You are currently browsing the monthly archive for June, 2008.

Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas
Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam
(FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah.
Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita
yang mulai cenderung salah arah tersebut.
Penyerangan, Bukan Bentrok
Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara
massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu
mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian
massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan
dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang
lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI
mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan
kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin
dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu
meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu
kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan
pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah
serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab
kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka
kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan.
Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang
melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB
bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan,
puluhan orang menderita luka.
Tidak Ada Provokasi
Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan
provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang
itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya,
acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada
peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu
Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar
dilakukan oleh AKKBB.
Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada
saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI:
“Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.”
Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab
bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan
terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian,
hari minggu siang kita perang.”  Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan
bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai
1000 kosong.
Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari
itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan
datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad.
Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan. Munarman juga menyampaikan:
“Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan
konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan
di HI dan di depan RRI.”
Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat bahwa FPI memang melakukan
serangan secara terencana dan bukan insidental.
Senjata Api
Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini,
oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan
kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila
dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua.” Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi
damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka
kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi
peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah
ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format
damai.
Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita
merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi
hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di
lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya
dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat
umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet.
Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB
sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan
atribut serupa.
Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: “Kami tidak bisa
dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah mereka….”
(Sabili No. 25 Th. XV). 
Keluar Rute
Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena
tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju
Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke
pelataran Monas.
Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang
dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui
adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang
melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni
belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan
Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada
satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu
memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa
AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu
kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang
tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam
perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.
Menipu Peserta
Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan
ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi
peserta aksi. Ini juga adalah dusta.
Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang
dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di
pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu
ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai
cara.
Pengalihan Isu BBM
Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut
sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang
sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB
yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa
bukti disebut untuk mengalihkan isu.
Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya
yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang.
Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan
serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan.
Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.
Saidiman
www.saidiman.wordpress.com

A CONTROVERSY broke out recently in Indonesia over a minority sect that
originates in India, Ahmadiyah. It claims that its founder, Mirza
Ghulam Ahmad, is a prophet. As the majority of Muslim believe in the
finality of Muhammad’s prophethood, this claim came as a big shock to
them. It amount to dismantling the very foundation of Islam.

Members of the above mentioned sect still believe in Muhammad as the
last prophet tasked by God to convey the last divine message to the
humankind. However, in addition to this, they believe that the founder
of the sect came as a “messiah”, in addition to being a prophet, whose
task is to strengthen the prophecy of Muhammad and spread his message.
He didn’t claim to bring new “covenant” or message from God.

They are also of the opinion that what ends with the death of Muhammad
is not prophecy in general. Muhammad sealed off what they called “the
prophecy that conveys a divine law”, nubuwwat al-tashri’.
Mirza Ghulam Ahmad, the founder of the sect, is not a prophet in that
sense; he is a prophet in the sense of rejuvenating the divine law
propagated by Muhammad before. In other words, he is prophet/renewer, mujaddid.

The difference between orthodox Islam and Ahmadiyah on this particular
issue is very thin. It is merely a matter of interpretation.

As a matter of fact, Ahmadiyah members adhere to the same doctrines and
embrace the same rituals as other Muslim do. They pray five times a day
facing to Ka’aba exactly in the same way as other Muslim do. They visit
Mecca to fulfill the fifth pillar of Islam, hajj or pilgrimage. They fast in
Ramadan as others do. They pay religious alms, zakat, in the same manner as
other Muslim do.

They believe in Quran as their Holy Scripture. It’s a sheer lie to say
that they have in their possession a Scripture other than Quran, as
their opponents repeatedly allege.

The sole difference resides in the way they interpret the concept of
prophecy. Different interpretation is not unknown in Islamic tradition.
Yet, the majority of Muslim believe that Ahmadiyah has crossed the
tolerable line of valid interpretation. They believe that Ahmadiyah’s
doctrine of prophecy amounts to deviation from the true “path” of
Islam. Hence their “silly” request that Ahmadiyah’s members declare
themselves as non-Muslim and set up a new religion.

Muslim also believe that members of this sect has done a serious
blasphemy to Islam as they deviate from the true doctrine of prophecy.
In June 2005, a fatwa or religious edict has been issued by the Council of
Indonesian Ulama (MUI) deeming this sect as “going astray” (sesat).
Unfortunately, the fatwa has set in motion series of attacks and
persecutions against the sect. Numbers of Ahmadiyah’s mosques have been
demolished. Thousands of its member end up losing houses that shelter
them.

