You are currently browsing the daily archive for May 5th, 2008.

*Fatwa ttg Kesesatan Hizbut Tahrir (I)*
Penulis: Syaikh Al Albani
Firqoh-Firqoh, 01 Juli 2003, 04:11:53
Pada suatu kesempatan ada dua pertanyaan yang keduanya bertemu pada satu
titik berkenaan dengan Hizbut Tahrir (selanjutnya disingkat HT).

Pertanyaan Yang Pertama :

Saya banyak membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya kagum terhadap banyak
pemikiran-pemikiran mereka, saya ingin Anda menjelaskan atau memberikan
faedah pada kami dengan penjelasan yang ringkas tentang Hizbut Tahrir ini.

Pertanyaan Yang Kedua :

Sehubungan dengan permasalahan- permasalahan tadi akan tetapi si penanya
menghendaki dariku penjelasan yang sangat luas tentang Hizbut Tahrir,
sasaran, atau tujuan-tujuannya, serta pemikiran-pemikiran nya, dan apakah
semua sisi negatifnya merembet ke dalam permasalahan akidah?

Saya (Syaikh Al Albani) menjawab atas dua pertanyaan tadi :

Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari
perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah
(Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta di
atas manhaj (jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada
dalam kesesatan yang nyata! Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb)
apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur’an, Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka
akan berakibat atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu
(dalam dakwahnya) ikhlas.

Pembahasan saya kali ini tentang golongan-golongan Islamiyah yang mereka
semua harus ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menginginkan nasehat
kebaikan bagi umat sebagaimana dalam hadits yang shahih :

“Agama itu adalah nasehat”, kami (para shahabat) berkata : “Bagi siapa ya
Rasulullah?” (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) bersabda : “Bagi
Allah dan bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi Imam-Imam kaum Muslimin, dan
mereka (kaum Muslimin) pada umumnya.” (Imam Muslim menyendiri dalam lafadz
hadits hadits ini dari hadits Tamim Ad Dari)

Karena Allah telah berfirman dalam Al Qur’an tentang permasalahan ini :

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al Ankabut : 69)

Maka barangsiapa yang jihadnya karena Allah ‘Azza wa Jalla dan berdasarkan
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta di atas
manhaj Salafus Shalih merekalah orang-orang yang dimaksud dalam ayat :

“Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu.” (QS.
Muhammad : 7)

Manhaj Salafus Shalih ini adalah dasar yang agung maka dakwah setiap
golongan kaum Muslimin harus berada di atasnya. Berdasarkan pengetahuan
saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya
berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang
ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh.

Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada
manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.

Dan saya (Al Albani) tidak menyebut satu jamaah tadi sebuah hizb (sekte)
karena mereka tidak berkelompok dan tidak berpecah belah serta tidak fanatik
kecuali kepada Kitabullah, Sunnah Rasul, dan manhaj Salafus Shalih, dan
sungguh saya tahu persis tentang hal ini. Dan akan lebih jelas bagi kita
semua betapa pentingnya dasar yang ketiga ini dalam kaitannya dengan nash
syar’i yang dinukil dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam baik yang
berhubungan dengan Al Qur’an maupun As Sunnah.

Pada kenyataannya, jamaah-jamaah Islamiyah sekarang ini, demikian pula
kelompok-kelompok Islamiyah sejak awal munculnya penyimpangan terus
merajalela serta menampakkan taringnya di antara jamaah-jamaah Islamiyah
yang pertama (yaitu mulai timbulnya Khawarij) pada masa Amirul Mukminin Ali
bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, kemudian sejak mulainya Jaad bin Dirham
mendakwahkan (pemikiran) Mu’tazilah dan sejak munculnya firqah-firqah yang
dikenal nama-namanya di zaman dulu serta berhubungan dengan wajah-wajah baru
di zaman sekarang dengan nama-nama yang baru pula. Mereka itu baik yang dulu
maupun yang sekarang tidak terdapat padanya perbedaan, tak satupun di antara
mereka yang menyatakan dan mengumandangkan bahwasanya mereka di atas manhaj
Salafus Shalih.

Semua kelompok-kelompok ini dengan perselisihan yang ada pada mereka, baik
dalam masalah akidah, dasar-dasar atau permasalahan- permasalahan hukum dan
furu’ (cabang-cabang) , semuanya menyatakan berada di atas Kitab dan Sunnah,
akan tetapi mereka berbeda dengan kita, karena mereka tidak mengatakan apa
yang kita katakan, yang perkataan itu merupakan kesempurnaan dakwah kita.
Yakni (perkataan) berada di atas manhaj Salafus Shalih.

Maka atas dasar ini, siapa yang menghukumi golongan-golongan ini, yang
mereka semua ber-intima’ (menisbatkan diri) walaupun minimal secara
perkataan bahwa dakwahnya di atas Kitab dan Sunnah, dan bagaimana hukum yang
pasti (tentang mereka), karena mereka semua mengatakan dengan perkataan yang
sama?

Jawabannya, tidak ada jalan untuk menghukumi golongan-golongan di antara
mereka bahwa mereka di atas yang haq (benar), kecuali apabila dibangun di
atas manhaj Salafus Shalih. Sekarang pada diri kita timbul satu pertanyaan :
“Dari mana (atas dasar apa, pent.) kita mendatangkan manhaj Salafus Shalih?”

Jawabannya, sesungguhnya kita mendatangkan dasar yang ketiga ini dari
Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan
sebagaimana yang telah ditempuh oleh Imam-Imam Salaf dari kalangan shahabat
dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah
seperti halnya yang mereka katakan saat ini. Dalil yang pertama adalah
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan selain jalannya orang-orang Mukmin, Kami palingkan dia
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang Mukmin”)) dihubungkan dengan firman Allah ((“Dan barangsiapa
menentang Rasul”)). Maka seandainya ayat ini berbunyi ((“Dan barangsiapa
yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami palingkan dia
kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali”)) yakni tanpa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”)) niscaya ayat
ini menunjukkan kebenaran dakwah golongan-golongan dari kelompok-kelompok
tadi baik yang di zaman dahulu maupun yang sekarang ini, karena mereka
mengatakan kami di atas Kitab dan Sunnah. Mereka tidak mengembalikan
permasalahan- permasalahan yang mereka perselisihkan kepada Kitab dan Sunnah,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

” … kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa : 59)

Apabila Anda mengajak (berdakwah) kepada salah satu dari jumhur ulama mereka
dan salah satu dari da’i mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka mereka akan berkata, “Saya mengikuti
madzhabku”, yang lain menyatakan, “madzhabku adalah Hanafi”, yang lain
menyatakan, “madzhabku adalah Syafi’i”, dan seterusnya.

Mereka taqlid kepada Imam-Imam mereka sebagaimana mereka mengikuti
Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka apakah benar
mereka mengamalkan ayat ini? Tidak sama sekali dan sekali-kali tidak. Oleh
sebab itu apa faedahnya pengakuan mereka bahwasanya mereka di atas Kitab dan
Sunnah selama mereka tidak mengamalkan keduanya.

Dari contoh ini, tidaklah saya menghendaki untuk orang-orang yang taqlid
(awam, pent.) dari mereka, akan tetapi yang aku kehendaki dengannya adalah
para da’i Islam yang seharusnya tidak menjadi orang yang taqlid belaka, yang
mengutamakan pendapat para Imam yang tidak ma’shum keadaannya.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menyebutkan kalimat di pertengahan
ayat tadi secara sia-sia, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan
dengannya menanamkan satu pokok yang sangat penting, suatu patokan yang
sangat kokoh yaitu tidak boleh kita semata-mata bersandar pada akal dalam
memahami Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam.

Kaum Muslimin hanyalah dikatakan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah baik
secara pokok-pokoknya dan patokan-patokannya, apabila di samping berpegang
pada Al Qur’an dan Sunnah, mereka juga berpegang dengan apa yang ditempuh
oleh Salafus Shalih. Karena ayat di atas mengandung nash yang jelas tentang
dilarangnya kita menyelisihi jalannya para shahabat.

Artinya wajib bagi kita mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
dan tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita
untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya. Dari
sini kita menyatakan bahwa wajib atas tiap golongan/kelompok/ jamaah
Islamiyah untuk memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar
kepada Al Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih.

Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang
ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.
Sedangkan kelompok-kelompok yang mengumandangkan perang dengan Islam seperti
partai Baats dan partai komunis, maka mereka tidak (masuk) dalam pembicaraan
kita sekarang ini.

