh sebab itu tatkala<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam bersabda :</p>
<p>&#8220;Barangsiapa di antara kalian yang hidup (berumur panjang) setelahku maka<br />
dia akan melihat perselisihan yang banyak.&#8221;</p>
<p>Beliau juga memberikan jawaban dari soal yang mungkin akan muncul<br />
(dipertanyakan) : &#8220;Apa yang kita lakukan ketika itu wahai Rasulullah?&#8221; Maka<br />
Rasulullah menjawab : &#8220;Wajib atas kalian mengikuti sunnahku.&#8221; Dan Rasulullah<br />
tidak mencukupkan perintahnya terhadap mereka yang hidup pada waktu terjadi<br />
perselisihan dengan hanya mengikuti sunnah beliau, akan tetapi<br />
menggabungkannya dengan sabda beliau :</p>
<p>&#8221; â€¦ dan sunnahnya Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.&#8221;</p>
<p>Jika demikian halnya, maka seorang Muslim yang menginginkan kebaikan pada<br />
dirinya dalam masalah akidah, dia harus kembali pada jalannya orang-orang<br />
Mukmin (para shahabat) bersama dengan Kitab (Al Qur&#8217;an dan As Sunnah) yang<br />
shahih dengan dalil ayat dan hadits Al Firaq (perpecahan) serta hadits dari<br />
Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu &#8216;anhu.</p>
<p>Inilah kenyataan yang ada dan sangat disesalkan bahwasanya hal ini banyak<br />
dilalaikan oleh semua hizbi-hizbi/ sekte-sekte Islamiyah masa sekarang ini<br />
sebagaimana keberadaan firqah-firqah yang sesat, khususnya kelompok Hizbut<br />
Tahrir yang berbeda dengan sekte-sekte lainnya di mana Hizbut Tahrir dalam<br />
melaksanakan Islam menggunakan akal manusia sebagai tolok ukurnya.<br />
(Bersambung ke vol. II)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamkiri.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamkiri.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamkiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamkiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamkiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamkiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamkiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamkiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamkiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamkiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamkiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamkiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamkiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamkiri.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamkiri.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamkiri.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamkiri.wordpress.com&amp;blog=3588884&amp;post=19&amp;subd=islamkiri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamkiri.wordpress.com/2008/05/05/fatwa-ttg-kesesatan-hizbut-tahrir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/62152be712ce9a01013ec01da2b1cb46?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">richieoct</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