The accusation that Ahmadiyah commits blasphemy against Islam strikes
me as a sheer “non-sense”. To have a different interpretation about
certain doctrines in Islam cannot be seen as blasphemy. The orthodox
mullahs or ulama who see themselves as the guardian of “truth” always
think that their interpretation embodies the truth of Islam itself.
They deliberately efface the line demarcating between “religion” and
“the discourse on religion”, between din and al-khithab al-dini,
as Egpytian thinker Nasr Hamid Abu Zayd once aptly put. To challenge
their interpretation is to be seen as unwarranted “dissent” against the
truth of Islam. That is not enough. They tell people that to challenge
their authority is tantamount to commit a blasphemy against Islam.

It is sad to see that many Muslims buy this kind of thought and
argument. They are enraged to see ulama being challenged. They took to
the street in protest against what they see as a mounting threat to
Islam.

The identification of “Islam” with the existing interpretation that is
predominant among Muslim is dangerous. It obviously results in
silencing different point of views in Islam. It will smooth up ways for
the conservatives to place themselves as the sole voice of Islam. To
me, this is a stealth move to hijack Islam.

Muslim should speak up to challenge such move. To have a different
interpretation is not and cannot be a blasphemy. It is the right of
every Muslim to have their own views on Islam aired and it is also
their right to be treated with great respect to voice a different view
and interpretation.

The mullahs always tell Muslim that by allowing such open leeway to
interpret Islam, Muslim society will end up enmeshed in chaos, fitna.

I say to you, my friends: Muslims are already in chaos now, no matter
whether or not they are aware of this. The chaos comes about not
because of the excess of freedom Muslim enjoy to interpret Islam in
such manner that speaks to the very challenges they face nowadays. The
chaos is a result of the deficit of freedom instead.

Ulil

Belakangan ini, sejumlah pihak/media berusaha membangun/merekonstruksi
gambaran tentang penyerangan FPI atas Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dengan cara manupulatif. Gambaran yang
dibangun adalah:

1. FPI memang melakukan kekerasan tetapi itu terjadi karena diprovokasi
oleh AKKBB yang secara demonstratif menantang umat Islam.
2. FPI memang melakukan kekerasan fisik tetapi sebenarnya yang selama ini
terjadi adalah kekerasan verbal oleh kalangan AKKBB yang menguasai media.
3. FPI memang melakukan kekerasan tapi ini terjadi karena akar masalahnya
tidak kunjung terselesaikan, yakni soal Ahmadiyah.

Gambaran semacam itu manipulatif dan dapat menyesatkan cara pandang umum
tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa gambaran manipulatif itu
dibangun oleh tokoh dan media yang menyebut dirinya ‘Islam’ menjadi
penting karena terkesan bahwa dengan demikian, dalam Islam berbohong demi
tujuan adalah suatu hal yang dibenarkan.

Penjelasan saya soal manipulasi itu adalah sebagai berikut:

Pertama, apa yang dilakukan AKKBB dengan membuat iklan satu halaman penuh
di berbagai media plus unjuk rasa di Monas memang demonstratif untuk
menandingi apa yang dipercaya sebagai gelombang besar gerakan radikalisme
Islam. Tentu saja pernyataan sikap itu harus dinyatakan secara mencolok
karena yang ditentang adalah kekuatan besar yang melibatkan tak kurang
dari Majelis Ulama Indonesia, FPI, FUI, GUUI, HTI, dan lain-lain. Jangan
lupakan di sejumlah daerah, tindakan anarkis terhadap Ahmadiyah sudah
terjadi. Jangan lupa pula, MUI dan kawan-kawan sedang terus mendesak
pemetintah untuk segera mengeluarkan SKB pembubaran Ahmadiyah yang menurut
sejumlah ahli hukum sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam struktur hukum
ketatanegaaan kita.

Jadi, sikap demonstratif AKKBB adalah sikap yang memang sengaja dilakukan
untuk mencegah penindasan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan –
sesuatu yang memang menjadi alasan pendirian AKKBB. Aliansi ini percaya
bahwa mereka harus bersuara keras karena lawannya memang besar. ernyataan
sikap semacam itu tentu saja tidak bisa dibaca sebagai ‘provokasi’ untuk
mengundang pihak lain melakukan tindakan brutal.

Kedua, penggunaan istilah kekerasan verbal oleh AKKBB tentu saja
manipulatif karena yang selama ini menggunakan kekerasan verbal adalah
justru MUI, FPI dan kawan-kawan. Bukankah selama istilah yang digunakan
untuk merujuk pada mereka yang dianggap berpikiran liberal dan pluralis
adalah: ”SEPILIS”, Jaringan Iblis Laknatullah, Budak Kafir, Antek Yahudi,
Antek Amerika, Sesat dan Menyesatkan, Murtad, Halal Darahnya, dst?
Kekerasan verbal apa lagi yang bisa lebih buruk dari itu? Pernahkah
kawan-kawan AKKBB menggunakan istilah serupa?