Oleh karena itu seyogyanya seorang Muslim dan Muslimah hendaknya mengetahui
bahwa suatu garis kalau sudah bengkok pada awalnya (pangkalnya) maka akan
semakin jauh dari garis yang lurus. Dan setiap ia melangkahkan kakinya akan
semakin bertambahlah penyelewengannya. Maka jelas yang lurus adalah
sebagaimana yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ayat Al
Qur’an :

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am : 153)

Ayat yang mulia ini jelas Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan)
sebagaimana disukai dan biasa diucapkan oleh Hizbut Tahrir dan sekte-sekte
lain dalam dakwahnya, tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya. Dalil yang
Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan) , karena ayat ini menyatakan :
“Sesungguhnya jalan yang bisa menuju pada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
satu, dan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang menjauhkan kaum
Muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menambahkan keterangan dan
penjelasan terhadap ayat ini sebagaimana keberadaan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam itu sendiri (menjelaskan dan menerangkan Al
Qur’an, pent.). Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al Qur’anul
Karim kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An Nahl : 44)

Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah penjelas yang sempurna
terhadap Al Qur’an, sedangkan Al Qur’an adalah asal peraturan/undang- undang
dalam Islam. Untuk memperjelas suatu permasalahan pada kita agar lebih mudah
untuk dipahami, saya (Syaikh Al Albani) berkata : “Al Qur’an bila
diibaratkan dengan sistem peraturan buatan manusia adalah seperti
undang-undang dasar dan As Sunnah bila diibaratkan dengan sistem peraturan
buatan manusia adalah seperti penjelasan terhadap undang-undang dasar
tersebut.”

Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang
pasti bahwa tidak mungkin bisa memahami Al Qur’an kecuali dengan penjelasan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan ini adalah perkara yang telah
disepakati.

Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum Muslimin sehingga menimbulkan
berbagai pengaruh setelahnya yaitu bahwa semua firqah sesat dahulu tidak mau
memperhatikan dasar yang ketiga ini yaitu mengikuti Salafus Shalih, maka
mereka menyelisihi ayat yang aku sebutkan berulang-ulang :

” … dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang Mukmin.” (QS. An
Nisa : 115)

Mereka menyelisihi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah satu yaitu sebagaimana yang disebut dalam ayat
terdahulu :

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am : 153)

Saya (Syaikh Al Albani) berpendapat, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam menambahkan penjelasan dan keterangan pada ayat ini dari riwayat
salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang
terkenal faqih (fahamnya terhadap dien) yaitu Abdullah Ibnu Mas’ud
radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengatakan :

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membuat satu garis
untuk kami, sebuah garis lurus dengan tangan beliau di tanah, kemudian
beliau menggaris disekitar garis lurus itu garis-garis pendek. Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan (menunjuk) pada
garis yang lurus dan beliau membaca ayat (yang artinya : “Dan bahwa (yang
Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya”.

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sambil menunjuk jarinya
pada garis lurus, “ini adalah jalan Allah”, kemudian menunjuk pada
garis-garis yang pendek di sekitarnya (kanan-kirinya) dan bersabda, “ini
adalah jalan-jalan dan pada setiap pangkal jalan itu ada syaithan yang
menyeru manusia padanya.”

Hadits ini ditafsirkan dengan hadits lain yang telah diriwayatkan oleh Ahlus
Sunan seperti Abu Dawud, Tirmidzi, dan selain dari keduanya dari Imam-Imam
Ahlul Hadits dengan jalan yang banyak dari kalangan para shahabat seperti
Abu Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik, dan yang selainnya dengan sanad yang
jayyid. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72
golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan,
semuanya ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para shahabat) bertanya :
“Siapa dia ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda
: “Dia adalah apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya.”

Hadits ini menjelaskan kepada kita jalannya kaum Mukminin yang disebut dalam
ayat tadi. Siapakah orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam ayat itu?
Meraka itulah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam
pada hadits Al Firaq, ketika beliau ditanya tentang Firqatun Najiah
(golongan yang selamat), manhaj, sifat, dan titik tolaknya. Maka Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “apa yang aku dan para shahabatku
berada di atasnya.”

Maka jawaban ini wajib diperhatikan, karena merupakan jawaban dari
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Jika bukan wahyu dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala maka itu adalah tafsir dari Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam terhadap jalannya orang-orang Mukmin yang terdapat pada
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah sesudah jelas kebenaran baginya
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin.”

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan jalannya orang-orang Mukmin. Sementara itu
(dalam hadits, pent.) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan
tanda Firqatun Najiah yang tidak termasuk 72 golongan yang binasa.
Sesungguhnya Firqatun Najiah adalah golongan yang berdiri di atas apa yang
ada pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat.

Maka pada hadits ini kita akan dapati apa yang kita dapati pula dalam ayat.
Sebagaimana ayat tidak membatasi penyebutan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam saja, demikian pula hadits tidak membatasi penyebutan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saja. Di samping itu ayat juga menyebutkan
jalannya orang-orang Mukmin demikian pula dalam hadits terdapat penyebutan
“shahabat Nabi” maka bertemulah hadits dengan Al Qur’an. Oleh sebab itu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat
selama berpegang teguh dengan keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnahku dan
tidaklah terpisah keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah) sampai keduanya datang
kepadaku di Haudl.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatha’-nya, Al Hakim
dalam Mustadrak-nya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’
hadits nomor 2937)

Banyak golongan-golongan terdahulu maupun sekarang yang tidak berdiri di
atas dasar yang ketiga ini sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an
dan Hadits. Pada hadits di atas disebutkan tanda golongan yang selamat yaitu
yang berada di atas apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dan para shahabatnya. Semakna dengan hadits ini adalah hadits Irbadl
ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu yang termasuk salah satu shahabat Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari kalangan Ahlus Shufah, yakni mereka dari
kalangan fuqara’ yang tetap berada di Masjid dan menghadiri halaqah-halaqah
(majelis taklim) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam secara langsung
dan bersih. Berkata Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi nasehat kepada kami yang
membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang (karena terharu).
Kami berkata : “Ya Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka
berilah kami wasiat.” Maka beliau bersabda : “Aku wasiatkan kepada kamu
sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan senantiasa
mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak.
Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan
melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian
berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat
petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham
kalian, dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan
agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah. Dan
setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.” (HR. Abu Dawud,
Tirmidzi. Berkata Tirmidzi, hadits ini hasan) Hadits ini merupakan (penguat)
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak membatasi perintahnya
kepada umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnahnya saja ketika mereka
berselisih akan tetapi beliau menjawab dengan uslub/cara bijaksana, dan
siapa yang lebih bijaksana dari beliau setelah Allah? Oleh sebab itu tatkala
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Barangsiapa di antara kalian yang hidup (berumur panjang) setelahku maka
dia akan melihat perselisihan yang banyak.”

Beliau juga memberikan jawaban dari soal yang mungkin akan muncul
(dipertanyakan) : “Apa yang kita lakukan ketika itu wahai Rasulullah?” Maka
Rasulullah menjawab : “Wajib atas kalian mengikuti sunnahku.” Dan Rasulullah
tidak mencukupkan perintahnya terhadap mereka yang hidup pada waktu terjadi
perselisihan dengan hanya mengikuti sunnah beliau, akan tetapi
menggabungkannya dengan sabda beliau :

” … dan sunnahnya Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.”

Jika demikian halnya, maka seorang Muslim yang menginginkan kebaikan pada
dirinya dalam masalah akidah, dia harus kembali pada jalannya orang-orang
Mukmin (para shahabat) bersama dengan Kitab (Al Qur’an dan As Sunnah) yang
shahih dengan dalil ayat dan hadits Al Firaq (perpecahan) serta hadits dari
Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu ‘anhu.

Inilah kenyataan yang ada dan sangat disesalkan bahwasanya hal ini banyak
dilalaikan oleh semua hizbi-hizbi/ sekte-sekte Islamiyah masa sekarang ini
sebagaimana keberadaan firqah-firqah yang sesat, khususnya kelompok Hizbut
Tahrir yang berbeda dengan sekte-sekte lainnya di mana Hizbut Tahrir dalam
melaksanakan Islam menggunakan akal manusia sebagai tolok ukurnya.
(Bersambung ke vol. II)

Di Yordan, Organisasi Terlarang
Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir (1)

Beberapa kiai NU belakangan ini mengaku didatangi aktivis Hizbut Tahrir
Indonesia (HTI). Para aktivis HTI itu selain membagikan brosur juga mengajak
kiai masuk kelompok mereka. Diantara kiai itu adalah KH Ahmad Muhammad
Alhammad, pengasuh pesantren Qomaruddin Bungah Gresik. “Saya katakan kepada
mereka, saya ini NU, tak mungkin ikut paham sampean,” kata Yai Mad -
panggilan kiai berparas teduh itu – kepada sejumlah tamunya suatu ketika. “
Brosur-brosurnya ada tapi tidak saya baca,” tuturnya lagi.