Gambaran bahwa AKKB itu menguasai media juga jauh dari kebenaran.
Pengamatan sederhana menunjukan bahwa dalam perdebatan pro dan anti
Ahmadiyah saja sudah terlhat bagaimana media mainstream menghindar dari
pembelaan terhadap Ahmadiyah, karena takut pada FPI dkk atau karena
sejumlah awak redaksi mereka memang percaya bahwa Ahmadiyah itu sesat.
Bahwa dalam kasus penyerangan oleh FPI terhadap AKKB ada kesan bahwa
umumnya media (kecuali Republika tentunya) menempatkan FPI sebagai pihak
yang menyerang, tentu saja karena apa yang terjadi di lapangan memang
begitu (kecuali Anda percaya dengan cerita seorang personil AKKBB yang
memang membawa senjata untuk menembaki FPI?).

Ketiga, penempatan soal ’Ahmadiyah’ sebagai akar masalah, tentu saja
adalah taktik yang licik untuk membelokkan isu ke arah pembubaran
Ahmadiyah. Isu Ahmadiyah adalah isu perbedaan pendapat antara dua kubu
pemikiran yang lazim terjadi dalam suatu masyarakat demokratis. Perbedaan
pendapat sama sekali tidak boleh menjustifikasi kekerasan. Memang
pemerintah terkesan lamban, tapi selama pemerintah belum menyatakan sikap
baru, sikap lama harus diasumsikan berlaku. Dalam hal ini, sejauh ini,
pemerintah masih percaya bahwa Ahmadiyah adalah sebuah ajaran, keyakinan
dan organisasi yang sah di Indonesia. Pernyataan Bakor Pakem itu baru bisa
dilihat sebagai rekomendasi. Tidak lebih.

Karena itu, istilah ’akar masalah’ itu harus diperinci maknanya. Dalam
cara pandang yang lebih luas, bagi saya, akar persoalan adalah kesediaan
kita untuk hidup dalam sebuah masyarakat demokratis. Kalau setiap kali
kita berbeda pendapat, salah satu pihak merasa dibenarkan untuk melakukan
kekarasan atas pihak lain, kita berada dalam sistem yang setiap saat bisa
runtuh karena perbedaan pendapat. Jadi, akar masalahnya justru masih
adanya budaya kekerasan di kalangan Islam radikal. Karena itu, bagi saya,
akar masalah bukan pada Ahmadiyah – yang sepajang sejarah republik tidak
pernah melakukan kekerasan — melainkan pada (kalau mau tunjuk hidung)
FPI, GUUI, dan FUI. Selama organisasi-organisasi ini masih ada, kekerasan
akan terus berlanjut.

Salam

ade armando
Majalah Madina

Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil.
Manusia dinilai bukan dari putihnya pakaian, lebatnya jenggot, dan klaimnya atas
kebenaran. Tapi dari perbuatannya…..
Ya Allah berikan ketabahan dan kesembuhan pada saudara-saudara kami yang terluka
dan menderita akibat ulah manusia-manusia tuna susila yang bersembunyi di balik
jubah kebesaranMu.
Ya Allah, kami tuna kuasa, Engkaulah Maha Kuasa, jangan Engkau berikan kekuasaan
pada orang-orang yang telah merampas kekuasaanMu.
Ya Allah, kami tak pandai berteriak menyebut asmaMu, kami tak suka menangis di
hadapanMu, tapi kami yakin Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Tahu, maka
dengarkanlah kami, tunjukkanlah kami kebenaran!
Watilkal ayyam, nudawiluha bainannas….
Hari-hari akan semakin menunjukkan pada kita, antara yang beradab dan biadab,
antara yang bermartabat dan yang bejat, antara yang benar dan yang batil…

Jargon itu makin sering terdengar akhir-akhir ini. Salah satu ketum parpol
menjadikan jargon itu sebagai pesan pokok iklan politiknya (meski tak mau
disebut iklan politik, dan lebih sebagai pesan moral,mungkin sebuah gambaran
ungkapan nasionalisme tulen).
Aristoteles, filsuf Yunani kuno, juga berbicara mengenai perbuatan. Hanya
agak berbeda dengan Mas Tris yang mengaku tak boleh istrinya menjadi capres
ini, bagi Aristoteles perbuatan dibedakan dari tindakan. Perbuatan (poiesis)
adalah sesuatu yang dilakukan demi suatu capaian di luar perbuatan itu
sendiri. Dalam poiesis yang penting adalah hasilnya, bukan pekerjaan atau
proses yang menghasilkan output. Filsuf seperti Marcuse atau Habermas
mungkin menyebutnya hasil dari rasio instrumental.
Sedangkan tindakan (praxis) oleh Aristoteles diibaratkannya dengan orang
main seruling. Ini dilakukan karena senang memainkan seruling, bukan
lantaran mau mencapai sesuatu di luar permainan seruling. Singkatnya praxis
adalah tindakan yang bernilai pada dirinya sendiri.
Aristoteles mengimbuhi, praxis yang terpenting adalah partisipasi dalam
komunitas (politik).
Saya tidak tahu apakah pemikiran Aristoteles ini relevan atau tidak. Hanya
saja, menyimak betapa ngebetnya para calon pemimpin (yang rasanya pada
kelewat pede ini), definisi Aristoteles tetap bermanfaat.
Minimal Mas Tris (senang disebut “mas” karena kini trendnya orang muda yang
pantas memimpin…..) masih cukup waktu mempertimbangkan pikiran
Aristoteles, atau perusahaan iklan yang disewanya (yang setahu saya
pemiliknya sangat canggih dalam ilmu politik) memperhitungkan ini.
Apakah perbuatan yang dimaksud adalah tindakan? bisa jadi ini masalah diksi.
Tapi jika diisengi, bukankah menjadi sangat jamak jika di belakang perbuatan
lebih mudah diimbuhi kata-kata tak senonoh lalu menjadi keranjang sampah?
misalnya perbuatan senonoh, seronok, tak terpuji, dll……
Sedangkan tindakan lebih bermakna aktif, positif, karena ada pengandaian
pemakaian kesadaran, proses berpikir, ada refleksi dan keputusan, bukan
sekedar sesuatu yang spontan seperti perbuatan.
Boleh jadi saya keliru. Tapi memperhatikan tingkah polah politisi kita saat
ini memang asyik. Ketidakpahaman dan kedangkalan dipertontonkan dengan
telanjang dan hanya menjadi cermin wajah Indonesia saat ini, miskin pemikir,
kebanyakan penzikir (baca:orang-orang religius), dan inflasi avonturir.
Selamat merayakan Pancasila sakti, meski yang sakti kini bukan Pancasila,
tapi Mentari.
Pantas saja teman2 AKBB digebuki oleh FPI…….

Ada yang lolos dari proyek kenaikan harga BBM, sebuah exit strategy atau
semacam “janji”. Kita sebatas bicara optimis (bahkan Anies Baswedan
mengulang-ulang kata ini dalam berbagai kesempatan). optimisme berbeda
dengan harapan. Bahkan dalam pesimisme, kita tetap dapat berharap. Harapan
memiliki dimensi metafisis, ada void, kekosongan yang justru di sanalah
kekuatannya. Ia ibarat surga bagi orang beragama, yang perlu ada agar
pengharapan tidak pingsan.

Tak ada mimpi pada pemimpin kita. Agaknya dosa terbesar Orde Baru dan
Suharto pertama-tama bukan KKN dan pelanggaran HAM/Hukum, melainkan
pembunuhan daya imajinasi bangsa Indonesia. Kini kita menuai hasilnya. Daya
kreatif menghilang. Jika pun iklan “Hidup adalah Perbuatan” disebut kreatif,
ia kreatif pada tataran tampilan, kemasan, slogan, tapi sesungguhnya sangat
kosong visi, karena persis di awalnya terjadi cacat teoritik.
Mirip pula slogan baru yang digaungkan sembari menginjak-injak keperawanan
rumput senayan: Indonesia bisa. Bisa apa? tidak tahu ( embuh, kalau menurut
Amien Rais), silahkan diisi sendiri sesuka hati.
ini bukan harapan, tapi kemalasan berpikir.
Kita masih sebatas disuguhi jargon kosong yang miskin substansi.
Sungguh lelah memikirkan karut marut pimpinan negeri ini.

Atau lebih baik kita menelaah foto “setengah” asusila dari Max Moein.
Aduh…..
Besok giliran siapa dan mengapa?
Entah. karena kita masih sering menganggap kekuasaan itu “ada di sana”, dan
tak sadar jika kita diam2 disusupi melalui kapiler-kapiler lembut, aneka
seduksi yang menggerus batang kesadaran untuk pada suatu ketika akan
menghegemoni kita untuk mengatakan iya pada kedangkalan dan kerancuan.
Semoga nasionalisme tidak lantas secara latah dimaknai sebagai bentuk
eskapisme dari tantangan berpikir dan merumuskan secara baru proyek
keindonesiaan ini. entah……

salam,

pras