Pengurus NU di berbagai daerah, termasuk PWNU Jawa Timur, juga mengaku
sering mendapat pengaduan dari warga NU soal aktivis HTI yang berusaha
mempengaruhi warga nahdliyin. Bahkan dalam Munas dan Mubes NU di Asrama Haji
Sukolilo Surabaya tempo hari para aktvis HTI masuk ke kamar-kamar peserta
membagikan selebaran. Jargon mereka – seperti biasa -khalifah sebagai
solusi. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi sasaran mereka.
Karuan saja banyak kiai penasaran. Gerakan apa sebenarnya HTI? Bagaimana
asal-usulnya? Berikut wawancara HARIAN BANGSA dengan KH Imam Ghazai Said,
MA, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan Islam radikal. Pengasuh
pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo ini memang sangat paham soal berbagai
gerakan Islam, terutama yang berasal dari Timur Tengah. Ia selain banyak
menulis dan mengoleksi leteratur Islam aliran keras juga bertahun-tahun
studi di Timur Tengah. Ia mendapat gelar S-1- di Universitas Al-Azhar Mesir,
sedang S-2 di Hartoum International Institute Sudan. Kemudian ia melanjutkan
ke S-3 di Kairo University Mesir. Kini intelektual muslim ini aktif sebagai
Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa Anda jelaskan bagaimana sejarah gerakan Islam aliran keras yang
belakangan menjadi perhatian para kiai NU?

Sebenarnya kelompok besarnya itu Ikhwanul Muslimin yang pusatnya di
Ismailiah, Mesir. Organisasi ini berdiri pada 1928, dua tahun setelah NU
berdiri, NU kan berdiri 1926. Pendiri Ikhwanul Muslimin Syaikh Hasan
Al-Banna. Menurut saya, pemikiran Syaikh Hasan Al-Banna ini moderat. Dia
berusaha mengakomodasi kelompok salafy yang wahabi, merangkul kelompok
tradisional yang mungkin perilaku keagamaannya sama dengan NU dan juga
merangkul kelompok pembaharu yang dipengaruhi oleh Muhammad Abduh. Syaikh
Al-Banna menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin itu harkah islamiyah, sunniyah,
salafiyah, jadi diakomodasi semua, sehingga ikhwanul muslimin menjadi besar.
Dalam Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama Tandhimul Jihad. Yaitu institusi
jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin yang sangat rahasia. Kader yang
berada dalam Tandhimul Jihad ini dilatih militer betul, doktrinnya pakai
kesetiaan seperti tarikat kepada mursyid. Ini dibawah komando langsung
Ikhwanul Muslimin. Para militer atau milisi ini menarik kelompok-kelompok
sekuler yang ingin belajar tentang disiplin militer. Nasser (Gammal Nasser,
red) dan Sadat (Anwar Sadat, red) juga belajar pada Tandhimul Jihad ini.

Apa Nasser dan Sadat yang kemudian jadi presiden Mesir itu bagian dari
Ikhwanul Muslimin?

Mereka bagian dari militernya, bukan dari ideologi Ikhwanul Muslimin. Jadi
mereka belajar aspek militernya. Ketika pada 1948 Israel mempermaklumkan
sebagai negara maka terjadi perang. Nah, Tandhimul Jihad ini ikut perang,
dan kelompok ini yang punya prakarsa-prakarsa. Waktu itu Mesir kan masih
dibawah kerajaan Raja Faruk dan sistemnya masih perdana menteri, Nugrasi.
Tapi akhirnya Arab kalah dan Israel berdiri. Kemudian Tandhimul Jihad balik
lagi ke Mesir. Nah, dalam kelompok ini ada Taqiuddin Nabhani yang kemudian
mendirikan Hizbut Tahrir. Jadi Taqiuddin itu awalnya bagian dari Ikhwanul
Muslimin. Namun antara Hasan Al-Banna dan Taqiuddin ini kemudian terjadi
perbedaan. Hasan Al-Banna berprinsip kita terus melakukan perjuangan dan
memperbaiki sumber daya manusia. Sedang Taqiuddin bersikukuh agar terus
melakukan perjuangan bersenjata, militer. Taqiuddin berpendapat kekalahan
Arab atau Islam karena dijajah oleh sistem politik demokrasi dan
nasionalisme. Sedang Hasan Al-Banna berpendapat sebaliknya. Menurut dia,
tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi dan nasionalisme, yang
penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu negara.
Pada 1949 Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak agen pemerintah dan
dianggap syahid. Sedang Taqiuddin terus berkampanye di kelompoknya di Syria,
Libanon dan Yordania.
Kemudian Tandhimul Jihad diambil alih Sayid Qutub, ideolognya Ikhwanul
Muslimin. Ia dikenal sebagai sastrawan dan penulis produktif, termasuk
tafsir yang banyak dibaca oleh kita di Indonesia. Nah, Sayid Qutub ini
mendatangi Taqiuddin agar secara ideologi tetap di Ikhwanul Muslimin. Tapi
Taqiuddin tidak mau karena ia beranggapan bahwa Ikhwanul Muslimin sudah
masuk lingkaran jahiliyah. Ya, itu menurut Taqiuddin hanya gara-gara
Ikhwanul Muslimin menerima nasionalisme. Akhirnya Taqiuddin mendirikan
Hizbut Tahrir. Artinya, partai pembebasan. Maksudnya, pembebasan kaum
muslimin dari cengkraman Barat dan dalam jangka dekat membebaskan Palestina
dari Israel. Itu pada mulanya.
Ia mengonsep ideologi khilafah Islamiyah.

Lantas?

Nah, karena ia berideologi khilafah Islamiyah, sementara di negaranya
sendiri telah berdiri negara nasional, maka akhirnya berbeda dengan
masyarakatnya. Di Lebanon, sudah berdiri negara nasionalis yang multi karena
rakyatnya terdiri dari banyak agama, undang-undangnya sesuai jumlah
penduduknya, misalnya, presidennya, harus orang Kristen Maronit, Perdana
Menterinya harus orang Islam Sunni, ketua parlemennya harus orang Islam
Syiah. Di Syiria juga telah menjadi negara sosialis, begitu juga Yordania
telah berdiri sebagai negara sesuai kondisi masyarakatnya.
Akhirnya Hizbut Tahrir itu menjadi organisasi terlarang (OT) di negara asal
berdirinya. Karena ia menganggap nasionalisme itu sebagai jahiliah modern.
Namun meski menjadi organisasi terlarang Hizbut Tahrir tetap bekerja dan
menyusup ke tentara, ke berbagai organisasi profesi dan masuk juga ke
parlemen. Hizbut Tahrir masuk ke partai politik dengan menyembunyikan
identitasnya. Dari situlah kemudian terjadi upaya-upaya untuk melakukan
kudeta terhadap pemerintah yang sah pada jaman Raja Husen. Sehingga sebagian
anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan dihukum mati. Sampai
sekarang Hizbut Tahrir masih jadi organisasi terlarang di Yordania.

Bagaimana sejarahnya sampai ke Indonesia?

Mereka mengembangkan ke sini melalui mahasiswa yang belajar di Mesir. Pola
ikhwan dikembangkan, pola Salafy dan pola Hizbut Tahrir dikembangkan. Tapi
antara Ikhwan, Salafy dan Hizbut Tahrir secara ideologi bertemu, ada
kesamaan. Mereka sama-sama ingin menerapkan formalisasi syariat Islam. Hanya
bedanya, kalau Salafy cenderung ke peribadatan, atau dalam bahasa lain
mengislamkan orang Islam, karena dianggap belum Islam. Dan target utamanya
NU karena dianggap sarangnya bid’ah.ha.ha. ha.. Bisa saja kelompok Salafy,
Hizbut Tahrir dan Ikwanul Muslimin membantah, tapi saya tahu karena saya
telah berkumpul dengan mereka.

Kalau Ikhwanul Muslimin?
Sama. Kelompok Ikhwanul Muslimin, menjadikan NU sebagai target. Mereka
bergerak lewat mahasiswanya yang dinamakan usrah (keluarga). Usrah ini
minimal 7 orang, dan maksimal 10 orang. Ini ada amirnya dan amir inilah yang
bertanggungjawab terhadap kelompok. Bagaimana mengatasi kebutuhan kehidupan
sehari-hari terpenuhi, misalnya kalau ada anggota yang kesulitan bayar SPP.
Jadi mereka tak hanya bergerak di bidang politik, tapi juga bidang-bidang
lain. Nah, kelompok inilah yang kemudian menamakan diri sebagai Tarbiyah
yang bermarkas di kampus-kampus seperti Unesa dan sebagainya. Kelompok
Tarbiyah inilah yang menjadi cikal bakal PKS (Partai Keadilan Sejahtera).
Mereka umumnya alumni Mesir, Syiria atau Saudi. Kelompok ini masih agak
moderat karena masih mau menerima negara nasional. Tapi substansi perjuangan
formalisasi syariat sama dengan Hizbut Tahrir atau Salafy.

Kalau dalam ideologi khilafah Islamiyah?

Hizbut Tahrir katemu dengan Salafy dan Ikhwanul Muslimin dalam soal
formalisasi syariat. Tapi dari segi sistem khilafahnya tidak ketemu. Sebab
khilafah Islamiyah itu dianggap utopia. Misalnya bagaimana denganya sistem
Syuronya, apakah meniru sistem Turki Utsmani yang diktator atau Umayah, itu
masih problem. Tapi bagi Hizbut Tahrir yang penting khilafah Islamiyah.

Apa saja program Hizbut Tahrir?
Mereka sampai kini punya konstitusi yang terdiri dari 187 pasal. Dalam
konstitusi ini ada program-program jangka pendek. Yaitu dalam jangka 13
tahun, menurut Taqiuddin, sejak berdiri 1953, Negara Arab itu sudah harus
jadi sistem Islam dan sudah ada khalifah. Taqiuddin juga menarget, setelah
30 tahun dunia Islam sudah harus punya khalifah. Tapi kalau kita hitung
sejak tahun 1953 sampai sekarang kan tidak teralisir.he. .he..he.. Jadi
utopia, tapi mereka masih semangat.

Itu melalui orang Libanon. Namanya Abdurrahman Al-Baghdadi. Ia bermukim di
Jakarta pada tahun 80-an. Kemudian juga dibawa Mustofa bin Abdullah bin Nuh.
Inilah yang mendidik tokoh-tokoh HTI di Indonesia seperti Ismail Yusanto,
tokoh-tokoh Hizbut Tahrir sekarang. Tapi sebenarnya diantara mereka ada
friksi. Karena tokoh-tokoh HTI yang sekarang merasa dilangkahi oleh Ismail
Yusanto ini.

Bagaimana gerakan mereka di Indonesia?
Ini anehnya. Di Indonesia mereka terus terang menganggap Pancasila jahiliah.
Nasionalisme bagi mereka jahiliah. Tapi reformasi kan memberi angin kepada
kelompok-kelompok ini sehingga dibiarkan saja. Dan tidak ada dialog.
Akhirnya mereka memanfaatkan institusi (seolah-olah) “mendukung” pemerintah
untuk mempengaruhi MUI (Majelis Ulama Indonesia). Tapi mereka taqiah
(menyembunyikan agenda perjuangan aslinya), sebab mereka menganggap
Indonesia itu sebenarnya jahiliah. Taqiah itu ideologi Syiah tapi dipakai
oleh mereka.
Nah, bagaimana respon tokoh Hizbut Tahrir? Ikuti lanjutan serial ini besok
dan seterusnya(bersambu ng)

Muenster, 04 Mei 2008

Luka Ibu Yang Menyusui Ahmadiyah
Dewi Candraningrum*

Telah cukup lengkap kesejarahan Ahmadiyah di Indonesia yang
dinarasikan oleh sejarawan LIPI Asvi Warman Adam dalam esei
singkat “Belajar dari Sejarah Ahmadiyah” di Harian Jawa Pos Kamis 28
April lalu. Renda persaudaraan yang erat dan saling mengikat antara
NU, Muhammadiyah dan Ahmadiyah merupakan fakta kesejarahan yang
dapat dihikmati dengan cinta dan kasih. Narasi persaudaraan ini
merupakan pelipur lara bagi kawan-kawan Ahmadiyah yang telah
kehilangan rumah ibadahnya. Yang telah dibakar habis dalam amunisi
kemarahan pemaksaan mazhab. Pemaksaan ini telah dilegitimasi oleh
dua Fatwa MUI tahun 1980 dan 2005 yang memunculkan kata sesat pada
Jemaat Ahmadiyah. Setelah sejak tahun 1920-an hidup berdampingan
secara damai dengan penganut lain, kawan-kawan Ahmadiyah dirompak
luka. Ibu-ibu dan anak-anak berlari-lari tergopoh-gopoh dalam
ketakutan ketika masjid-masjid mereka dibakar hangus sampai habis.
Pun, teror menghantui kehidupan para keluarga Ahmadiyah di
Indonesia. Tak terkecuali, ibu-ibu dan anak-anak Ahmadiyah menderita
trauma psikososial untuk kembali menjalani hidup yang normal sebagai
bagian dari peri kewarganegaraan Indonesia, yang seharusnya dijamin
oleh negara. Negara telah menjadi lalai untuk menjamin hak
berkehidupan yang aman dari rasa takut dan ancaman teror.

Susu Kehidupan Yang Sat dan Kering
Raut muka penuh luka ini telah pula dirupakan oleh Nur Azizah dari
Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) pada 4 Mei, dalam berita “Lagi, Ibu
dan Anak Korban Kekerasan terhadap Ahmadiyah”. Dalam laporannya,
banyak anak-anak di Parakan Salak Sukabumi mengalami trauma sehingga
malu untuk pergi ke sekolah. Kantor YJP dan KOMNAS HAM menerima
pengaduan trauma psikologis anak-anak dan ibu-ibu yang melihat
masjid mereka dibakar oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kekerasan
psikologis ini merupakan kelanjutan dari stempel fatwa MUI. Menyebut
Liyan sebagai berkeyakinan sesat telah memasuki ruang kekerasan
epistemik. Liyan dicitrakan sekaligus dinarasikan sebagai tidak
memiliki kemampuan menempuhi jalan yang benar. Sementara MUI telah
melegitimasi diri menempuhi jalan paling benar, sedangkan Liyan,
yaitu Ahmadiyah, adalah menyimpang dan tersesat dari jalan Islam.
MUI tidak menghitung konsekuensi sosial dari penyebutan atas Liyan
sebagai sesat. MUI tidak menghitung dera luka psikososial yang
dialami kawan-kawan Ahmadiyah, pun kawan-kawan Muslim, yang melihat
aksi-aksi teror dan kekerasan ini. Pula, MUI tidak menghitung wajah-
wajah para perempuan dan anak-anak yang dirundung trauma sosial
untuk menjadi warga negara yang normal. Bagaimana dapat menjadi
warga negara yang normal kalau hak atas berkeyakinan dan beragama
telah ditebas oleh pernyataan sesat? Para ibu yang menyusui anak-
anak Ahmadiyah seperti telah sat habis dan kering untuk menyediakan
susu kehidupan bagi anak-anaknya. Trauma psikologis yang menimpa
seorang ibu dapat menyebabkan keringnya air susu ibu. Dan, apakah
ini bau kesturi perjuangan Islam yang dicanangkan oleh Muhammad SAW?
Tentu saja tidak. Muhammad SAW adalah pengasih perempuan dan
penyayang anak-anak. Muhammad SAW mengajari pernghormatan pada ibu.
Pun, telapak kaki ibu merupakan metafora lokasi surga.

Setangkai Daffodil untuk Ibu Ahmadiyah
Jerman menjadi saksi atas Quran yang pertama kali ditarjamah menjadi
bahasa Jerman oleh kawan Jemaat Ahmadiyah. Pengikut mujadid Mirza
Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah di India pada 1889, tidak hanya
mengembara di Indonesia. Pula, ke Eropa pada tahun 1920-an. Masjid
pertama dan tertua di Jerman, didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah di
Berlin, Wilmersdorfer Moschee pada 1924, yang terkenal dengan
sebutan Masjid Berliner. Dan, Quran tarjamah bahasa Jerman pertama
ditulis oleh kawan Ahmadiyah, Imam Sadr-ud-Din pada 1939. Jamaat
Ahmadiyah dikenal dengan motto Muslim yang damai dan toleran.
Meskipun mendapat kritik keras dari Orthodoks Islam, Ahmadiyah
berdiri tegak dengan motto perdamaian.

Secara tidak sengaja, Sabtu 3 Mei lalu, saya dan seorang kawan
menyempatkan diri berkunjung ke salah satu masjid Ahmadiyah di kota
Muenster Jerman. Baitul Momin yang berdiri megah di Hiltrup
pinggiran kota Muenster ini menyala dalam terpa matahari musim semi.
Maret lalu Daffodil putih dan kuning yang mekar cantik menyala
menghiasi secara acak pinggiran jalan menuju Bait-ul-Momin Moschee,
masjid yang dibangun pada tahun 2003 ini. Selain ada masjid Arab dan
masjid Turki, di Munster berdiri pula Tarekat Burhaniya yang
kebanyakan diikuti oleh para Muslim Jerman. Hidup berdampingan
secara damai. Pemerintah Jerman tidak perlu mengeluarkan surat
geledah atau surat sesat atas aliran-aliran tersebut. Bahkan,
perkumpulan Muslim Indonesia di Jerman paling kuat diorganisir oleh
PIP-PKS, salah satu partai Islamis Indonesia. Banyak akivis Pusat
Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera ini aktif menjadi
pengurus di FORKOM (Forum Komunikasi Muslim Indonesia Jerman).
Pemerintah Jerman memberi nafas luar biasa longgar pada gerakan-
gerakan Islam ini. Bahkan, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah
Jerman telah pula didirikan pada awal 2007 lalu. Bunga Daffodil
putih dan kuning yang mekar indah di lahan rerumputan Jerman telah
menyediakan atmosfer berkehidupan bebas dalam meyakini pandangan
dunia tertentu untuk memburu Tuhan. Tuhan telah menghembus nyawa
Daffodil untuk hidup berdampingan secara damai dengan bunga-bunga
lainnya yang mekar silih berganti di musim semi yang kaya warna.

Berhenti di pinggir jalan, saya cabut satu bunga Daffodil putih, dan
saya berikan kepada salah satu ibu dalam masjid Ahmadiyah
itu. “Syukron, vielen Dank”, jawabnya dengan lembut dan penuh kasih.
Setelah ditanya darimana, dan saya menjawab dari Indonesia, Ibu ini
menitikkan air mata. Sepertinya, Ibu ini mengetahui bahwa Jemaat
Ahmadiyah di Indonesia telah dikejar teror yang dahsyat. Kami pun
sholat bersama dan bersembah doa untuk ibu-ibu dan anak-anak
Ahmadiyah yang sedang menjemput horor dalam pekik tangis menyaksikan
rumah ibadahnya dibakar di Indonesia.

Selamatkan Ibu dan Anak Ahmadiyah dari Kekerasan
Islam mendaulah kemanusiaan dengan memperkenalkan kasih, cinta,
budi, dan peri kehidupan yang adil dan beradab. Muhammad SAW, sang
peneguh cinta kasih, adalah tiang segala kasih dan cinta. Muhammad
tidak memperkenalkan cara-cara menyesati, menciderai, dan membakar
para saudara dan bahkan musuh sekalipun. Muhammad selalu
memperbawakan kasih dan cinta kepada dunia. Aksi penyesatan,
penyerangan, dan pembakaran rumah ibadah Jemaat Ahmadiyah adalah
aksi tidak Islami. Aksi yang tidak merahmati zaman. Aksi yang tidak
diliputi semangat Muhammad. Aksi, yang sekaligus, melanggar asasi
kemanusiaan kawan-kawan Ahmadiyah. Penghargaan terhadap Jemaat
Ahmadiyah merupakan kesturi wangi Muhammad SAW. Semoga Allah SWT,
Rab Yang Maha Agung, memberikan penerang dan jalan keindahan, jalan
kasih pada para pemimpin Islam. Semoga tidak amnesia dan cepat lupa-
diri lupa-hati menyesatkan Liyan. Jalan cinta adalah jalan
kemanusiaan. Ketika cinta yang dibimbing oleh ibu yang melahirkan
dan menyusui anak-anak Ahmadiyah. Amin.

Keberpihakan pada ibu-ibu dan anak-anak Ahmadiyah yang mendapatkan
kekerasan ini telah digalang oleh berbagai LSM perempuan: Yayasan
Jurnal Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia, Aliansi Bhinneka
Tunggal Ika, LBH Jkt, Inst Ungu, Komunitas Ungu, Our Voice, Inst
Pelangi Perempuan, Lajnah Imaillah Ahmadiyah, Perempuan Mahardhika,
Srikandi Demokrasi Indonesia, PCIM Jerman, dll. Bersama berjalan
dalam hening dan damai pada Kamis depan 08 Mei 2008 pukul 09.00 pagi
di Bundaran HI Jakarta. Pada Rabu 07 Mei pukul 11.00 akan digelar
konferensi pers di kantor YJP, dengan dilanjutkan testimoni ibu-ibu
dan anak-anak Ahmadiyah, pemutaran film dokumenter kekerasan
terhadap Ahmadiyah, dan pernyataan sikap oleh Prof Siti Musdah Mulia
(Ketua Umum ICRP), Mariana Amiruddin (Dir YJP) dan Masruchah (Sekjen
KPI). Selamatkan Ibu dan Anak Ahmadiyah dari Kekerasan! Bergabunglah!

TEMPO 4 MEI 2008

CARUT-MARUT persoalan Ahmadiyah memasuki babak baru. Dua pekan lalu,
Badan Aliran Kepercayaan Masyarakat menerbitkan rekomendasi bahwa
organisasi keagamaan yang telah ada di bumf Nusantara sebelum Republik
berdiri itu menyimpang dari Islam dan diminta menghentikan kegiatannya.

Sebuah surat keputusan bersamadisiapkan oleh Jaksa Agung, Menteri
Dalam Negeri, dan Menteri Agama sedang digodok untuk menindaklanjuti
rekomendasi tersebut. Ada kabar, bakal keluar larangan bagi Ahmadiyah
menyebarkan ajarannya di Indonesia.

Di sisi lain, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Adnan Buyung
Nasution, dengan tegas membela Ahmadiyah. Pengacara berambut perak itu
menyebut pelarangan Ahmadiyah melanggar Undang-Undang Nomor 39 Tabun
1939 tentang Hak Asasi Manusia sekaligus Undang-Undang Nomor 12 Tabun
2005 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional mengenai hak sipil dan
politik yang menjamin dan melindungi warga negara dalam beribadah dan
berkeyakinan.

Di tengah pro-kontra yang kembali bergulir, bekas Ketua Umum
Muhammadiyah Amien Rais menawarkan jalan tengah mengatasi persoalan
Ahmadiyah. la mengusulkan agar Ahmadiyah dilarang menyebarkan
ajarannya secara terbuka, tapi masih boleh secara tertutup. Dan hak
hidup mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus dijaga.

Senin malam pekan lalu, di tengah kesibukannya menerima tamu dan
bersiap menunaikan ibadah umrah, Amien Rais menerima Nugroho Dewanto,
Grace S. Gandhi, dan Budi Riza dari Tempo di rumahnya di kawasan
Gandaria, Jakarta Selatan, untuk wawancara khusus. Berikut ini petikannya.

Tempo: Menjelang peringatan sepuluh tahun Reformasi, salah satu
komponen bangsa, yaitu Ahmadiyah, dianggap menyimpang dan
direkomendasikan untuk menghentikan kegiatannya. Padahal, di mass Orde
Baru saja, mereka bisa hidup damai….

Amien Rais: Di zaman Orde Lama, mereka juga bisa hidup tenang. Saya
mencium ada kelompok siluman yang melakukan semacam operasi Intel
untuk memperkeruh suasana, menghancurkan ketenangan masyarakat.
Munculnya masalah Ahmadiyah seperti konflik Islam-Kristen di Ambon
dulu yang amat mengejutkan, karena sebelumnya tidak pernah terjadi.
Padahal hubungan harmonis antara penganut Islam dan Kristen di sang
tadinya selalu menjadi contoh kebanggaan nasional. Ketika berkunjung
ke luar negeri, wring kali kita menyebut bahwa Pancasila telah
memungkinkan anakanak bangsa yang berbeda agama bisa bekerja sama
secara harmonis dan rukun. Tidak ada pertentangan, apalagi sampai
konfrontasi fisik.

T: Mengapa Anda menyebut siluman? Bukankah organisasi yang menentang
Ahmadiyah jelas, seperti Forum Umat Islam?

AR: Itu kan organisasi yang muncul. Yang muncul jelas konkret. Bagian
dari umat Islam. Tapi yang merekayasa ini harus dicari.

T: Apakah Anda mendapat informasi intelijen soal kelompok siluman ini?

AR: Tidak ada sama sekali. Tapi kriminalisasi dan demonisasi Ahmadiyah
ini sebuah rekayasa politik dan psikologi massa. Ini musibah. Umat
Islam harus hati-hati.

T: Sudah berapa lama Anda mengenai Ahmadiyah?

AR: Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak saya kecil. Ketika saya
masuk Universitas Gadjah Mada pada 1962, saya lihat beberapa tokoh
universitas ada yang menjadi penganut Ahmadiyah. Yang terkenal itu
Doktor Ahmad Djojosoegito. Mereka juga punya sekolah teknik menengah
dan sekolah menengah atas di Yogyakarta.

T: Selama ini masyarakat tidak ada masalah dengan mereka?

AR: Sama sekali tidak ada. Mengapa dalam dua tahun terakhir ini
diributkan? Kalau Ahmadiyah dikatakan menyimpang dari akidah Sunni,
sejak lahirnya, ya, sudah menyimpang. Ahmadiyah Qadian ataupun Lahore
menganggap Mirza Gulam Ahmad sebagai Imam Mandi.

T: Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat telah
merekomendasikan Ahmadiyah menghentikan kegiatan mereka….

AR: Saya menyayangkan mengapa badan itu ketika membuat rekomendasi
tidak sekaligus melarang umat Islam melakukan kekerasan atau merusak
masjid atau kantor milik Ahmadiyah. Perusakan itu perbuatan yang tak
islami. Kalau ada rekomendasi itu, mungkin orang-orang yang mau
melakukan kekerasan akan berpikir dulu. Rekomendasi itu tidak bijak
karena tak melihat implikasi sosial, politik, psikologi, clan
keagamaan dari yang direkomendasikan.

T: Sekarang pemerintah sedang menggodok surat keputusan bersama
tentang Ahmadiyah. Apa implikasinya jika Ahmadiyah harus dilarang?

AR: Kalau dilarang akan menjadi preseden yang luar biasa. Kapan-kapan
kalau ada sebuah sekte muncul dan tidak sesuai dengan selera Berta
pandangan keimanan mainstream, kembali akan dihajar, dengan diktum
sebagai aliran sesat dan ramai-ramai akan dikeroyok massa. Masalah ini
sudah masuk ke wilayah yang amat sangat rumit dan sensitif, sudah
karut-marut. Tapi tampaknya pemerintah seolah-olah tidak tabu.

T: Maksudnya?

AR: Mengapa tiba-tiba Ahmadiyah dijadikan sasaran? Apalagi melibatkan
aksi massa yang melibatkan ribuan orang dan well-organized. Ini
menimbulkan tanda tanya. Saya curiga persoalan ini sengaja dimunculkan
supaya masyarakat lupa akan persoalan kenaikan harga bahan pokok, dari
kegagalan pemerintah mengatasi kondisi infrastruktur yang sudah
hancur-hancuran. Supaya masyarakat lupa akan kenyataan bahwa
pemerintah ini sudah broken government.

T: Anda curiga pemerintah berada di batik aksi anti-Ahmadiyah? Kalau
benar, bukankah kekerasan ini membuat citra pemerintah menjadi jelek
menjelang pemilihan umum?

AR: Saya kira ini tidak langsung berhubungan dengan pemilihan umum.
Tapi di mana pun, pemerintah yang sedang anjlok citranya karena tidak
bisa mengatasi masalah mendasar yang dihadapi rakyatnya biasanya
menjadi kreatif dan inovatif menciptakan isu yang tahan agak lama.

T: Tujuannya?

AR: Untuk memalingkan perhatian masyarakat dari pengangguran yang
membengkak, kelaparan, dan kesengsaraan. Dulu Bung Karno mengganyang
Malaysia. Padahal Malaysia tidak ada salahnya. Tiap hari pawai, sampai
lupa inflasi sudah 900 persen. Lupa bahwa di desa atau di kota sudah
ada orang yang makan tikus bakar. Rakyat jadi asyik masyuk dengan
konflik dan melupakan, bukan sejenak-dua jenak, tapi cukup lama
kesusahannya. Saya bisa saja keliru, tapi untuk menganut agama yang
dia pilih. Anak kecil juga hafal Surat AlKafirun: lakum dinukum
waliyadin, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Ini mengajari kita semua
supaya ada koeksistensi secara damai di antara pemeluk agama berbeda.
Dalam AlQuran juga dikatakan, “Barang siapa ingin kafir, silakan
kafir. Barang siapa ingin beriman, silakan beriman.”

T: Jadi tidak ada paksaan dalam beragama?

AR: Yang paling penting, tidak ada paksaan dalam beragama. Saya
membaca tarikh Nabi, beliau tidak pernah mengajari supaya sekte yang
dianggap menyimpang dibasmi dengan kekerasan. Orang kafir juga harus
dilindungi karena punya hak hidup.

T: Konstitusi kita juga menjamin kebebasan orang beribadah?

AR: Ya, itu jelas sekali. Jadi Tuhan untuk menganut agama yang dia
pilih. Anak kecil juga hafal Surat AlKafirun: lakum dinukum waliyadin,
bagimu agamamu, bagiku agamaku. Ini mengajari kita semua supaya ada
koeksistensi secara damai di antara pemeluk agama berbeda. Dalam
AlQuran juga dikatakan, “Barang siapa ingin kafir, silakan kafir.
Barang siapa ingin beriman, silakan beriman.”

T: Jadi tidak ada paksaan dalam beragama?

AR: Yang paling penting, tidak ada paksaan dalam beragama. Saya
membaca tarikh Nabi, beliau tidak pernah mengajari supaya sekte yang
dianggap menyimpang dibasmi dengan kekerasan. Orang kafir juga harus
dilindungi karena punya hak hidup.

T: Konstitusi kita juga menjamin kebebasan orang beribadah?

AR: Ya, itu jelas sekali. Jadi Tuhan sang Maha Pemurah dan pencipta
langit dan bumi telah menciptakan keragaman. Ya, sudah.

T: Secara politik, apa sebenarnya yang dikhawatirkan dari Ahmadiyah?

AR: Ahmadiyah bukan gerakan politik. Bahkan istilah jihad di tangan
Ahmadiyah jadi melempem. Buat mereka, jihad berarti berdakwah saja.
Jadi keliru kalau ada yang menganggap Ahmadiyah akan mengembangkan
negara syariah. Beberapa stasiun televisi mereka di Eropa hanya bicara
tentang ajar-an Islam, akhlak, dan ekonomi.

T: Bagaimana profil orang Ahmadiyah?

AR: Di Pakistan mereka tetap eksis. Mereka naik haji ke Mekkah dan
Madinah, juga tetap salat lima waktu. Bahkan setahu saya, banyak
jenderal angkatan taut, darat, dan udara di Pakistan orang Ahmadiyah.
Bahkan pemenang Nobel Fisika, Dr Abdussalam, juga orang Ahmadiyah.
Jadi mereka itu sekumpulan orang intelektual. Bahkan, kalau mau jujur,
yang menyiarkan agama Islam di Eropa, ya, orang-orang Ahmadiyah lewat
stasiun televisi dan stasiun radio..

T: Mungkinkah persoalan Ahmadiyah dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat,
karena ada partai yang kencang mendukung pelarangan Ahmadiyah?

AR: Saya yakin sekali tidak akan sampai ke Dewan. Kalau mengharapkan
Dewan memvonis Ahmadiyah, itu mission impossible.

T: Mengapa?

AR: Saya agak paham peta di Dewan. Membuat semua anggota Dewan yang
fraksinya berbeda-beda mengompori pemerintah agar melarang Ahmadiyah,
itu tidak terbayangkan. Unthinkable. Ya, mungkin ada satu-dua fraksi
yang ingin melarang Ahmadiyah. Tapi, berdasarkan pengalaman saya,
Dewan akan selalu kembali ke titik tengah. Tidak mau diajak ekstrem.

T: Bagaimana sebaiknya jalan tengah untuk Ahmadiyah?

AR: Sekalipun Ahmadiyah dianggap aliran yang menyimpang dari tradisi
Sunni, di luar mazhab Hambali, Maliki, Hanafi, Syafei, hak hidup
mereka harus dihormati. Itu konsekuensi dari konstitusi kita. Nah,
jalan tengahnya, Ahmadiyah dilarang menyebarkan secara terbuka
keimanannya, secara tertutup bolehlah. Tapi, karena mereka bagian dari
tubuh bangsa Indonesia, boleh tetap ada. Wong jadi komunis juga boleh,
kok.

T: Bagaimana dengan tuntutan agar Ahmadiyah diminta keluar dari Islam?

AR: Enggak betul itu. Yang punya Islam itu Allah. Saya meratapi
mengapa sepertinya benang emas Quran itu dilupakan. Kalau kita kembali
ke Quran, kita kan disuruh menyeru kepada kebenaran, kepada agama
Allah dengan cara yang baik, kearifan, mujadalah yang indah, debat
yang sejuk, wonderful. Tidak ada dalam AlQuran menyuruh mengepalkan
tinju dan memburu orang yang berbeda pendapat. Saya setuju pernyataan
Din Syamsuddin: “Jangan paksakan Ahmadiyah keluar dari Islam.” Sebab,
mereka memang tidak mau. Mereka merasa Islam.

T: Bagaimana bila Ahmadiyah akhirnya dilarang, masjid-masjidnya ditutup?

AR: Itu akan membuat Indonesia jadi negara yang sangat tidak simpatik.

T: Apa yang akan Anda lakukan?

AR: Ya, saya tidak setuju saja. Wong saya cuma rakyat biasa.

T: Siapa yang untung dengan karut-marut persoalan Ahmadiyah?
Yang untung yang tidak senang Indonesia tenteram.

__._,_.___

Robertus Robet

Kandidat Doktor Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Struktur kekuasaan Indonesia kontemporer didominasi oleh persilangan dua logika dasar: pertama, ekonomi kapitalis yang makin telanjang di satu sisi, dan kedua, gaya hidup beragama yang makin marak di sisi yang lain. Hasil dari persilangan ini adalah suatu bangunan imperatif yang akan berbunyi: “Nikmati kapitalisme sepuas-puasnya, tapi beragamalah sedalam-dalamnya. ”
Secara behavioralis, kombinasi ini ditunjukkan dalam postur pemerintahan sekarang, yang didominasi para saudagar, ekonom anjuran IMF di satu sisi berdampingan dengan para politisi dari partai agama dengan ide anti-Barat yang relatif kencang di sisi yang lain. Di wilayah lain, secara kultural, kenyataan ini dikonfirmasikan melalui pujian Presiden terhadap film Ayat-ayat Cinta yang laris itu. Film yang menggambarkan secara persis kombinasi logika kapitalisme (nikmati dunia/cinta romantik sebesar-besarnya) di satu sisi dan gaya beragama di sisi lain. Bagaimana perselingkuhan logika kapitalisme dan agama ini dijelaskan?
Perselingkuhan kapitalisme dan agama sudah berlangsung sejak lama dan menjadi perhatian dari berbagai pemikir. Menurut Weber, Protestanisme mengajarkan “Bekerjalah sekuat tenaga, tapi nikmati hasilnya sesedikit mungkin.” Summum Bonum dari etika ini dijabarkan Weber dengan “the earning of more and more money, combined with the strict avoidance of all spontaneous enjoyment of life” (Weber, 1968 dalam Lemert, hlm. 100). Ini yang disebutnya dengan Asketisisme Protestan yang merupakan inti logika kapitalisme. Di sini kerja, penikmatan dunia, dan agama berkorelasi. Walau demikian, di dalam Weber, korelasi itu berjalan secara terbalik: maksimalitas kapitalisme hanya mungkin direguk apabila diikuti dengan represi atas penikmatannya. Di sini represi atas kenikmatan bukan hanya memberikan efek akumulasi bagi kapital, tapi sekaligus juga memberikan aura transendental terhadap kapitalisme.
Sebelumnya, di dalam Marx, kombinasi kerja dan kenikmatan ini dipisahkan dalam jurang antagonisme kelas. Kerja identik dengan kelas buruh yang terdegradasi hidupnya, sementara kenikmatan (yang merupakan implikasi dari kerja buruh) direguk sebagai pampasan dan dinikmati secara monopolistik oleh kelas kapitalis. Akibatnya, logika yang berlaku di sini adalah “buruh bekerja sekuat-kuatnya, pemilik modal menikmati sepuas-puasnya” . Sebagai kompensasi dari proses perampasan ini sekaligus sebagai jembatan dari jurang antagonisme itu diproduksi ideologi entah dalam bentuk agama-agama, atau bisa juga dalam bentuk seni-budaya. Dengan demikian, apabila di dalam Weber agama didefinisikan dalam hubungan yang transendental terhadap kapitalisme, di dalam Marx agama didefinisikan bersifat instrumental terhadap kapitalisme.
Walaupun demikian, meski berbeda dalam hal sudut pandang, di sini penalaran Weber dan Marx secara menarik bisa bertemu dalam suatu hubungan pendek: keduanya sama-sama melihat bahwa agama memiliki hubungan fungsional terhadap kerja kapitalisme. Bedanya, pada Weber hubungan itu didefinisikan dan dirayakan secara positif, sementara pada Marx dikritik dan didefinisikan sebagai negatif.
Lepas dari daya tarik dan akurasi analisis dari kedua pemikir di atas, logika ideologi kapitalisme kontemporer beroperasi secara sangat berbeda dan lebih kompleks jika dibandingkan dengan kapitalisme industri awal. Apabila pada Weber, kerja atau penderitaan didahulukan sebagai prasyarat bagi kenikmatan, maka kapitalisme sekarang justru bekerja dengan terlebih dulu menganjurkan kenikmatan, baru kemudian menandaskan kewajiban kerja. Ini yang di dalam filosofi Lacanian diringkas dalam satu kata: ENJOY! yang kebetulan merupakan petikan dari salah satu ujung tombak simbol komoditas global kapitalis paling dahsyat zaman kita, Coca-Cola. Nikmati, tapi nikmati dalam perintah.
Di dalam Lacan, mekanisme ini dijelaskan melalui konsep jouissance. Jouissance sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai enjoyment, akibatnya sering kali salah dimengerti karena diartikan semata-mata sebagai kenikmatan. Padahal, menurut Lacan, jouissance pertama-tama harus dilihat sebagai ekses dan kehilangan akibat tercerainya persatuan ibu-anak setelah anak mulai membentuk atau menemukan egonya. Jouissance adalah kenikmatan yang dicari sekaligus digerakkan sebagai kompensasi dari kehilangan permanen kenikmatan asali anak dalam kandungan ibu. Dengan demikian, jouissance adalah kenikmatan, tapi kenikmatan akibat kehilangan. Karenanya, di dalamnya sekaligus ada rasa sakit.
Dengan demikian, di sini kenikmatan itu dicari, ditemukan, tapi dengan segera hilang. Manusia hidup, tumbuh, dan dewasa dalam siklus hasrat-kehilangan ini. Kenyataan ini menghasilkan suatu kesimpulan yang fundamental, yakni bahwa dengan itu manusia tidak lebih adalah sebuah bidang kosong. Ia mencari, menemukan, sejenak merasa puas untuk kemudian kecewa lalu mencari-cari lagi. Persis ketika orang minum Coca-Cola, diminum, segar sejenak, untuk kemudian semakin merasa haus menjadi-jadi.
Logika jouissance ini secara tepat menjelaskan korelasi atau hubungan pendek antara logika kapital dan logika cara beragama kontemporer. Sementara pada kapitalisme yang bekerja adalah logika “semakin untung digandakan, bukan semakin cukup si kapitalis, justru semakin kurang dan semakin serakah mereka”. Logika yang sama terjadi di dalam cara beragama modern: “semakin perintah dan larangan dipatuhi, orang bukan makin lega, malah justru makin membuncah gelisah dalam rasa dosa dan bersalah”. Di sini baik kapitalisme maupun agama sama-sama bekerja dengan ambisi memimpin dan mengisi ruang kosong permanen subyek itu.
Akibatnya, pergeseran dalam sistem komando mental (super ego) menjadi tidak terhindarkan: yang semula ditafsirkan dan bersifat menjaga dan menghalangi hasrat berubah justru menjadi pendorong hasrat. Pada mulanya ia memerintah dengan “melarang”, berubah menjadi memerintah dengan membujuk, menganjurkan dan merayu. Contoh yang paling unik dan halus dari mekanisme ini bisa ditemukan dalam beragam komoditas baru yang menawarkan kenikmatan sekaligus pengamannya: Coca-Cola tanpa coke, kopi tanpa kafein, bir tanpa alkohol, perang tanpa perang, poligami tanpa poligami. Semuanya searah dengan mekanisme politik kepura-puraan baru seperti perang tanpa perang, neoliberalisme berbarengan dengan paket kesalehan. Di titik ini, hasil akhirnya adalah surplus modal berubah menjadi surplus kenikmatan. Reproduksi surplus ini yang terus dipertahankan, karena dari sinilah kekosongan baru ditangguk supaya bujukan komoditifikasi bisa terus disuguhkan.
Persilangan mental semacam inilah yang kiranya menjadi modus operandi perilaku politik dan sosial. Ini bisa dilihat secara makin jelas dalam berbagai fenomena kepolitikan belakangan ini, seperti berkolaborasinya politik agama dengan unsur infotainment dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah, bahkan pada propaganda politik di tingkat nasional. Ini pula yang kiranya dibaca dan dijadikan rujukan bagi orang-orang di seputar kepemimpinan politik imagologis Yudhoyono yang mendorongnya untuk setelah menonton film Ayat-ayat Cinta merasa perlu menonton lagi film Kun Fayakuun. Di sini bioskop yang sebelumnya bagi kalangan tertentu sering kali diharamkan– karena identik dengan tempat hiburan–justru jadi tempat “pensucian” yang diharapkan dapat mendatangkan simpati politik dan dukungan.

Koran Tempo

Sukabumi, akhir April 2008, serombongan orang menyerang dan merusak masjid
dan komunitas Ahmadiyah. Main hakim sendiri dan anarkhisme di dalam negara
yang memiliki konstitusi jelas, memperlihatkan ketidak mampuan penyelenggara
negara dalam menegakkan konstitusinya sebagai negara sekuler.

Perbedaan dengan sekelompok orang, tidak berarti memberi legitimasi
menghakimi apalagi menghukum dan bertindak anarkhis. Saya khawatir,
anarkhisme menggejala disegala segi kehidupan bangsa ini. Mulai dari hal
kecil, senggolan lalulintas, sampai pilkada atau apapun yang pada dasarnya
bentuk pemaksaan kehendak. Anarkhis yang merasuk ke dalam agama selalu
bermula dari perbedaan pemahaman, yang masih memerlukan argumentasi yang
panjang.

Kenapa jadi anarkhis? Apakah bangsa ini sudah sedemikian kerdilnya, seperti
anak kecil yang marah kalau terusik? Apakah menjadi anarkhis karena tidak
punya nurani? Apakah menjadi anarkhis karena ingin melanggar aturan? Atau
apakah menjadi anarkhis karena tidak menggunakan pikiran? Lebih mendasar dan
yang paling parah adalah bangsa ini sejak kecil tidak dididik untuk
berargumentasi, sehingga setiap masalah diselesaikan dengan otot bukan
dengan otak.

Jangan sampai kita sengaja di “isengi” oleh bangsa lain untuk memancing
kemarahan kita, yang kemudian mereka tertawa dibalik itu. Seperti hal nya
kita diusik masalah Reog Ponorogo yang membangkitkan kemarahan luar biasa
sampai demo ke Kedutaan Malaysia. Alangkah indahnya jika dari kecil
anak-anak mulai dididik untuk berargumentasi, sehingga lebih mendahulukan
otak dan kalau marah pun akan marah secara proposional. Semoga.

Salam

Baca dulu;
Komentar;
Ahmadiyah boleh-boleh saja dibilang murtad atau keluar dari garis Islam yang sebenarnya, karena kelompok ini dibilang mengakui Nabi terakhir selain Nabi Mohammad Saww. Itu pun kalo benar demikian.
Hal yang dipertimbangkan dalam fatwa MUI, apakah MUI berhak mengeluarkan perintah atau instruksi bahwa pemerintah harus menyetop ajaran Ahmadiyah. Say pikir itu sudah diluar wewenang MUI. MUI boleh saja menyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah itu  sesat mengingat badan fatwa. Untuk eksekusi dengan menyatakan bahwa Ahmadiyah itu harus dilarang, saya pikir itu adalah langkah di luar wewenang MUI.

Nomor : 130/PU/E/04/ 08
Jakarta, 30 April 2008 M

PERNYATAAN
HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Tentang
“Anarkisme Terhadap Ahmadiyah”

Dalam beberapa hari terakhir, terjadi tindak anarkisme atau kekerasan
terhadap bangunan milik Ahmadiyah, di antaranya di desa Bojong Asih
Kecamatan Parakan Salak, Sukabumi. Terhadap kejadian ini, Hizbut Tahrir
Indonesia menyatakan:

1. Menolak tindakan anarkisme atau kekerasan terhadap Ahmadiyah, karena
tindakan anarkisme atau kekerasan ini tidak akan menyelesaikan masalah.
Sebaliknya, akan menguntungkan Ahmadiyah dan para pendukungnya, untuk
kemudian digunakan meraih simpati dan dukungan. Penyelesaian yang tepat
adalah pemerintah harus segera mengeluarkan keputusan untuk melarang dan
membubarkan Ahmadiyah. Selanjutnya, mengajak Jamaah Ahmadiyah untuk
kembali kepada agama Islam yang benar (rujuk ilal haq). Tapi, Hizbut
Tahrir Indonesia bisa memahami bila ada sebagian anggota masyarakat
bertindak sendiri, yang mungkin karena didorong oleh rasa kesal yang
memuncak melihat kelompok yang sudah dinyatakan sesat oleh Bakorpakem,
namun nyatanya tetap bebas bergerak. Tindakan anarkis seperti itu
mestinya tidak perlu terjadi, bila aparat pemerintah bertindak tegas
dengan segera melarang dan membubarkan Ahmadiyah.

2. Oleh karena itu, diserukan kepada pemerintah untuk bersegera
mengeluarkan keputusan melarang dan membubarkan Ahmadiyah. Dasar untuk
dikeluarkannya keputusan itu sesungguhnya sudah lebih dari cukup.
Bakorpakem pada 16 April 2008, berdasarkan hasil pemantauan selama 3
bulan terhadap Ahmadiyah, khususnya berkenaan dengan 12 poin yang
dikeluarkan oleh PB Jamaah Ahmadiyah Indonesia bulan Januari lalu, telah
menyatakan bahwa Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam. Ini mempertegas
rekomendasi Tim Pakem tahun 2005 untuk pemerintah melarang Ahmadiyah.
Sebelumnya, di tahun 1980 dan 2005 MUI, bahkan juga OKI dalam Majma’
fiqh al Islami di Jeddah tahun 1985, telah mengeluarkan fatwa tentang
kesesatan Ahmadiyah. Karena itu, pemerintah tidak perlu ragu terhadap
keputusan tersebut.

3. Menyerukan kepada pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat luas
untuk mewaspadai kemungkinan adanya provokasi oleh pihak tertentu yang
mendorong masyarakat untuk bertindak anarkis terhadap Ahmadiyah dengan
tujuan untuk mendiskreditkan Islam dan menimbulkan simpati terhadap
Ahmadiyah.

4. Menyerukan kepada para ulama’, tokoh masyarakat, partai dan
ormas Islam untuk bersatu di barisan Islam, dan tidak berpihak kepada
Ahmadiyah, agar tidak diadudomba untuk kepentingan mereka, dan merugikan
kepentingan Islam dan umatnya.

5. Menyerukan kepada umat Islam untuk sungguh-sungguh berjuang bagi
penerapan syariah dan tegaknya Khilafah yang mampu melindungi kesucian
ajaran Islam dan akidah umat. Karena hanya dengan cara itu sajalah
segala penyimpangan Islam dapat diatasi dengan cara yang tepat dan
kerahmatan Islam bagi sekalian alam (rahmatan lil `alamiin) dapat
benar-benar diwujudkan.

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia
Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796
Email: Ismaily@telkom. net

Kawan-kawan yang budiman,

Ceramah mutakhir Prof. emeritus Bernard Lewis (Princeton University), mungkin bermanfaat bagi yang tertarik isu-isu Orientalisme dan “Middle Eastern and Islamic Studies”.

http://www.asmeasch olars.org/ ASMEAConferenceH ighlights/ tabid/820/ Default.aspx

Beberapa komentar singkat dari ceramah singkatnya itu,

1). Orang Arab/Islam/Turki tidak tertarik dengan peradaban lain, berbeda dengan para Orientalist Eropa. Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab (Turki termasuk) tidak melakukan kajian-kajian luar Peradaban (kecuali penerjamahan filsafat Greek yang kemudian sangat membantu transmisi), dan juga tidak tertarik belajar tentang bahasa dan peradaban yang mereka kuasai (Afrika, Eropa, Asia).

2). Bahasa Arab berkembang semata-mata sebagai bahasa klasikal dan skriptural, seperti halnya Hebrew dan Aramaic, bukan sebagai ‘bahasa modern”, sehingga perkembangannya terbatas, tidak melampaui sebagai bahasa klasik dan skriptural, dan tidak mempengaruhi ilmu pengetahuan modern.

3). Menurut Lewis, ada beberapa hambatan terhadap perkembangan Studi Timur Tengah antara lain: a. postmodernism b. political correctness dan imposed orthodoxies, sehingga kajian Islam yang obyektif tidak berkembang c. multiculturalism

4). Lewis kembali melakukan kritik balik terhadap “Orientalism” ala Edward Said sebagai semata-mata bermotifkan imperialist. Menurut Lewis,Orientalism justru berperan dalam preservasi pengetahuan bangsa lain, penerjemahan, editing, publishing, dan sebagainya. Ada macam-macam Orientalism: philological, theological (classical Orientalism: ada manfaat dan keterbatasan) , polemical (mempertahankan Kristen atas ancaman Islam), indisciplinary approaches (historican, political scientist, etc).

5) Lewis melihat adanya kecenderungan clash of disciplines (historical, political science, theology, etc), padahal mestinya menurut dia harus ada mutual recognition atau (menurut saya “rich fertilization” ).

6). Namun demikian, saya kira, Lewis masih melihat dikotomi Arab/Islam/Turki Usmani dan Erope/Barat sebagai berbeda secara diametral. Sejarah menunjukan kondisi diametral itu. Ada “karakter” historis bangsa Arab yang menyebabkan perkembangan kajian di dunia Arab tidak maju, berbeda dengan bangsa Eropa dan sekarang AS.

7). Lewis kurang/tidak mengakui kompleksitas dunia Islam di masa modern, dan masih melihatnya sebagai identik dengan the Arab world; Lewis tidak menyentuh perkembangan di luar the Middle East, seperti Asia (termasuk Asia Tenggara). Banyak pengkaji dari Asia Tenggara mulai memberikan perhatian terhadap Middle East, Eropa, dan Amerika, sehingga interaksi peradaban makin berkembang, dan dikotomi Timur-Barat mengalami pengaburan yang cukup berarti dalam tradisi ilmiyah.

8). Pendapat Lewis ini “melengkapi” pendapat postmodernist seperti Edward Said, seperti kita tahu. Ada semacam self-reflection dalam ceramah Lewis mengenai Orientalism dan kritik terhadap pembacaan post-modernist seperti Said yang melihat Orientalism semata-mata berkonotasi dominasi. Namun, tesis inti Lewis masih tetap: antagonisme bangsa dan perabadan Arab (yang identik dengan Islam) dan bangsa/peradaban Eropa (identik dengan Judeo-Christianity)

Selamat mencermati dan berpikir,

Salam,